Oleh: Irsyad Syafar

Sambutan yang sangat hangat

Tepat pada hari Jum’at siang tanggal 12 Rabiul Awwal tahun ke 14 kenabian, Rasulullah Saw. memasuki kota Yatsrib. Semenjak hari itu nama kota itupun berubah menjadi Madinatur Rasul atau Kota Rasul. Itulah hari yang sangat bersejarah dan hari yang sangat berbahagia di kota Madinah. Rumah-rumah dan jalanan kota Madinah bersuka-cita menyambut kedatangan Rasulullah Saw. Lantunan tahmid dan taqdis memuji dan mengagungkan Allah Swt. menggema di sana. Pemudi-pemudi Madinah melantunkan syair yang terkenal:

Bulan purnama telah muncul kepada kita
Dari arah bukit Tsaniyatil Wada’
Syukur wajib kita persembahkan
Atas apa yang diserukan penyeru pada Allah
Wahai Rasul yang diutus kepada kami
Engkau datang membawa perintah yang dipatuhi

Abu Darda’ ra. menceritakan situasi kedatangan Rasulullah tersebut: “Belum pernah terlihat penduduk Madinah bergembira seperti gembiranya mereka lantaran kedatangan Rasulullah Saw. Bahkan, para budak wanita meneriakkan, “Rasulullah Saw. datang’.” Dalam riwayat lain dikatakan, “Lantas para lelaki dan wanita naik ke atap rumah, sedang anak-anak dan para pelayan berhamburan di jalan-jalan. Mereka meneriakkan, “Wahai Muhammad, wahai Rasulullah. Wahai Muhamamd, wahai Rasulullah.” (HR Bukhari).

Kaum Anshar (Muslimin Madinah) bukanlah orang-orang yang kaya sekali. Akan tetapi kedermawanannya sangat tinggi. Hampir semua mereka berebut ingin menjamu Rasulullah Saw. ke rumahnya masing-masing. Setiap kali unta Rasulullah Saw. melewati sekelompok rumah kaum Anshar, mereka pegang tali kekang unta tersebut, agar mau berhenti dan singgah di rumah mereka. Mereka katakan kepada Rasulullah, “Ayo di sini bersama kami, karena kami di sini orangnya banyak dan persenjataan kami lengkap.” Menunjukkan mereka sangat siap untuk menampung Rasulullah Saw. dan sekaligus menjaganya.

Akhirnya Rasulullah Saw. mengatakan kepada mereka, “Biarkan unta ini berjalan, sebab ia berjalan atas perintah Allah.” Maka unta tersebut terus berjalan sampai kemudian berhenti di tempat yang nantinya akan dibangun Masjid Nabawi. Tempat itu berada di kawasan paman-paman Beliau (pihak Ibu) dari Bani Najjar. Dan Beliau sangat senang berada di kawasan paman-pamannya tersebut. Dan lokasi itu ternyata sangat dekat dengan rumah Abu Ayyub Al Anshari. Maka Abu Ayyub ra. sangat bahagia, karena Rasulullah Saw. akan menjadi tamu di rumahnya.

Tinggal di rumah Abu Ayyub Al Anshari

Rasulullah Saw. turun di depan rumah Abu Ayyub. Melihat hal ini, Abu Ayyub bergegas menghampiri barang-barang Rasulullah Saw. dan langsung membawa ke dalam rumahnya. Maka ketika itu Rasulullah Saw. bersabda: “Si pemilik barang ikut bersama barangnya.” (HR Baihaqi). Ini menunjukkan bahwa Beliau telah memutuskan akan tinggal sementara di rumah Abu Ayyub Al Anshari.

Rumah Abu Ayyub ra. terdiri dari dua tingkat. Rasulullah Saw. tinggal di bagian bawah, sedangkan Abu Ayyub dan istrinya tinggal di bagian atas. Suatu malam Abu Ayyub ra. baru tersadar akan keberadaan dirinya. Sehingga ia berkata: “Kita berjalan di atas kepala Rasulullah Saw.” Maka kemudian mereka berjalan kepinggir-pinggir di lantai dua dan tidur di bagian tepinya. Begitulah ia dan keluarganya ingin menghormati Rasulullah Saw.

