Oleh: Irsyad Syafar

Bersembunyi di gua Tsur

Begitu lolos dari kepungan algojo-algojo Quraisy di rumahnya, dan Rasulullah Saw. sudah bersama Abu Bakar Shiddiq, maka keduanya langsung lari menuju gua Tsur arah Selatan kota Makkah. Rasulullah Saw. sangat menyadari bahwa kaum Quraisy akan mengerahkan kekuatan mengejar dan mencari Beliau. Dan pastilah pengejaran pertama akan mereka lakukan ke Utara Makkah. Sebab itu adalah jalan menuju Madinah. Makanya Rasulullah Saw. lari ke Selatan agar tidak ketemu oleh Quraisy. Ini merupakan sebuah strategi dan siasat yang sangat jitu yang dilakukan Rasulullah Saw.

Bersama Abu Bakar, Rasulullah Saw. malam itu telah sampai ke bukit Tsur yang lumayan tinggi dan penuh dengan batu-batuan yang tajam. Mereka berdua langsung naik ke Bukit tersebut. Rasulullah Saw. berjalan sambil menjinjitkan kakinya menghindari batu-batuan yang tajam. Bahkan sepanjang jalan dari rumahnya, mereka berjalan dengan ujung kaki demi menghilangkan jejak. Di atas bukit Tsur terdapat sebuah gua yang dapat menampung mereka berdua bersembunyi di sana. (Rahmatan Lil’alamin:1/95).

Di sini sangat nyata pengorbanan Abu Bakar dan kecintaannya kepada Rasulullah Saw. Ia gendong Rasulullah Saw. sampai ke atas bukit dan ke dekat Gua. Sebelum memasuki gua, Abu Bakar masuk lebih dahulu mengamankan situasi di dalamnya. Lobang-lobang binatang yang ada, ia tutup dengan kain yang dia miliki. Ada dua lobang tersisa, ia tutup dengan kedua kakinya. Kemudian ia persilakan Rasulullah Saw. masuk dan kemudian tidur berbaring di atas pangkuan Abu Bakar.

Rupanya salah satu dari lobang yang ditutup dengan kakinya ada binatang berbisa di sana. Kaki Abu Bakar disengat binatang berbisa tersebut. Namun ia menahan sakit dan tidak menggerakkan kakinya, demi membiarkan Rasulullah Saw. tidur dan istirahat. Akan tetapi karena rasa sakit yang luar biasa, air matanya menetes dan jatuh ke wajah Rasulullah Saw. Beliau bertanya, “Ada apa denganmu wahai Abu Bakar?” Ia menjawab, “Aku digigit ular wahai Rasulullah.” Kemudian Rasulullah Saw. membalurkan air ludahnya ke kaki Abu Bakar sehingga langsung sembuh.

Rasulullah Saw. berdiam dan bersembunyi di dalam gua Tsur selama 3 malam: malam Jum’at, malam Sabtu dan malam Ahad, di 3 hari terakhir bulan Safar. Dalam waktu 3 hari itu, Abu Bakar sudah membagi tugas pengamanan segala lini, dari anak-anaknya dan hartanya. Abdullah bin Abu Bakar ditugaskan untuk bersama Quraisy di Makkah di siang hari. Ia seorang pemuda yang cerdas dan tangkas. Ia dengar semua perkembangan gerakan Quraisy dalam mengejar Rasulullah Saw. dan ayahnya. Malam harinya ia pergi ke gua Tsur melaporkan situasi kepada Rasulullah Saw. Sebelum shubuh ia sudah berada di Makkah kembali, seolah-olah ia tidur di Makkah.

