Oleh: Irsyad Syafar

Sebagian penduduk Yatsrib yang berhaji telah memberikan janji setianya (baiat) kepada Rasulullah Saw. di Aqabah untuk yang kedua kalinya. Konsekwensi dari janji setia ini adalah dukungan penuh kepada Rasulullah Saw. dan dakwahnya. Dukungan penuh itu dalam bentuk pengorbanan harta dan juga jiwa. Persis seperti mereka menjaga istri dan anak-anak mereka sendiri.

Setelah berlangsungnya baiat Aqabah yang kedua tersebut, maka secara otomatis Rasulullah Saw. sudah mempunyai pengikut dan pendukung setia dengan jumlah yang lumayan banyak di kota Madinah. Sekaligus Beliau telah berhasil mendapatkan daerah dan lahan dakwah baru yang siap menampung Beliau dan seluruh pengikutnya yang di Makkah. Bahkan siap juga memberikan jaminan penghidupan dan penjagaan dari berbagai gangguan dan ancaman.

Capaian dakwah yang luar biasa ini merupakan anugerah Allah yang sangat besar. Terutama ditengah situasi dan suasana Makkah yang sudah sangat tidak kondusif untuk mendakwahkan Islam. Maka Rasulullah Saw. memberikan izin kepada para sahabat untuk berhijrah ke Madinah. Tentu hijrah ini juga punya tantangan dan resiko yang tidak sederhana. Pertama, harus dilaksanakan secara rahasia. Kedua, tidak bisa membawa banyak harta. Ketiga, harta yang ditinggalkan akan menjadi rampasan bagi kafir Quraisy. Keempat, jarak tempuh yang sangat jauh menuju Madinah.

Secara bertahap para sahabat mulai mempersiapkan diri dan keluarganya untuk hijrah ke Madinah. Masing-masing memantau situasi yang terbaik untuk berangkat dengan selamat keluar Makkah. Semuanya melakukan hijrah dengan sangat rahasia. Sebab mereka harus waspada dengan kafir Quraisy yang tidak akan membiarkan hijrah ini sukses. Kecuali satu-satunya yang hijrah secara terang-terangan adalah Umar bin Khattab.

a. Hijrahnya Abu Salamah

Abu Salamah adalah orang yang pertama hijrah ke Madinah. Awalnya ia akan berangkat bersama istri dan anaknya. Namun kemudian para iparnya (pihak istrinya) tidak membiarkan ia pergi membawa keluarganya. Meraka tahan istrinya Ummu Salamah sehingga tidak dapat berangkat bersama suaminya. Lalu mereka rebut anaknya dari tangan Abu Salamah. Sampai-sampai tangan anaknya patah karena saling berebut dan tarik menarik dengan pihak keluarga Abu Salamah.

Akhirnya Abu Salamah hijrah seorang diri ke Madinah. Sementara istrinya tinggal dalam keadaan penuh duka. Tiap hari ia menangis pagi sampai petang. Hampir setahun lamanya ia dalam kondisi seperti itu. Sehingga kesehatannya menjadi buruk. Karena prihatin dengan kondisi Ummu Salamah, pihak keluarganya mengizinkannya pergi mengikuti suaminya ke Madinah. Awalnya ia berangkat sendirian saja menempuh perjalanan hampir 500 km. Namun sesampai di daerah Tan’im, ia bertemu dengan sahabat Utsman bin Thalhah, yang kemudian mengantarkannya sampai ke Quba’. Di sana ia kemudian bisa bertemu kembali dengan suaminya Abu Salamah.

b. Hijrahnya Shuhaib bin Sinan Ar Ruumy

Shuhaib sebenarnya bukanlah orang asli Makkah dan bukan orang Arab. Ia berasal dari Persia karena ayahnya bernama Sinan dari Bani Tanim di Ubullah negeri Persia. Tapi ia lama menjadi budak kerajaan Byzantium dan menetap di negeri Romawi. Sehingga namanya dinisbahkan kepada negeri Romawi. Ia datang dan hidup di Makkah sebagai seorang budak. Lalu ia merdeka dan berbisnis di kota Makkah sampai menjadi seorang saudagar kaya.

Ketika ia hendak pergi hijrah ke Madinah, orang-orang Quraisy menghadangnya. Mereka katakan, “Engkau datang ke sini dalam status budak, miskin dan hina. Lalu hartamu menjadi banyak karena bersama kami. Sekarang engkau pergi begitu saja membawa harta dan dirimu? Demi Allah itu tidak akan terjadi.” Begitu sikap mereka mengancam Shuhaib Ar Ruumy. Sehingga akhirnya Shuhaib melakukan negosiasi dengan mereka. Shuhaib berkata, “Bagaimana kalau aku tinggalkan untuk kalian seluruh hartaku, dan kalian biarkan aku pergi?” Mereka menjawab, “Baik, kami setuju.” (Sirah Ibnu Hisyam: 1/477).

