Oleh: Irsyad Syafar

Sekitar usia 4 tahun Muhammad Saw. kembali ke pangkuan Ibunda tercinta. Aminah sang Ibu merawat anaknya dengan penuh cinta. Apalagi anak semata wayang ini tidak lagi mempunyai ayah. Pada usia 6 tahun Aminah mengajak anaknya Muhammad Saw. mengunjungi kuburan ayahnya di Yatsrib (Madinah). Perjalanan cukup jauh mencapai hampir 500 km ini mereka tempuh bersama didampingi oleh budaknya Ummu Aiman dan juga sang Kakek Abdul Muththalib.

Aminah dan anaknya menginap di Madinah selama kurang lebih satu bulan. Kota Yatsrib juga merupakan kampung dari Ibu Abdul Muththalib yang bernama Salma. Sehingga Aminah serasa berada di tengah keluarganya sendiri. Setelah satu bulan, Aminah dan rombongan kembali ke Makkah. Dalam perjalanan pulang tersebut Aminah mengalami sakit dan kemudian meninggal di Abwa’ dan dikuburkan di sana.

Abdul Muththalib melanjutkan perjalanan sampai ke Makkah membawa cucunya yang mulia. Kecintaan dan kasih sayangnya kepada cucunya ini semakin bertambah dengan kamatian sang Ibu. Lengkaplah sudah, Muhammad Saw. telah berstatus yatim piatu, tiada berayah tiada beribu. Sehingga Abdul Muththalib tak pernah membiarkan cucunya sendirian. Ia resmi menjadi pengasuh bagi cucunya itu. Perhatian dan kasih sayangnya melebihi kepada anak-anak kandungnya sendiri. Sampai-sampai Rasulullah dibawa duduk disampingnya di tempat khusus (dipan) yang tak seorangpun boleh duduk di sana di dekat Ka’bah.

Ketika datang ke majelis Kakeknya di depan Ka’bah, Muhammad kecil Saw. duduk di pangkuan kakeknya. Ketika paman-pamannya hendak memindahkannya, Sang kakek berkata kepada mereka anak-anaknya (paman-paman Rasulullah): “Biarkan anakku ini, demi Allah sesungguhnya dia akan memiliki kedudukan yang agung.” Lalu Nabi Muhammad duduk disampingnya di tempat duduk khusus sang kakek. Ia mengelus-elus punggung cucunya itu dan merasa bahagia bersamanya.

Pada usia Muhammad Saw. 8 tahun lebih 2 bulan 10 hari, Abdul Muththalib meninggal dunia. Sebelum meninggal, dia telah berpesan agar Muhammad Saw. diasuh oleh Abu Thalib saudara kandung ayahnya Abdullah. Dan Abu Thalib mengambil tugas ini dengan sebaik-baiknya. Ia gabungkan Muhammad Saw. bersama anak-anaknya yang cukup banyak. Sebenarnya kehidupan Abu Thalib tidak terlalu berkecukupan. Anaknya juga banyak, diantaranya Thalib, ‘Uqail, Ja’far, Ali, Fakhitah dan Jumanah.

Demi menerima wasiat dari ayahnya Abdul Muththalib dan betapa terhormatnya Muhammad Saw. di mata kakeknya, Abu Thalib melanjutkan pengasuhan Muhammad Saw. Ia muliakan Muhammad Saw. melebihi anak-anak kandungnya sendiri. Karena memang Abu Thalib juga melihat bahwa ponakannya ini memiliki keistimewaan dan kelak akan menjadi orang besar dan mulia.

Pernah suatu hari saat kota Makkah mengalami musim kering yang parah. Hujan tidak turun pada waktu biasanya turun. Orang-orang Quraisy mengadu kepada Abu Thalib kondisi kekeringan yang parah ini. Mereka mengajak Abu Thalib untuk bersama-sama meminta hujan. Berangkatlah Abu Thalib bersama anak remaja tanggung (Muhammad Saw.) menuju Ka’bah. Dengan maksud tentunya berdoa di sana memohon turunnya hujan.

Sinar matahari sangat terik waktu itu. Muhammad Saw. yang sudah berada dekat Ka’bah merapatkan punggungnya ke dinding Ka’bah. Lalu Ia menengokkan wajahnya ke arah langit yang bersih tanpa awan sama sekali. Tiba-tiba saja awan berkumpul dan bergumpal-gumpal di atas kota Makkah. Dan tak lama kemudian turunlah hujan yang sangat deras. Sehingga kota Makkah menjadi sejuk dan lembah-lembahnya kembali berair. Peristiwa itu sangat berkesan bagi Abu Thalib dan kaum Quraisy. Muhammad Saw. yang remaja ini telah menyebabkan turunnya hujan bagi mereka.

Pada usia 12 tahun Muhammad Saw. sudah diajak oleh sang paman untuk melakukan perjalanan bisnis internasional. Yaitu pergi berdagang ke negeri Syam bersama rombongan pedagang Quraisy lainnya. Ketika mereka telah sampai di daerah Bushra di Syam, mereka bertemu dengan seorang pendeta Nashrani yang dikenal dengan sebutan Buhaira. Nama aslinya adalah Jurjis. Pendeta ini menjamu semua rombongan dengan penuh ramah.

Rupanya sang Pendeta ini telah mengamati rombongan ini dari jauh. Ia melihat ada fenomena aneh lagi ajaib yang terjadi terhadap rombongan ini. Karena itulah ia mengundang dan menjamu rombongan ini dengan baik. Yang menjadi menarik perhatiannya adalah seorang remaja yang ada dalam rombongan tersebut. Dialah Muhammad Saw. yang selalu ia perhatikan, bahkan saat berada dalam jamuannya.

Sehingga kemudian ia berkata kepada Abu Thalib: “Ini adalah pemimpin alam semesta. Ia akan diutus oleh Allah sebagai rahmat bagi semesta alam.” Abu Thalib menjadi heran dan balik bertanya: “Bagaimana anda bisa mengetahui hal itu?” Buhaira menjawab: “Ketika kalian akan sampai di tempat saya ini, saya perhatikan pohon dan bebatuan sujud kepada anak ini. Dan tidak mungkin semua itu akan sujud kecuali hanya kepada Nabi. Dan sungguh saya melihat tanda kenabian di pundaknya seperti buah apel. Dan kami telah membaca itu semua dalam kitab suci kami.”

Kemudian pendeta Buhaira menyampaikan saran kepada Abu Thalib agar anak ini jangan melanjutkan perjalanan sampai ke negeri Syam. Akan tetapi segera pulang kembali ke Makkah. Ia sangat khawatir berita tentang anak ini sampai kepada kaum Yahudi. Sesungguhnya kaum Yahudi sangat cemburu dengan munculnya Nabi akhir zaman dari kalangan Arab bukan dari kalangan Yahudi. Mendengar saran tersebut Abu Thalib segera mengirim kembali Muhammad Saw. ke Makkah diantarkan oleh sebagian budaknya.

Bersambung…