Oleh: Ust. Kamrizal, Lc., MA

Takut mati? Toh ia datang juga. Tak siap mati? Toh, Siap tak siap, ia kan tiba juga..lalu … Apakah itu bermakna kita pasrah saja menerima kedatangannya?….menyerah pada nasib dan takdir yang telah ditetapkan-Nya?

Kenyataan bahwa kematian pasti datang, dan keyakinan bahwa bila waktunya datang tak bisa diundur, sebagaimana tak bisa pula dipercepat, tidak lah boleh dimaknai bahwa kita tak perlu berbuat apa-apa untuk menjaga diri dari kebinasaan dan kecelakaan.

Tak perlu berobat, toh kalau ajal datang, yang mati tetap mati.

Bila ada wabah disuatu tempat, tetap kita kesana, karena wabah itu sudah ada alamatnya, kalau bukan kita alamat nya maka kita tidak akan kena wabah.

Kalau perang berkecamuk, kita tetap santai saja tak perlu menghindar, karena setiap peluru sudah ada namanya.

Apakah itu artinya, kita cuek dg masalah kesehatan? Tak peduli dg makanan, lingkungan, dan masa bodoh dengan keamanan dan keselamatan?

Hidup seenaknya tak mau tau dg aturan, abai dengan rambu-rambu dan larangan, dengan alasan belum ajal berpantang mati?.

Pola hidup pasrah, menyerah, tak ada usaha dan upaya, tak ada ikhtiar, dan mengabaikan doa.. ini jelas bukan ajaran Islam.

Islam justru mewajibkan kita berusaha, berikhtiar sekuat tenaga. Islam memerintahkan untuk makan makanan yang halal dan sehat. Agama menganjurkan berolah raga dan berlatih, ber berobat ketika sakit, dan bahkan mengajarkan doa keselamatan dan kesembuhnya, doa terhindar dari bencana dan kejahatan.

Islam melarang melakukan apapun yang membahayakan jiwa dan raga. Bahkan syariat Islam diturunkan untuk melindungi, diantaranya jiwa dan nyawa.

Islam melarang menceburkan diri dalam kehancuran dan kebinasaan, melaknat pembunuhan, juga melaknat bunuh diri, menyiksa diri, menganiaya diri dan sebagainya.

Lihatlah Rasulullah Saw memerintahkan umatnya lari dari penyakit menular, sebagaiman lari dari binatang buas.

Jika suatu daerah tertentu terjangkit penyakit menular, maka Rasulullah SAW melarang siapapun memasukinya, dan yang berada di derah itu dilarang keluar dari sana.

Beliau juga memakai baju besi ketika berperang. Para sahabat berlatih ketangkasan dan beladiri sebelum memasuki perperangan.

Umar bin Khatab, bahkan membatalkan kunjungan ke Syam, ketika daerah itu terserang wabah tho’un yang menular dan mematikan.

Perhatikanlah tauladan Rasulullah SAW dan sahabatnya dalam beikhtiar, lihatlah bagaimana salafussalih dan para ulama melakukan persiapan maksimal dan upaya ootimal sebelum melakukan segala sesuatu. Lalu ikhtiar itu mereka sempurnakan dg optimalisasi ibadah, dan kebajikan. Meningkatkan sedekah dan kedermawanan. Kemudian mereka mengadu ke langit, berdoa pada Allah dg penuh keikhlasan dan pengharapan.

Inilah sikap yang benar, Inilah pemahaman yang betul.

Setelah semua upaya yang maksimal itu, dan doa yang tulus itu, mereka berserah diri pada takdir dan ketentuan Allah dengan penuh keyakinan, dan kesebaran.

Inilah yang dimaksud dengan TAWAKKAL itu.