Sementara itu, penggembala kambing Abu Bakar yang bernama Amir bin Fuhairah, ditugaskan menggembala ternaknya di sepanjang jalan bekas Abdullah bin Abu Bakar. Tujuannya untuk menghilangkan jejak. Sorenya ia tambatkan kambing-kambing tersebut di kaki bukit Tsur. Sehingga Rasulullah Saw. dan Abu Bakar dapat menikmati air susu kambing tersebut sebagai kebutuhan kosumsi hariannya. Begitulah ia lakukan selama tiga malam. (Di dalam HR Bukhari: 1/553)

Adapun Quraisy hari-hari itu sangat marah dan menjadi gila. Ke segala penjuru mereka mencari Rasulullah Saw. tidak mereka temukan. Hilang begitu saja seperti ditelan bumi. Setelah menyiksa Ali bin Abi Thalib, mereka datangi rumah Abu Bakar. Mereka tanya Asma’ binti Abu Bakar tentang ayahnya. Asma’ menjawab tidak tahu dimana dia. Sehingga Abu Jahal sangat emosi dan menampar Asma’ dengan sangat keras sampai terkapar. Padahal Asma’ waktu itu sedang hamil besar menjelang melahirkan. (Sirah Ibnu Hisyam: 1/487).

Pencarian dan pengejaran dikerahkan secara masif. Quraisy mengumumkan bahwa siapa saja yang mengetahui dan menemukan Rasulullah Saw. dan Abu Bakar dalam keadaan hidup atau mati akan mendapatkan hadiah besar, yaitu 100 ekor unta untuk 1 orang dari 2 buronan itu. Lalu seluruh jalur keluar Makkah dan menuju Madinah mereka kawal dengan sejumlah orang berkuda dengan senjata terhunus.

Lalu mereka menyebar ke seluruh bukit dan lembah di sekitar Makkah. Akhirnya sampai juga serombongan mereka ke depan gua Tsur. Akan tetapi Allah Swt. telah menjaga kedua orang yang bersembunyi di dalamnya. Padahal Abu Bakar sudah sangat cemas. Ia berkata kepada Rasulullah Saw.: “Wahai Nabi Allah, seandainya salah seorang dari mereka melihatkan pandangannya ke bawah, niscaya ia akan melihat kita.” Nabi Muhammad Saw menjawab, “Tenanglah Abu Bakar. Kita berdua, yang ketiganya adalah Allah.”

Mengenai ini Allah Swt. gambarkan dalam firmanNya:

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ثَانِىَ ٱثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِى ٱلْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا. (التوبة: 40).

Artinya: “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. (QS At Taubah: 40).

Maka Allah Swt. menenangkan kedua hambaNya tersebut dan para pemburu Quraisy tidak ada yang dapat melihat mereka berdua di dalam gua. Sehingga mereka pergi dan mencari ke tempat yang lain.

Menuju kota Madinah

Tiga hari adalah waktu yang sangat cukup untuk bersembunyi, tidak boleh kurang ataupun lebih. Pencarian Quraisy di sekitar itu sudah tidak ada lagi, sehingga Rasulullah Saw. dan Abu Bakar keluar dari gua dan melanjutkan perjalanan hijrah ke Madinah. Pagi senin 1 Rabiul Awwal Rasulullah Saw. berangkat meninggalkan gua Tsur. Abu Bakar sudah mempersiapkan tunggangan dan menyewa penunjuk jalan yang sangat paham jalur-jalur perjalanan ke Madinah. Ia adalah Abdullah bin Uraiqith. Walaupun masih kafir, akan tapi ia disewa oleh Abu Bakar secara profesional sebelum kabur meninggalkan kota Makkah.

Abdullah bin Uraiqith datang membawa dua tunggangan yang sudah dittip oleh Abu Bakar kepadanya jauh hari. Abu Bakar menyerahkan satu tunggangan kepada Rasulullah Saw. Tapi Beliau menolaknya, kecuali dengan bayaran. Artinya Rasulullah Saw. tidak mau menerimanya secara gratis. Pagi itu Asma’ binti Abu Bakar juga datang membawakan makanan sebagai bekal perjalanan Rasulullah Saw. dan ayahnya. Ikut juga dalam rombongan Rasulullah Saw. ini Amir bin Fuhairah, si penggembala ternak Abu Bakar. Mereka semua mengambil jalur ke arah Barat, mendekati jalan tepi pantai, menempuh jalan yang tidak biasa dilewati kalau orang pergi ke Madinah. Itu adalah untuk semakin menjauh dari pengejaran Quraisy.

