Oleh: Irsyad Syafar

Setelah situasi Makkah tidak lagi kondusif untuk menyemai dan menyebar dakwah, maka Rasulullah Saw. mulai melirik wilayah-wilayah diluar Makkah. Setiap kabilah Arab yang datang berhaji atau berdagang ke Kota Makkah selalu ditemui oleh Rasulullah Saw. Baik secara perseorangan maupun berkelompok. Mereka ditawarkan masuk Islam dan kemudian ikut membelanya. Dari mereka diharapkan akan muncul pengikut baru yang lebih setia.

Menawarkan Islam kepada berbagai kabilah Arab ini berlangsung semenjak akhir tahun ke 10 kenabian sampai ke musim haji tahun ke 11 kenabian. Diantara kabilah-kabilah yang sudah ditemui Rasulullah Saw. itu antara lain: Bani Kalb, Bani Hanifah, Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah dan lain-lain. Juga ada person yang ditemui Beliau dan memberikan respon positif dengan bersedia masuk Islam. Diantaranya adalah: Suwaid bin Shamit, Iyas bin Mu’adz dan Abu Dzar Al Ghifari. Mereka semua termasuk penduduk Yatsrib (Madinah). Juga ada yang dari Yaman seperti Thufail bin Amr Ad Dausi dan Dhamad Al Azadi.

Kemudian pada musim haji tahun ke 11 kenabian, Rasulullah Saw. mendapatkan cikal-bakal pemuda Islam yang sangat potensial. Semuanya ada 6 orang dan berasal dari suku Khazraj kota Yatsrib (Madinah). Ditemani oleh Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib, Rasulullah Saw. menemui mereka di malam hari di lokasi mereka bermukim untuk ibadah haji. Enam orang ini berdialog dengan Rasulullah Saw. dan Abu Bakar dan memberikan respon yang positif. Bahkan mereka segera masuk Islam. Enam orang pemuda tersebut adalah: As’ad bin Zurarah, ‘Auf bin Harits, Rafi’ bin Malik, Quthbah bin ‘Amir, “uqbah bin ‘Amir dan Jabir bin Abdullah.

Ada faktor khusus yang membuat mereka ini cepat sekali merespon dan masuk Islam. Yaitunya mereka kaum Khazraj ini sering berkoalisi dengan kaum Yahudi di Madinah. Tapi mereka seringkali juga dipermainkan, diadu-domba dengan kaum Aus dan bahkan diancam oleh Yahudi Madinah. Diantara ancaman tersebut adalah pernyataan kaum Yahudi kepada mereka: “Akan ada Nabi akhir zaman diutus Allah Swt. pada masa ini. Bila dia muncul nanti, kami akan beriman dan mengikutinya. Dan kami bersama dia akan membunuh kalian seperti terbunuhnya kaum ‘Ad dan kaum Iram.”

Sehingga ketika Rasulullah Saw. memperkenalkan diri kepada mereka bahwa dia adalah seorang Nabi, dan juga membacakan kepada mereka ayat-ayat Al Quran, mereka langsung beriman. Mereka ingin mendahului kaum Yahudi yang selama ini telah mengancam dan mengaku akan mengikuti Nabi akhir zaman tersebut. Disamping itu mereka berharap kelak Rasulullah Saw. akan menjadi pemersatu mereka penduduk Madinah yang sering berperang dan bertikai karena diadu-domba oleh kaum Yahudi.

Baiat Aqabah Pertama

Buah dari pertemuan dengan enam pemuda Yatsrib yang masuk Islam tersebut adalah mereka berjanji akan menyebarkan dakwah Islam ini di kampung mereka dan mengajak saudara-saudara mereka untuk menganut agama Islam. Dan mereka juga berjanji akan bertemu kembali dengan Rasulullah Saw. pada musim haji tahun berikutnya.

Maka pada musim haji tahun ke 12 kenabian, datanglah serombongan dari penduduk Yatsrib. Jumlah mereka ada sebanyak 12 orang. 5 orangnya merupakan yang tahun sebelumnya telah menyatakan Islam di hadapan Rasulullah Saw. Sedangkan Jabir bin Abdullah tidak ikut pada musim haji tersebut. Jadi, ada 7 orang lagi tambahan yang baru. Dua orangnya merupakan dari suku Aus. Sehingga sudah ada dua suku besar kota Yatsrib yang masuk Islam.

Pada malam hari dan dengan sembunyi-sembunyi mereka menemui Rasulullah Saw. disebuah tempat yang bernama Al ‘Aqabah. Maka Rasulullah Saw. meminta mereka untuk melakukan janji setia (berbaiat) kepada Beliau. Dalam hadits yang shahih dari Ubadah bin Shamit, Rasulullah Saw. bersabda:

بَايِعُونِى عَلَى أَنْ لاَ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا ، وَلاَ تَسْرِقُوا ، وَلاَ تَزْنُوا ، وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ ، وَلاَ تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ تَفْتَرُونَهُ بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ ، وَلاَ تَعْصُوا فِى مَعْرُوفٍ ، فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ، وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ فِى الدُّنْيَا فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ ، وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا ثُمَّ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَهُوَ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ ، وَإِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ. (رواه البخاري).