Maka Shuhaib dapat berangkat hijrah dengan selamat, tanpa diganggu oleh kafir Quraisy. Namun sebagai harganya seluruh hartanya tinggal di Makkah menjadi milik Quraisy. Ketika sampai berita itu kepada Rasulullah Saw., Beliau memuji Shuhaib dan berkata, “Sungguh beruntung Shuhaib, sungguh beruntung Shuhaib.” (HR Ahmad).

c. Hijrahnya Umar bin Khattab

Adapun Umar bin Khattab berhijrah tidak seperti sahabat yang lain. Beliau dengan keberanian dan posisinya di kota Makkah, melakukan hijrah secara terang-terangan. Sebelum berangkat hijrah, Umar menyandang pedangnya. Lalu ia pergi ke Ka’bah melakukan thawaf. Sementara itu para pemuka Quraisy sedang berada di halaman Ka’bah. Mereka memantau gerak-gerik Umar.

Setelah melakukan shalat dua rakaat, Umar berkata kepada para pemuka Quraisy, “Buruklah wajah kalian semua. Siapa yang ingin ibunya kehilangan anak, atau anaknya menjadi yatim, atau istrinya menjadi janda, silakan temui saya dibalik lembah ini.” Maka tidak satupun dari Quraisy berani menghadang hijrahnya Umar. (Usdul Ghabah fi Makrifatish Shahabah: 4/58).

Dalam perjalanan, Umar bertemu dengan Ayyasy bin Abi Rabi’ah yang sudah berjanji dengan Hisyam bin Al ‘Ash di sebuah tempat. Namun Hisyam tidak jadi hijrah karena masih tertahan di Makkah. Kemudian mereka memasuki Madinah dalam rombongan sekitar 20 orang dari Muhajirin.

Ini beberapa bentuk hijrah para sahabat ke kota Madinah. Umumnya mereka berangkat secara rahasia dan terpisah-pisah. Dalam jangka waktu sekitar dua bulan lebih setelah baiat Aqabah yang kedua, sudah hampir semua kaum muslimin Makkah hijrah ke Madinah. Yang tersisa adalah Rasulullah Saw., Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib dan sebagian kecil yang masih ditahan oleh kafir Quraisy.

Abu Bakar sudah bersiap diri untuk hijrah. Namun kemudian Rasulullah Saw. menahannya: “Tunggu dulu wahai Abu Bakar. Aku berharap segera mendapat izin dari Allah untuk berhijrah.” Pernyataan Rasulullah Saw. ini dipahami oleh Abu Bakar bahwa Beliau hendak hijrah bersama Abu Bakar, dan masih menunggu izin dari Allah Swt. Maka Abu Bakar menjawab, “Apakah Engkau menginginkan itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Betul.” Maka Abu Bakar menahan dirinya untuk hijrah. Akan tetapi ia tetap menyiapkan perbekalan dan dua tunggangan untuk hijrah bersama Rasulullah Saw.

Adapun Quraisy mulai menyadari bahwa para sahabat Nabi sudah tidak ada lagi di Makkah. Mereka sudah pindah ke negeri lain di bawah lindungan suku Aus dan Khazraj. Mereka geger dan guncang dengan kenyataan ini. Tidak pernah mereka menyangka bahwa perkembangan dakwah Nabi Muhammad Saw. akan secepat ini. Padahal mereka telah melakukan intimidasi dan penindasan yang sangat keras. Namun ternyata kepribadian Rasulullah Saw. sangat besar pengaruhnya kepada orang lain.

Keberadaan kaum Muslimin di Yatsrib akan menjadi ancaman serius bagi ajaran berhala (syirik) kaum Quraisy yang selama ini telah menjadi pusat agama bangsa Arab. Sebelumnya Raja Abrahah sudah membuat tempat peribadatan besar untuk menyaingi Makkah. Dan mengerahkan pasukan bergajah yang kuat untuk meruntuhkan Ka’bah sebagai magnet kedatangan bangsa Arab. Namun semua itu gagal. Sekarang agama Tauhid mulai mendapat tempat di Yatsrib. Daya tarik Makkah akan berkurang.

Di samping itu, posisi strategis kota Yatsrib yang terletak di antara jalan bisnis mereka dari Makkah ke negeri Syam, menjadi ancaman yang serius bagi eksistensi jangka panjang Quraisy. Nilai bisnis mereka selama setahun bisa mencapai seperempat juta dinar emas. Bila jalur bisnis mereka ini terancam maka akan memberikan efek negatif pada perekonomian mereka di Makkah. Ancaman ini betul-betul menjadi momok bagi Quraisy. Mereka harus mengambil langkah-langkah strategis untuk memadamkan cikal-bakal peradaban baru ini.

Bersambung…