Dalam perjalanan itu mereka sempat dikejar oleh Suraqah bin Malik. Ia mendapatkan informasi bahwa ada serombongan yang berjalan di jalur dekat pantai menuju Madinah. Maka ia langsung menunggang kudanya demi dapat menangkap Rasulullah Saw dan mendapatkan hadiah dari Quraisy. Akan tetapi ketika sudah dekat dengan Rasulullah Saw, kudanya terjerembab dan kakinya terbenam ke pasir. Itu terjadi sampai tiga kali. Akhirnya Suraqah memohon keamanan kepada Rasulullah Saw. Dan Beliau memberikannya, ditulis oleh Amir bin Fuhairah. Rasulullah Saw. memintanya untuk merahasiakan perjalanannya di jalur ini. Maka Suraqahpun berbalik dan mengamankan jalur tersebut dari para pemburu.

Rombongan Rasulullah Saw. mampir di sebuah tenda tempat tinggal Ummu Ma’bad. Ia seorang wanita tua yang ulet dan tinggal di sana. Ia memiliki beberapa ekor kambing dan terbiasa memberi makan dan minum para musafir yang lewat. Namun saat itu lagi musim kering dan susu kambingnya tidak berair. Rasulullah Saw. meminta izin kepada Ummu Ma’bad untuk memerah susu kambing tersebut. Padahal kambing itu agak kurus dan susunya tidak berair. Namun kemudian Rasulullah Saw. mengusap susu kambing tersebut dan membaca bismillah lalu berdoa. Tiba-tiba saja air susu kambing itu keluar banyak sekali. Sehingga semua rombongan minum sampai kenyang dan juga masih penuh bejana oleh susu kambing untuk Ummu Ma’bad.

Kemudian Rasulullah Saw. dan rombongan melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian Abu Ma’bad pulang ke tenda tersebut dengan menggiring beberapa ekor kambing. Ia sangat heran ada air susu yang penuh di bejana. Padahal sebelumnya kambingnya kurus dan susunya tak berair. Ummu Ma’bad menceritakan kepada suaminya bahwa tadi ada seorang lelaki yang berkah yang datang dengan rombongannya, yang telah menyebabkan susu kambingnya berair penuh. Setelah mendengar postur dan rupa orang yang diceritakan oleh istrinya, Abu Ma’bad menyadari itu adalah Nabi yang sedang dikejar-kejar oleh Qurasiy.

Abu Ma’bad sangat berbahagia Nabi yang mulia telah mampir ke kemah istrinya. Ia berharap nantinya bisa bersama rombongan Beliau. Tidak lama kemudian tersebar saja beberapa bait puisi yang terdengar di kota Makkah. Orang-orang mendengarkan suaranya, tapi tidak tahu siapa yang mengucapkannya:

Terimakasih semoga Allah Tuhan ‘Arasy sampaikan
Kepada dua orang saudara yang singgah di kemahku Ummu Ma’bad
Keduanya singgah membawa kebaikan dan pergi dengan kebaikan
Sungguh beruntunglah orang yang bisa menemani Muhammad

Singgah di Quba’

Setelah satu pekan berjalan, pada hari Senin 8 Rabiul Awwal Rasulullah Saw. sampai di Quba’. Di sana Beliau berdiam selama 4 hari sampai hari Kamis. Ali bin Abi Thalib yang tinggal di Makkah, berada di Makkah selama 3 hari menyelesaikan pengembalian amanah Quraisy yang bersama Rasulullah Saw. Kemudia ia hijrah sendirian berjalan kaki sampai menyusul Rasulullah di Quba’. Di sinilah Rasulullah Saw. membangun Masjid pertama kali dan Beliau shalat di masjid tersebut.

Pada pagi hari Jum’at tanggal 12 Rabiul Awwal Rasulullah Saw. menaiki tunggangannya bersama Abu Bakar berangkat menuju Madinah. Beliau mengirimkan kabar kepada paman-pamannya dari pihak Ibunya dari Bani Najjar akan kedatangannya. Sehingga para pamannya datang serombongan dengan bersenjata lengkap, menjemput kedatangan Beliau. Kemudian mereka bergerak menuju Madinah. Di tengah perjalanan di daerah Bani Salim, waktu Jum’at masuk. Sehingga Rasulullah Saw. shalat Jum’at berjamaah di tempat tersebut. Mereka semua berjumlah 100 orang.

Bersambung…