Oleh: Irsyad Syafar

Lobi-lobi Quraisy kepada Abu Thalib

Kaum Quraisy sudah sangat gusar dan gerah dengan munculnya secara resmi agama baru yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Beberapa petinggi mereka segera datang menemui Abu Thalib sebagai paman Nabi dan orang paling senior di Makkah saat itu. Mereka menyampaikan kepada Abu Thalib:

“Wahai Abu Thalib, sesungguhnya anak saudaramu telah mencaci-maki tuhan-tuhan kami dan mencela agama kami. Ia telah melecehkan harapan-harapan kami dan menyesatkan nenek moyang kami. Engkau hentikanlah dia agar tidak mengganggu kami atau biarkan kami yang menyelesaikannya sendiri. Engkau kan juga tidak sejalan dengan agama yang dia bawa, maka biar kami ringankan engkau darinya.” (Sirah Ibnu Hisyam: 1/265).

Abu Thalib menjawab permintaan kafir Quraisy tersebut dengan perkataan yang lemah lembut dan menolaknya secara halus dan diplomatis. Sehingga kemudian mereka pergi meninggalkan Abu Thalib, pulang dengan tangan hampa. Dengan dukungan penuh dari Abu Thalib maka Rasulullah Saw. terus melanjutkan dakwahnya secara terang-terangan, meninggikan agama Islam dan menyampaikan kesesatan kaum musyrikin.

Menghadang dakwah Nabi terhadap jemaah haji

Beberapa bulan setelah gagalnya petinggi Quraisy dalam bernegosiasi dengan Abu Thalib, datanglah musim haji ke kota Makkah. Ibadah haji merupakan warisan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang masih terpelihara sampai saat itu di kota Makkah. Dari berbagai penjuru jazirah Arab akan berdatangan suku dan kabilah Arab untuk menunaikan ibadah haji.

Menghadapi situasi itu, Quraisy khawatir kalau-kalau para jemaah haji akan terpengaruh dengan dakwah Rasulullah Saw. Karena itu mereka harus menyepakati satu kalimat terkait status Muhammad Saw. ini. Nantinya status itulah yang akan mereka suarakan dan kampanyekan kepada para jemaah haji. Tentu saja targetnya adalah pembusukan dan pembunuhan karakter terhadap diri pribadi Beliau. Sehingga para jemaah haji dapat waspada dan menghindari interaksi dengan Muhammad Saw. dan pengikutnya.

Maka digelarlah rapat gabungan di rumah Walid bin Al Mughirah untuk menyatukan suara. Agar mereka seragam memberikan stigma negatif terhadap Rasulullah, guna menghadang dakwah beliau. Muncullah berbagai usulan pada rapat mereka tersebut. Ada yang mengusulkan menyebut Rasulullah sebagai seorang dukun (Kaahin). Ada yang mengusulkan sebutan sebagai orang gila (majnun). Ada yang mengusulkan bahwa beliau adalah seorang penyair atau pujangga (Syaa’ir). Dan ada pula yang mengusulkan sebutannya sebagai penyihir (Saahir).

Awalnya semua usulan itu dibantah oleh Walid bin Al Mughirah. Ia katakan: “Demi Allah dia bukan dukun, sebab kita sudah kenal dukun itu seperti apa. Dia juga bukan orang gila, karena kita sudah tahu mana yang orang gila. Dia juga bukan seorang penyair. Sebab kita sangat kenal syair dengan berbagai jenisnya. Begitu juga tukang sihir, kita sudah tahu seperti apa tukang sihir itu. Dia bukanlah seperti tukang sihir.”

Mereka akhirnya bertanya kepada Walid, “Lalu apa pendapatmu? Dia ini siapa?” Walid menjawab: “Demi Allah, ucapannya itu sangat indah. Akarnya kuat dan cabangnya berbuah. Dan semua stigma negatif yang kalian usulkan itu adalah keliru (bathil). Namun yang paling dekat yang bisa kita katakan adalah dia lebih dekat kepada tukang sihir. Sebab perkataannya dapat memisahkan antara seseorang dari ayahnya, dari saudaranya dan suami dari istrinya, serta seseorang dari keluarga besarnya.” (Sirah Ibnu Hisyam: 1/271).

Tentang sikap dan Tindakan Walid ini digambarkan oleh Allah dalam firmanNya:

إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ . فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ . ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ . ثُمَّ نَظَرَ . ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ . ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ . فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ . إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ. (المدثر: 18-25).

Artinya: “Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan?, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan?, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata: “(Al Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.” (QS. Al Muddatsir: 18-25).

Setelah mereka sepakati stigma negatif ini, maka mereka pun memperingatkan para jemaah haji dengan stigma yang sama. Mereka datangi jemaah haji tersebut di tempat mereka menginap, atau di pasar Ukkazh, Majinna dan pasar Dzil Majaz. Mereka mengatakan, ajaran yang dibawa Muhammad adalah sihir. Banyak orang yang karena kata-kata Quraisy itu menjadi takut kepada Rasulullah Saw. Abu Lahab sendiri juga membuntuti kemana saja Nabi Muhammad mendekati jemaah haji. Setelah Beliau berdakwah, maka Abu Lahab menimpalinya: “Jangan percaya dia. Dia itu murtad dan pembohong.” (HR Tirmidzi).

