Oleh: Ust. Kamrizal Syafri, Lc., MA

Allah berfirman: ” Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan/mengalami kematian” (Ali Imran 185).

Mati ada perkara biasa dan lumrah. Karena hampir tiap saat kita mendengar berita tentang kematian. Nyaris tiap sebentar kita dapat kabar ditinggal oleh orang yang kita kenal dan tidak kita kenal, dan itu telah berlangsung sejak nabi Adam, sedang dan akan selalu begitu.

Bukankah kita sudah biasa melepas dan melihat satu persatu keluarga, teman, tetangga mendahului kita.

Tapi kematian, juga perkara dahsyat dan luar biasa. Dahsyat karena ia ketetapan Allah yang tak bisa dihindari oleh siapapun. Orang kaya mati, orang miskin mati, raja raja mati, orang biasa mati, orang baik mati, orang-orang jahat mati. Bahkan orang yang sombong mengaku dirinya Tuhan, pencipta alam semesta, semacam Fir’aun, Namruz dan para penentang Allah lainnya, tak kuasa lari dari ketetapan Allah ini. Termasuk orang yang tak beragama dan anti tuhan pun satu persatu semaput dan binasa.

Kematian menjadi perkara luar biasa, karena jika waktunya datang, tak ada nego, tak bisa tawar menawar, dan tak mungkin dianulir. Tak dapat diundur dan tak mungkin dipercepat, apalagi di rescedul ulang.

Kematian tak ada kaitannya dengan usia, bahwa ia berdasarkan siapa yang lebih tua, karena bahkan bayipun juga mati. Tidak disebabkan oleh virus atau sakit, karena dokter yang mengobati dan segar bugar pun bisa mati, sementara pasien yang komplikasi yang bertahun tahun diobatinya sampai saat ini masih hidup.

Kematian adalah pemutus kelezatan (dunia), tapi juga pintu gerbang menuju kenikmatan akhirat (bagi hamba Allah yang shaleh).

Maka takut mati, tidak bermanfaat apa apa, karena toh, ia tetap datang bila masanya tiba

Tak siap mati juga tak berfaedah sama sekali, karena siap tak siap, ia akan terjadi juga, bila ajalnya sampai.

Takut mati hanya bermanfaat, jika itu membuat kita mempersiapkan diri dan bekal menghadapinya. Dan persiapan terbaik adalah taqwa.

Takut mati sangat berfaedah, jika karenanya kita meningkatkan iman dan amal shaleh. Dan jika ia membuat kita berbenah menjadi lebih baik, lebih santun, peduli, penyayang, Arif, tawaduk, dermawan dan sebagainya.

Dan jika kematian itu terjadi “disebabkan” virus Corona, kita mendokan, bahwa virus itu telah menyebabkan penderitanya Allah ampuni dosa dosanya, Allah beri pahala sabar, dan Allah karuniakan padanya husnul khatimah.

Bagi yang selamat dan sembuh dari Corona, kita ucapkan alhamdulilah, semoga itu berarti ada kesempatan baginya untuk memgisis hidup lebih dengan kebaikan dan ketaatan.

Tapi ingat.. banyak yang sembuh dan selamat dari Corona, namun tidak ada satupun yang akan selamat dari kematian..