Oleh: Ustadz H. Irsyad Syafar, Lc., M.Ed.

Para ulama semuanya sepakat bahwa puasa wajib dilaksanakan bila anak sudah memasuki usia baligh. Hal ini berlaku untuk semua ibadah dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاثَةٍ : عَنْ الْمَجْنُونِ الْمَغْلُوبِ عَلَى عَقْلِهِ حَتَّى يفِيقَ ، وَعَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ ، وَعَنْ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ. رواه أبو داود.

Artinya: “Diangkatkan pena (tidak berdosa) dari tiga golongan: Dari orang gila yang hilang akal sampai ia sadar, dari orang yang tertidur sampai ia terbangun, dan dari anak-anak sampai ia mimpi (baligh).” (HR Abu Daud).

Dari hadits ini maka anak-anak terbebas dari kewajiban (taklif) ibadah sampai ia memasuki usia baligh. Yaitu bila sudah ada salah satu tanda-tandanya seperti: mimpi basah, datang haid, atau maksimal usia 15 tahun.

Maka dengan demikian anak-anak baru wajib puasa pada usia baligh, atau sekitar usia 12-15 tahun. Lalu timbul pertanyaan, pada usia berapakah anak-anak dapat kita ajak berpuasa?

Secara dalil, tidak ada teks yang tegas dan jelas menyebutkan usia mulai anak diajak berpuasa. Yang ada dalilnya adalah terkait ibadah shalat. Dimana Rasulullah SAW telah bersabda:

مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ ) صححه الألباني في صحيح أبي داود .

Artinya: “Perintahkan anak-anak kalian untuk menunaikan shalat saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka saat mereka (jika tidak shalat) berusia sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur di antara mereka.” (HR. Abu Daud).

Dari hadits ini Rasulullah SAW memerintahkan para orang tua agar menyuruh anaknya untuk shalat saat usia 7 tahun. Menyuruh disini bukanlah perintah wajib. Akan tetapi mengandung makna mengajak, mengajar dan memotivasi mereka semenjak usia 7 tahun. Tanpa ada tekanan ataupun hukuman.

Kemudian bila pada usia 10 tahun masih tidak shalat, maka orang tua dibolehkan untuk memukul anak tersebut. Tetapi ini pukulan yang mendidik. Agar si anak menyadari pentingnya shalat dan terbiasa mengerjakannya. Bukan pukulan yang mencederainya. Apalagi pada usia tersebut shalatpun belum wajib baginya.

Nah, terkait dengan puasa, karena merupakan sebuah ibadah wajib yang sama wajibnya dalam Islam dengan shalat, maka hadits tersebut bisa dijadikan acuan sebagai standar usia anak mulai diajak dan diajar berpuasa. Yaitu pada usia 7 tahun. Dan tidak mungkin lebih cepat dari shalat. Sebab, puasa lebih berat dari pada shalat. Anak mungkin sanggup shalat tapi tidak sanggup puasa.

Para ulama menyebutkan bahwa usia yang pas untuk memulai mengajak dan melatih berpuasa adalah ketika usia anak sanggup untuk berpuasa. Dan itu relatif, tergantung kekuatan fisik masing-masing anak.

Imam Al Auza’i mengatakan bahwa apabila anak sanggup berpuasa selama 3 hari berturut-turut, dan dia tidak mengalami lemah dan loyo, maka sudah boleh disuruh berpuasa sebulan Ramadhan. Sementara itu, Ishaq mengatakan, “Aku menyukai bila anak yang telah menginjak usia dua belas tahun diharuskan berpusa supaya dia terbiasa.” (dari kitab Fathul Bari, dan ‘Umdatul Qari)

Imam Ibnu Qudamah cenderung memilih usia 10 tahun. Karena pada usia tersebut shalat sudah sangat ditekankan bagi seorang anak. Maka puasa juga sejalan dengan shalat. Hanya saja puasa butuh kemampuan fisik. (Kitab Al Mughni).

Imam Al Kharqi berpendapat bahwa bila anak sudah sanggup berpuasa sebelum usia baligh, maka sudah harus disuruh puasa. Dan boleh dipukul (yang tidak menyakiti) bila tidak berpuasa, seperti yang tidak shalat pada usia 10 tahun. Sejalan dengan pendapat ini, ulama-ulama besar semisal: Al Hasan, Ibnu Sirrin, Qatadah dan Syafi’i. (Kitab Al Mughni).

Imam An Nawawi menyatakan bahwa jika anak sudah sanggup puasa, maka pada usia 10 tahun sudah disuruh berpuasa. Dan boleh dipukul bila tidak berpuasa, sama dengan shalat. Agar ia menjadi terbiasa dan terlatih. (Kitab Al Majmuk).

Dalam madzhab Syafi’i ada yang berpendapat anak mulai disuruh berpuasa pada usia 7 tahun. Ada juga yang berpendapat pada usia 10 tahun. Imam Ahmad juga berpendapat pada usia 10 tahun.

Intinya, sebelum usia baligh, orang tua harus melatih, mengajak, mengajar dan membiasakan anaknya untuk berpuasa. Sebagai mana perbuatan sahabat ketika Rasulullah SAW menyuruh mereka puasa ‘Asyura (sebelum diwajibkan puasa Ramadhan), mereka juga mengajak anak-anak berpuasa:

فكنا بعد ذلك نصومه ونصوّمه صبياننا الصغار منهم. ونذهب إلى المسجد فنجعل لهم اللعبة من العِهْنِ. فإذا بكى أحدهم من الطعام أعطيناها إياه، حتى يكون عند الإفطار.

Artinya: “Maka kami setelah itu berpuasa hari tersebut (‘Asyura) dan kami ajak anak-anak kami yang kecil juga berpuasa. Kami juga pergi ke masjid, dan kami buatkan mainan untuk mereka dari kulit. Bila ada diantara mereka yang menangis, maka kami berikan mainan tersebut, sampai waktu berbuka.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kesimpulannya, orang tua mesti melatih dan mengajak anak-anaknya berpuasa semenjak sebelum baligh. Dan puasa itu menjadi sunnat bagi mereka. Adapun usia tercepat untuk menyuruhnya, dari kebanyakan ulama adalah usia 7 tahun. Tidak ada yang berpendapat lebih cepat dari itu.

Sebagian ayah bunda, ada yang bersemangat agar anak-anaknya berpuasa pada usia 6 atau 5 tahun. Bahkan ada juga yang di usia 4 tahun. Sesungguhnya ini adalah terlalu cepat. Tentulah dalam masalah ibadah ini tidak ada yang lebih bijak dari pada Rasulullah SAW. Beliau dalam urusan ibadah shalat yang jauh lebih ringan dari pada puasa, baru mulai menyuruh anak pada usia 7 tahun. Apalagi ibadah puasa yang lebih berat.

Tentu mungkin masih boleh dikecualikan anak yang sudah usia 6 tahun lebih, dan fisiknya tampak sehat dan kuat. Dan dengan keinginannya ia meminta untuk (mencoba) berpuasa. Ia meminta dibangunkan untuk makan sahur. Dan ia sanggup untuk melakukan itu. Maka orang tua tentu boleh mengakomodasi permintaan anak tersebut. Bukan muncul dari perintah ayah ataupun bundanya.

Wallahu A’laa wa A’lam.