Metode penghadangan dakwah Rasulullah Saw.

Beberapa metode memang dilakukan oleh Quraisy dalam menghadang lajunya dakwah Rasulullah Saw. Di antaranya adalah:

1. Mengejek, menghina dan mengolok-olok dakwah Rasulullah.

Ini metode yang jelek dan sangat buruk. Tujuannya adalah untuk merendahkan kaum muslimin dan meruntuhkan mental mereka. Mereka lemparkan tuduhan dan cacian terhadap Rasulullah Saw. dengan memanggilnya sebagai seorang yang gila atau tukang sihir atau pembohong. Hal ini Allah ungkapkan dalam banyak ayat, di antara firmanNya:

وَقَالُوا۟ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِى نُزِّلَ عَلَيْهِ ٱلذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ. (الحجر: 6).

Artinya: “Mereka berkata: “Hai orang yang diturunkan Al Quran kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila.” (QS Al Hijr: 6).

Dalam ayat yang lain Allah Swt. menyatakan:

وَعَجِبُوٓا۟ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٌ مِّنْهُمْ ۖ وَقَالَ ٱلْكَٰفِرُونَ هَٰذَا سَٰحِرٌ كَذَّابٌ. (ص: 4).

Artinya: “Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.” (QS Shad: 4).

2. Membuat stigma negatif dan melempar syubuhat tentang ajaran Islam

Ini adalah kampanye hitam terhadap dakwah Rasulullah Saw. Mereka sebarkan propaganda, kebohongan dan syubuhat tentang Islam dan Rasulullah Saw. Mereka sebut ajaran-ajaran Nabi itu hanyalah cerita-cerita palsu dan kebohongan belaka. Hanyalah bersumber dari seseorang atau orang lain dibalik beliau itu yang mengajarkannya. Sehingga orang menjadi tidak suka (fobia) dan menjauhi dari Islam. Al Quran menyebutkan ungkapan mereka tersebut dalam firmanNya:

وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ إِنْ هَٰذَآ إِلَّآ إِفْكٌ ٱفْتَرَىٰهُ وَأَعَانَهُۥ عَلَيْهِ قَوْمٌ ءَاخَرُونَ ۖ فَقَدْ جَآءُو ظُلْمًا وَزُورًا. وَقَالُوٓا۟ أَسَٰطِيرُ ٱلْأَوَّلِينَ ٱكْتَتَبَهَا فَهِىَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلً. (الفرقان: 4-5).

Artinya: “Dan orang-orang kafir berkata: “Al Quran ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain”; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar. Dan mereka berkata: “Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.” (QS Al Furqan: 5).

3. Membantah Al Quran dengan kisah dan dongeng masa lalu

Untuk memalingkan masyarakat dari dakwah Rasulullah Saw. dan wahyu yang dibawanya, kafir Quraisy melawannya dengan menyebarkan kisah-kisah dan dongeng-dongeng masa lalu. Pelakunya adalah An Nadhr bin Haris. Ia pelajarilah kisah raja-raja Persia, cerita-cerita Rustum pemimpin Romawi, dan cerita-cerita lainnya.

Maka Ketika Rasulullah Saw. duduk mengajarkan Islam kepada orang di sekitarnya, An Nadhr ini juga tidak jauh dari sana. Ia bercerita pula dari dongeng dan kisah-kisah yang dia baca dan pelajari. Kemudian ia sampaikan kepada orang-orang semua: “Cerita-cerita saya lebih baik dan lebih bagus dari pada cerita-cerita Muhammad.” (sirah Ibnu Hisam 1/299).

4. Negosiasi dan pendekatan untuk saling kerjasama dan penggabungan agama

Ini metode yang menipu dan penuh racun. Mereka tawar Rasulullah Saw. untuk berdamai dan berkompromi. Yaitu dengan saling menghargai antara ajaran Islam dengan kesyirikan mereka. Caranya adalah Quraisy mundur dan mengalah sedikit dari ajaran syiriknya, dan Muhammad juga mundur sedikit dari ajaran Islamnya. Terkait negosiasi ini, Allah sebutkan dalam firmanNya:

وَدُّوْا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُوْنَۚ. (القلم: 9).

Artinya: “Mereka menginginkan agar engkau bersikap lunak maka mereka bersikap lunak (pula).” (QS Al Qalam: 9).

Di dalam beberapa riwayat yang berbeda diceritakan yang intinya Quraisy menawarkan kerjasama kepada Nabi Muhammad. Yaitu mereka akan menyembah Tuhan Nabi Muhammad selama setahun. Setelah itu gentian Nabi Muhammad dan pengikutnya yang yang menyembah tuhan-tuhan kaum quraisy selama setahun. Allah Swt. menurunkan bantahannya terhadap tawaran yang menyimpang ini:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ . لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ . وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ . وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ . وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ . لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ. (الكافرون: 1-5).

Artinya: “Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS Al Kaafirun: 1-5).

Begitulah seluruh cara dan upaya dilakukan oleh kafir Quraisy untuk menghadang lajunya ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Ada cara halus dan ada cara yang kasar. Tujuan utamanya tentu adalah memadamkan cahaya Allah. namun Allah Swt. menjaga agamaNya dan membimbing RasulNya agar tidak goyah dalam mengajarkan agamaNya.

Bersambung…