Oleh: Ustadz. H. Irsyad Syafar, Lc., M.Ed

FIQH ADZAN

8. Beberapa Permasalahan Terkait Adzan.

Masih ada beberapa permasalahan terkait dengan Fiqh Adzan. Diantaranya adalah:

  • Pertama, Adzan karena terlewat waktu shalat.

Pernah terjadi di masa Rasulullah SAW dimana Beliau dan para sahabat dalam sebuah perjalan. Mereka semua keletihan dan tertidur sampai lewat waktu shubuh. Ketika matahari sudah terbit, barulah mereka terbangun. Maka Rasulullah SAW tetap memerintahkan Bilal untuk adzan dan iqamah. Kemudian mereka shalat. (Dari Hadits riwayat Bukhari).

Jika yang terlewat itu beberapa waktu shalat wajib, maka adzan dilakukan satu kali saja. Kemudian setiap akan shalat diulangi melakukan iqamah. Hal ini pernah juga dialami oleh Rasulullah SAW, ketika perang Khandaq. Sampai 4 waktu shalat yang terlewatkan; Zhuhur, Ashar, magrib dan Isya.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud, ia berkata:

إن المشركين شغلوا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن أربع صلوات يوم الخندق حتى ذهب من الليل ما شاء الله فأمربلالا فأذن ثم أقام فصلى الظهر ثم أقام فصلى العصر ثم أقام فصلى المغرب ثم أقام فصلى العشاء.

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang musyrik telah menyibukkan Rasulullah SAW dari 4 waktu shalat pada saat perang Khandaq, sampai sebagian malam. Maka Rasulullah menyuruh Bilal untuk adzan. Kemudian ia iqamah dan lalu shalat zhuhur. Kemudian iqamat dan shalat Ashar. Kemudian iqamat dan shalat Magrib. Kemudian iqamat dan shalat Isya.” (HR Tirmidzi dan Baihaqi).

  • Kedua, Adzan dihari hujan atau badai.

Bila terjadi hujan lebat ataupun angin kencang atau malam yang sangat dingin, maka pada kondisi seperti ini disunnahkan untuk shalat di rumah atau di tempat masing-masing. Karena itu, dalam kondisi tersebut ada lafadz khusus di dalam adzan yang harus dikumandangkan. Lafadz tersebut ada 3 macam:

1. أَلاَ صَلُّوا فِى رِحَالِكُمْ
2. أَلاَ صَلُّوا فِى الرِّحَالِ
3. صَلُّوا فِى بُيُوتِكُمْ.

Salah satu dari 3 lafadz di atas bisa dipakai dalam adzan ketika kondisi hujan lebat, angin kencang dan udzur lainnya.

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Nafi’ dari Ibnu Umar:

أَنَّهُ نَادَى بِالصَّلاَةِ فِى لَيْلَةٍ ذَاتِ بَرْدٍ وَرِيحٍ وَمَطَرٍ فَقَالَ فِى آخِرِ نِدَائِهِ أَلاَ صَلُّوا فِى رِحَالِكُمْ أَلاَ صَلُّوا فِى الرِّحَالِ. ثُمَّ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَأْمُرُ الْمُؤَذِّنَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةٌ بَارِدَةٌ أَوْ ذَاتُ مَطَرٍ فِى السَّفَرِ أَنْ يَقُولَ أَلاَ صَلُّوا فِى رِحَالِكُمْ.

Artinya: “Ibnu Umar pernah adzan untuk shalat di malam yang dingin, anginnya kencang dan hujan, kemudian dia mengatakan di akhir adzan,
Alaa shollu fi rihaalikum,
Alaa shollu fir rihaal’
[Shalatlah di rumah kalian, shalatlah di rumah kalian]’.
Kemudian beliau mengatakan,”Sesungguhnya Rasulullah SAW biasa menyuruh muadzin, apabila cuaca malam dingin dan berhujan ketika beliau safar untuk mengucapkan, ’Alaa shollu fi rihaalikum’ [Shalatlah di tempat kalian masing-masing].” (HR. Muslim dan Abu Daud).