Artinya: “Berbaiatlah (berjanji) kalian semua kepadaku untuk: (1) Tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun, (2) Tidak mencuri, (3) Tidak berzina, (4) Tidak membunuh anak-anakmu, (5) Tidak membuat fitnah di antara kalian, (6) Tidak durhaka terhadap perintah kebaikan. Barangsiapa yang menepati perjanjian itu maka ia akan diberi pahala oleh Allah dan barangsiapa yang melanggar salah satu dari perjanjian itu, maka ia akan dihukum di dunia ini. Hukuman itu menjadai kafarah (tebusan) baginya, dan barangsiapa yang melanggar salah satunya kemudian ditutup oleh Allah, maka perkaranya terserah kepada Allah. Jika Dia berkehendak untuk mengampuninya, maka akan diampuni dan jika Dia berkehendak untuk menghukumnya, maka Dia akan menghukumnya.” (HR Bukhari).

Merekapun berbaiat kepada Rasulullah Saw. dengan semua klausul perjanjian tersebut. Dan ketika ibadah haji sudah selesai mereka laksanakan, mereka kembali ke Yatsrib. Bersama mereka, Rasulullah Saw. mengirimkan seorang guru sekaligus menjadi duta pertama Rasulullah Saw. ke Madinah. Yaitu seorang pemuda yang termasuk generasi awal masuk Islam di Makkah (Assaabiqunal Awwalun) yang bernama Mush’ab bin Umair.

Selain bertugas untuk mengajarkan Islam kepada rombongan yang baru masuk Islam ini, Mush’ab juga bertugas menyebarkan Islam di kota Yatsrib. Dengan kepiawaiannya dalam berkomunikasi, Mush’ab berhasil mengislamkan tokoh-tokoh penting di Yatsrib. Diantaranya adalah dua orang petinggi kabilah di kota Yatsrib yang bernama Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair. Akibatnya kemudian banyak dari anggota kabilah mereka berdua yang juga ikut masuk Islam.

Baiat Aqabah kedua

Hampir satu tahun penuh Mush’ab bin Umair berdakwah di kota Yatsrib. Tidak ada rumah di sana kecuali dia datangi dan diajak masuk Islam. Sehingga dalam waktu yang singkat dan cepat, banyak sekali penduduk Yatsrib yang masuk Islam. khususnya dari kabilah Khazraj dan Aus. Sebelum datang musim haji tahun ke 13 kenabian, Mush’ab bin Umair kembali ke Makkah mengabarkan kepada Rasulullah Saw. perkembangan positif dakwah di Yatsrib yang sangat cepat.

Sehingga pada musim hajinya, datanglah rombongan yang lebih besar jumlahnya dari kaum Aus dan Khazraj. Mereka tetap dalam rombongan besar kaum Musyrikin kota Yatsrib yang berhaji ke Makkah. Akan tetapi secara diam-diam dan rahasia, mereka terus berkomunikasi dengan Rasulullah Saw. Lalu pada waktu yang rahasia, dan di tengah malam, mereka berkumpul di Aqabah dan didatangi oleh Rasulullah Saw. Kali ini Rasulullah Saw. ditemani oleh pamannya Abbas bin Abdul Muththalib yang masih kafir.

Pada baiat Aqabah yang kedua ini ikut serta jumlah yang cukup besar. Ada sebanyak 73 laki-laki dan 2 orang perempuan. Dan isi baiat (perjanjian setia) kali ini jauh lebih kuat dan tegas dibandingkan dengan baiat Aqabah pertama. Karena isinya sudah sampai kepada tingkat kesiapan melindungi Rasulullah Saw. dengan jiwa dan harta mereka dan siap untuk menampung Rasulullah Saw. di kota mereka. Baiat kedua ini juga dikenal dengan istilah baiat perang.

Di antara isi baiat Aqabah yang kedua adalah:
1. Berjanji setia untuk patuh dan mendengar Rasulullah Saw. dalam suka dan tidak suka.
2. Setia untuk memberikan nafkah atau biaya bagi Rasulullah dalam keadaan mudah atau sulit.
3. Bersedia menegakkan amar makruf dan nahi mungkar.
4. Setia untuk konsisten bersama Allah, tidak takut dengan siapapun.
5. Setia untuk membela Rasulullah Saw. di Yatsrib dan melindunginya bagaikan melindungi istri dan anak-anak kandung mereka sendiri.

Seluruh rombongan yang 75 orang sangat paham dan siap sepenuhnya dengan konsekwensi janji setia mereka kepada Rasulullah Saw. Kemudian mereka satu-persatu berbaiat dengan bersalaman dengan Rasulullah Saw. menyatakan kesetiaannya. Adapun dua orang perempuan yang ikut bersama mereka, menyatakan baiat dengan perkataan saja tanpa bersalaman dengan Rasulullah Saw.

Kemudian Rasulullah Saw. menunjuk 12 orang dari 75 orang tersebut sebagai komandan lapangan bagi mereka semua dan bagi kaum mereka masing-masing. 9 orang berasal dari suku Khazraj dan 3 orang dari suku Aus. Kepada yang 12 orang ini Rasulullah Saw. mengambil sumpah setia tambahan, karena mereka dianggap sebagai pemimpin bagi kaum mereka, dan bagaikan kaum Hawariyun Nabi Isa as. di kota Yatsrib.

Menjelang waktu shubuh prosesi baiat mereka kepada Rasulullah Saw. telah selesai. Kemudian mereka sudah kembali ke dalam kelompok besar mereka rombongan haji dari musyrikin Yatsrib. Seolah-olah mereka juga tidur bersama rombongan malam itu. Paginya mereka segera berangkat kembali menuju Makkah. Sempat tersebar issu tentang adanya janji setia ini kepada Quraisy. Mereka meradang dan segera menemui rombongan muysrikin Yatsrib. Namun kemudian mereka tidak dapatkan bukti-bukti sama sekali. Akhirnya rombongan tersebut lolos balik ke Yatsrib.

Bersambung…