Oleh: Irsyad Syafar

Menuju Thaif

Setelah meninggalnya Abu Thalib dan Khadijah ra, kota Makkah sudah semakin tidak kondusif untuk dakwah Rasulullah Saw. Gangguan yang diderita Rasulullah Saw. dari kaumnya semakin dahsyat. Oleh karena itu, Rasulullah Saw. harus mencari alternatif tempat dan daerah lain yang mungkin mau menerima Islam. Maka Beliau melakukan perjalanan (Hijrah) ke Thaif. Yaitu satu daerah yang berjarak sekitar 80 kilometer dari kota Makkah. Beliau keluar menuju Thaif pada bulan Syawal tahun kesepuluh dari kenabian.

Beliau pergi dan pulang dari Thaif dengan berjalan kaki ditemani oleh budak Beliau yaitu Zaid bin Haritshah ra. Tujuan utama Beliau ke Thaif tentu adalah untuk berdakwah dan sekaligus mencari suaka atau perlindungan orang-orang Thaif dari gangguan kaumnya. Di dalam perjalanannya, setiap kali melalui satu kabilah (suku), maka Beliau mengajak mereka kepada Islam. Akan tetapi, tidak satu pun kabilah yang menerima ajakan Beliau.

Sesampainya Rasulullah Saw. di kota Thaif, Beliau menemui tiga bersaudara yang merupakan kepala suku penduduk Thaif. Mereka adalah Abdu Yalail, Mas’ud, dan Hubaib yang semuanya merupakan putra dari Amru bin ‘Umair Ats-Tsaqafi. Oleh karena itu, beliau menghadap mereka dan mengajak mereka masuk Islam. Berkatalah salah seorang dari mereka, “Dia akan menyobek-nyobek kain pakaian Ka’bah, seandainya benar Allah mengutus engkau.” Orang kedua berkata, “Apakah Allah tidak mendapatkan orang lain selain engkau?” Dan orang ketiga mengatakan, “Demi Allah, aku tidak akan berbicara denganmu. Karena sekiranya kamu sebagai Rasul, tentu kamu orang yang sangat berbahaya jika aku membantah ucapanmu.” Maka Rasulullah Saw. beranjak meninggalkan mereka seraya berpesan kepada mereka, “Jika kalian bersikap demikian, maka tolong rahasiakan kedatanganku ini.” (Rahiqul Makhtum: 125)

Bermukimlah Rasulullah Saw. di Thaif bersama penduduknya selama sepuluh hari. Selama itu, beliau menemui para pemuka Thaif dan mengajak mereka masuk agama Islam. ternyata rata-rata respon mereka sangat negatif. Malah mereka mengusir Rasulullah Saw. dari negeri mereka. Mereka berkata, “Keluarlah kamu dari negeri kami.” Kemudian mereka pun memprovokasi orang-orang bodoh mereka untuk mengganggu dan membulli Rasulullah Saw. Mereka berdiri berjejer menghadapi jalan Beliau, lalu melempari beliau dengan batu hingga kaki beliau berdarah. Sementara Zaid bin Haritsah ra. melindungi beliau dengan tubuhnya, sehingga kepalanya berdarah.

Lari dari Thaif

Akhirnya Rasulullah Saw. bersama Zaid bin Haritsah lari meninggalkan Thaif. Keduanya berlindung dan bersembunyi di kebun milik Uthbah dan Syaibah bin Rabi’ah, sekitar jarak 3 mil dari Thaif. Rasulullah Saw. beristirahat di bawah pohon anggur yang lebat lagi rimbun. Pada saat inilah Rasulullah Saw. berdoa kepada Allah penuh harap, pengaduan dan penyerahan diri secara total kepadaNya:

اَللَّهُمَّ إٍنِّى أَشْكُو إِلَيْكَ ضُعْفَ قُوَّتِى وَقِلَّةَ حِيْلَتِى وَهَوَانِى عَلَى النَّاسِ, يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. أَنْتَ رَبُّ المُستَضْعَفِيْنَ وَأَنْتَ رَبِّى. إِلىَ مَنْ تَكِلُنِى؟ إِلَى بَعِيْدٍ يَتَجَهَّمُنِى أَوْ إِلَى عَدُوٍّ مَلَّكْتَهُ أَمْرِى إِنْ لمَ يَكُنْ بِكَ عَليَّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِى وَلَكِنْ عَافِيَتُكَ أَوْسَعُ لِى أَعُوْذُ بِنُوْرِ وَجْهِكَ الَّذِى أَشْرَقَتْ لَهُ الظُّلُمَاتُ وَصَلُحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ مِنْ أَن يَنْزِلَ بِى غَضَبُكَ أَوْ تَحِلُّ عَليَّ سَخَطُكَ لَكَ الْعُتْبَى حَتَّى تَرْضَى. وَلَا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ.

Artinya: “Allahuma Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Rahim, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Tuhan pelindungku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan nasibku? Kepada orang jauhkah yang berwajah muram kepadaku atau kepada musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli sebab sungguh luas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada Nur wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat, dari kemurkaan-Mu dan yang akan Engkau timpakan kepadaku. Kepada Engkaulah aku mengadukan halku sehingga Engkau ridha kepadaku. Dan tiada daya upaya melainkan dengan kehendak-Mu.” (HR Thabrani).

