
Spirit dapat diartikan sebuah semangat, semangat untuk melakukan perubahan atau hijrah. Hijrah adalah melakukan perubahan dari hal buruk menjadi hal baik, dan hal baik menjadi lebih baik. Hijrah dapat dibedakan menjadi dua yaitu hijrah dari segi tempat dan hijrah dari segi manfaat. Hijrah dari segi tempat misalnya di saat kita berpindah tempat dari satu tempat ke tempat yang lain dan kita melakukan perubahan, misalnya dari kampung pergi ke kota kemudian pada saat di kota kita menjadi lebih baik, baik dari segi iman maupun dunia. Sedangkan hijrah dari segi manfaat yaitu melakukan perbaikan lahir batin untuk diri kita sendiri.
Pada program Beranda Perempuan, kerja SIPP FM kerjasama dengan Salimah kota Padang bersama umi Dr. Weti Susanti, M.A. membahas terkait topik spirit mengisi tahun baru Islam 1445 Hijriah. Umi Weti Susanti mengatakan ketika kita berbicara hijrah maka ada pedoman dalam alquran yang menegaskan tentang hijrah, yaitu pada Q.S Al-baqarah ayat 218, Q.S An-nisa ayat 100 dan Q.S Al-hajj ayat 58.
- Q.S Al-baqarah ayat 218 yang artinya “sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang orang yang berhijrah dan berjihad dijalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah dan Allah maha pengampun, maha penyayang”.
Dalam surat al-baqarah menjelaskan bahwa orang beriman yang melakukan perubahan maka akan mendapat rahmat dari Allah SWT.
Adapun ciri-ciri orang yang mendapat rahmat Allah SWT yaitu :
- Gemar melaksanakan ibadah.
- Bersyukur kepada Allah.
- Senang mengucapkan terima kasih.
- Memiliki rasa cinta kepada Allah yang tinggi.
- Q.S. An-nisa ayat 100 yang artinya “Dan barang siapa berhijrah di jalan Allah niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan rasulnya kemudian kematian menimpanya sebelum sampai ke tempat yang dituju maka sungguh pahalanya telah tetapkan di sisi Allah dan Allah maha pengampun maha penyayang”.
Umi Weti Susanti mengatakan ketika kita hijrah atau melakukan perubahan di jalan Allah maka dapat membuka pintu rezeki bagi diri kita. Berikut ciri-ciri orang yang mendapatkan rezeki yang dimaksud dalam surat an-nisa ayat 100 yaitu orang yang gemar bersedekah, orang yang gemar bersyukur, dan orang yang gemar bersholawat.
- Q.S Al-hajj ayat 58 yang artinya, “Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah kemudian mereka terbunuh atau mati sungguh Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah pemberi rezeki yang terbaik”.
Dengan demikian kandungan dalam surat Al hajj ayat 58 yaitu ketika kita berjihad benar-benar kita lakukan di jalan Allah dan jika kita meninggal dunia maka Allah janjikan kepada kita rezeki yang berlimpah di surga nanti.
Berdasarkan surat di atas maka jihad adalah usaha dan segala sesuatu untuk menuju ke jalan Allah dan jihad adalah usaha untuk membela kebenaran di jalan Allah.
Umi weti mengatakan ada beberapa bentuk spirit atau semangat untuk mengisi tahun baru Islam 1445 Hijriyah:
Pertama, dengan menambah ilmu agama. Menambah ilmu agama sangat penting untuk memperbaiki diri kita baik dari yang buruk ke yang baik atau yang baik menjadi lebih baik. Menambah ilmu agama seperti ilmu fiqih, ilmu baca Alquran, ilmu akhlak dan etika.
Kedua, menambah ilmu dunia yaitu sains dan teknologi. Sebagai seorang muslim kita harus bisa memanfaatkan teknologi. Namun pemanfaatan teknologi harus diiringi dengan aturan atau kita harus bisa menggunakan sesuai kebutuhan dan tetap memperhatikan etika dalam Islam. Teknologi jika salah digunakan maka akan berdampak buruk bagi diri kita bukan menjadi sebuah perubahan namun akan menjadi hal yang lebih buruk lagi.
Ketiga, tingkatkan ibadah. Meningkatkan ibadah dapat diawali dengan niat, karena apapun kegiatan yang kita lakukan jika tidak diawali dengan niat maka kegiatan tersebut tidak akan terlaksanakan.
Keempat, perbanyak dzikir dan istighfar. Mungkin berzikir dan istighfar berat diucapkan, namun jika kita lakukan setiap hari maka itu akan menjadi sebuah kebiasaan baik bagi diri kita sendiri.
Kelima, tinggalkan maksiat. Maksiat akan menghancurkan diri seseorang jika kita tidak dapat menjauhkannya. Bagi seorang muslim wajib bagi kita menjaga mata hati dan apapun bentuk yang mendekati maksiat.
Disampaikan oleh: Ibu Dr. Weti Susanti M.A (Kadept. Dakah Salimah Kota Padang)
Narasumber Program Beranda Perempuan Radi SIPP FM Padang