Beberapa hari kemudian, ia meminta kepada Rasulullah Saw. agar bersedia pindah ke bagian atas. Dan ia bersama istrinya akan pindah ke bawah. Mendengar permintaan Abu Ayyub ini, maka Nabi Saw. menjawab: “Di bawah lebih mudah.” Akan tetapi Abu Ayyub ra. dengan gigih memohon kepada Rasulullah Saw.: “Saya tidak mungkin akan menaiki suatu atap, sedangkan engkau berada di bawahnya.” Maka Rasulullah Saw. pun akhirnya pindah naik ke bagian atas rumah Abu Ayyub ra.

Abu Ayyub ra. melayani keperluan Rasulullah Saw. dengan penuh perhatian dan kesetiaan. Ketika ia membuatkan makanan untuk Rasulullah Saw., saat wadah makanan dikembalikan, ia menanyakan bekas tempat tangan Rasulullah Saw. Lalu diikutinya tempat itu. Suatu hari, Abu Ayyub ra. membuatkan makanan yang ada bawang putihnya untuk Rasulullah Saw. Ketika dikembalikan, ia juga menanyakan bekas tempat tangan Rasulullah Saw. Namun Rasulullah memberikan jawaban bahwa Beliau tidak makan. Mendengar jawaban ini, Abu Ayyub terkejut dan bertanya: “Apakah bawang itu haram?” Nabi Saw. menjawab: “Tidak, tetapi aku tidak menyukainya.” Maka Abu Ayyub menimpali: “Aku juga akan membenci apa yang engkau benci.” (HR Muslim).

Kecintaan Abu Ayyub ra. kepada Rasulullah Saw. sangat mendalam. Ia merasa sangat beruntung karena Rasulullah menetap di rumahnya. Karena itu, momen ini betul-betul digunakannya untuk melayani Rasulullah secara maksimal dan sekaligus memperoleh keberkahannya. Dan sangat tidak ingin sedikitpun Rasulullah Saw. tersakiti atau tersusahkan. Dalam riwayat lain diceritakan, bahwa suatu hari ketika Abu Ayyub ra. masih tinggal di lantai atas, wadah air milik Abu Ayyub pecah. Sehingga lantai dua tersebut menjadi basah. Maka ia segera mengeringkannya dengan selimut miliknya yang hanya satu-satunya dan biasa dipakai untuk berselimut. Abu Ayyub ra. khawatir jika air akan menetesi Rasulullah Saw., sehingga bisa mengganggunya. (Dalam hadits riwayat Al Hakim).

Beberapa hari kemudian sampailah di Madinah istri Rasulullah Saw. Saudah, bersama dengan dua orang anak Beliau, Fathimah dan Ummu Kultsum. Bersama rombongan mereka ada pula Usamah bin Zaid dan Ummu Aiman. Sementara itu Abdullah bin Abu Bakar datang pula membawa rombongan keluarga Abu Bakar termasuk di dalamnya ‘Aisyah binti Abu Bakar yang sudah dinikahi oleh Rasulullah Saw. di Makkah sebelum hijrah.

Ketika baru-baru berada di Madinah ini, Abu Bakar ra. dan Bilal ra. mengalami sakit demam. ‘Aisyah sangat mencemaskan kondisi ayahnya tersebut. Ia datang menjenguk ayahnya dan Bilal dan menanyakan kondisi kesehatan mereka. Abu Bakar ra. dan Bilal ra. setiap kali demam selalu teringat dan merasa sudah dekat dengan kematian. ‘Aisyah ra. melaporkan kondisi ayahnya kepada Rasulullah Saw. Sehingga kemudian Rasulullah Saw. berdoa:

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا وَفِي مُدِّنَا وَصَحِّحْهَا لَنَا وَانْقُلْ حُمَّاهَا إِلَى الْجُحْفَةِ. (رواه البخاري).

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah Madinah sebagai kota yang kami cintai sebagaimana kami mencintai Makkah atau bahkan lebih dari itu. Ya Allah, berikanlah berkah kepada kami dalam timbangan sha’ dan mud kami, sehatkanlah (makmurkan) Madinah buat kami dan pindahkanlah wabah demamnya ke Juhfah.” (HR Bukhari).

Ketika awal hijrah ke Madinah, kota tersebut termasuk kota yang paling banyak wabah penyakitnya. Dengan izin Allah Swt. dan berkat do’a Rasulullah Saw., Madinah menjadi kota yang berkah dan sehat.

Bersambung…