Kondisi Rasulullah yang memprihatinkan itu ternyata dipantau dari jauh oleh anak Rabi’ah bersaudara. Mereka utuslah budak mereka yang bernama Addas (beragam Nashrani) untuk membawakan beberapa tangkai anggur untuk Rasulullah Saw. Ketika Beliau menerimanya, Beliau membaca bismillah sebelum memakan anggur tersebut. Addas terheran melihat dan mendengar Rasulullah Saw. mengucapkan kalimat yang tidak pernah dipakai di tempat itu. Sehingga ia bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang kalimat tersebut.

Rasulullah Saw. malah balas bertanya: “Dari negeri mana engkau, dan apa agamamu?” Addas menjawab, “Saya berasal dari negeri Nainawa dan saya beragama Nashrani.” Rasulullah Saw. langsung menanggapinya, “Engkau dari negerinya seorang lelaki shaleh yang bernama Yunus bin Matta.” Addas membenarkan ucapan Rasulullah tersebut dan balik bertanya, “Kok bisa anda tahu dengan Yunus bin Matta?” Rasulullah Saw. menjawab, “Ya beliau itu saudaraku. Beliau itu adalah seorang Nabi. Dan aku juga seorang Nabi.” Mendengar jawaban Rasulullah, secara spontan Addas langsung memeluk Rasulullah, mencium kepalanya, tangannya dan kedua kakinya.

Kedua anak Rabiah yang menyaksikan kejadian itu dari jauh, menjadi terheran-heran. Mereka menuduh Addas ini telah terkena sihir oleh Rasulullah Saw. Mereka mewanti-wanti Addas agar jangan sampai bertukar agamanya karena pengaruh laki-laki tersebut. Setelah itu Rasulullah Saw. pun melanjutkan perjalanannya Kembali ke Makkah, dalam keadaan bersedih, kecewa dan hati yang penuh duka.

Pertolongan Allah dan berimannya sekelompok jin

Ketika sampai di daerah Qarnul Manazil, Allah kirimkan kepadanya malaikat Jibril yang didampingi oleh malaikat gunung. Jibril menawarkan bantuan kepada Rasulullah berupa hukuman yang akan ditimpakan kepada penduduk Thaif yang telah durhaka dan kafir kepada Beliau. Yaitu dengan membalikkan dua bukit besar kepada mereka. Namun tawaran Jibril itu ditolak oleh Rasulullah. Beliau berharap masih ada peluang akan muncul orang-orang yang membela agama Allah dari Thaif ini nanti.

Ditolaknya dakwah Rasulullah Saw. di Thaif dan perlakuan mereka yang sangat durhaka ini menjadi hari-hari tersulit dalam hidup Beliau. Bahkan peristiwa ini lebih berat bagi Rasulullah Saw. dibandingkan dengan peristiwa kekalahan pada perang Uhud. Ummul Mukminin Aisyah ra. pernah bertanya kepada Beliau tentang hal ini:

يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ؟ فَقَالَ: ” لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ. (متفق عليه).

Artinya: “Wahai Rasulullah, apakah pernah datang kepada engkau suatu hari yang lebih berat dari hari perang Uhud?” Rasulullah Saw. menjawab : “Aku telah mengalami kesulitan-kesulitan dari kaum-mu, dan kesulitan yang paling berat yang pernah aku alami dari mereka, adalah peristiwa di hari Aqobah (hari hijrah ke Thaif).” (HR Bukhari dan Muslim).

Kemudian Beliau melanjutkan perjalanannya ke arah kota Makkah, sampai ke lembah Nakhlah. Di sana Beliau bermukim beberapa hari lamanya. Dan di sanalah kemudian Allah mengirimkan sekelompok jin yang mendengarkan ayat-ayat Al Quran dari Rasulullah dan mereka mengimani ayat-ayat tersebut. Rasulullah Saw. tidak menyadari kehadiran mereka kecuali setelah Allah Swt. kabarkan dalam firmanNya:

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنصِتُوا ۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ (29) قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ (30) يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ. (31). (الأحقاف: 29-31).

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”.Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih”. (al-Ahqaf : 29-31)

Berimannya sekelompok jin ini menjadi penghibur dan pelipur lara bagi Rasulullah Saw. Sebelumnya telah turun pula Malaikat Jibril dan malaikat penjaga gunung, menawarkan bantuan. Maka kedua peristiwa ini menjadi tanda dukungan dan kemenangan dari Allah Swt. Setelah mengirimkan utusan untuk melobi Quraisy, akhirnya Rasulullah Saw. dapat kembali masuk ke kota Makkah di bawah jaminan perlindungan dari Muth’im bin ‘Adiy. Ia dan para ponakannya memanggul senjata dan mengumumkan kepada khalayak Quraisy bahwa ia telah menjamin keamanan Muhammad. Akibatnya Rasulullah Saw. dapat masuk ke Masjidil Haram dengan aman tanpa gangguan, dan dapat melaksanakan shalat dua raka’at di dekat Ka’bah, lalu kembali ke rumahnya.

Bersambung…