Dari hadits di atas, bila hari hujan lebat atau angin kencang, maka lafadz adzan ditambah akhirnya dengan: alaa shallu fii buyuutkum.

Adapun berdasarkan hadits lain, tambahan kalimat tersebut sebagai pengganti hayya ‘alash shalah dan hayya ‘alal falah. Yaitu hadits dari Ibnu Abbas ra, Beliau berpesan kepada mu’adzin pada saat turun hujan:

إِذَا قُلْتَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَلاَ تَقُلْ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ قُلْ صَلُّوا فِى بُيُوتِكُمْ.

Artinya: “Apabila engkau selesai mengucapkan ‘Asyhadu allaa ilaha illalloh, asyhadu anna Muhammadar Rasulullah’, maka janganlah engkau ucapkan ‘Hayya ’alash sholaah’. Tetapi ucapkanlah ‘Sholluu fii buyutikum’ [Sholatlah di rumah kalian].

قَالَ : فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَاكَ فَقَالَ أَتَعْجَبُونَ مِنْ ذَا قَدْ فَعَلَ ذَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّى إِنَّ الْجُمُعَةَ عَزْمَةٌ وَإِنِّى كَرِهْتُ أَنْ أُحْرِجَكُمْ فَتَمْشُوا فِى الطِّينِ وَالدَّحْضِ.

Masyarakat pun mengingkari perkataan Ibnu Abbas tersebut. Lalu Ibnu Abbas mengatakan, “Apakah kalian merasa heran dengan hal ini, padahal hal ini telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (Rasulullah SAW).” (HR. Muslim dan Abu Daud).

Kedua metode ini disahkan dalam madzhab Imam Syafi’i. Baik dipakai di akhir adzan ataupun dipakai ditengah adzan. Dalil ini juga menjadi salah satu landasan yang kuat untuk shalat berjamah di rumah dalam kondisi wabah covid 19. Sebab virus corona jauh lebih berbahaya dari hujan ataupun angin kencang. Maka udzur syar’inya lebih kuat.

  • Ketiga, Keluar masjid setelah adzan.

Terdapat dalil-dalil yang sangat kuat yang melarang seseorang keluar dari masjid bila adzan sudah selesai dikumandangkan. Kecuali karena ada udzur dan berniat untuk kembali lagi.

Dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dia berkata:

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كُنْتُمْ فِي الْمَسْجِدِ فَنُودِيَ بِالصَّلَاةِ فَلَا يَخْرُجْ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُصَلِّيَ

Artinya: “Rasulullah SAW memerintahkan kami: “Jika kalian di masjid, kemudian adzan dikumandangkan, maka kalian tidak boleh keluar sampai menyelesaikan shalat.” (HR. Ahmad).

Dalam hadist lain yang yang shahih, dinyatakan bahwa perbuatan keluar masjid setelah adzan selesai merupakan sebuah maksiat kepada Rasulullah SAW.

عَنْ أَبِي الشَّعْثَاءِ قَالَ : كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَأَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ ، فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ الْمَسْجِدِ يَمْشِي ، فَأَتْبَعَهُ أَبُو هُرَيْرَةَ بَصَرَهُ حَتَّى خَرَجَ مِنْ الْمَسْجِدِ ، فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ : (أَمَّا هَذَا فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya: Dari Abu Asy Sya’tsa, ia berkata: “Ketika itu kami sedang duduk-duduk di masjid bersama Abu Hurairah. Kemudian muadzin pun beradzan. Ada seorang lelaki berdiri berjalan. Maka Abu Hurairah tidak melepaskan pandangan terhadap lelaki tersebut hingga akhirnya lelaki tersebut keluar masjid. Maka Abu Hurairah berkata: “Adapun orang ini ia telah bermaksiat kepada Abul Qasim (Rasulullah) SAW.” (HR. Muslim).

Maka keluar masjid setelah adzan berkumandang adalah terlarang (haram) hukumnya. Kecuali kalau ada udzur syar’i seperti memperbaharui wudhuk atau sejenisnya.

  • Keempat, Adzan untuk shalat sendirian.

Apabila seseorang shalat sendirian, tetap dianjurkan (mustahab) melakukan adzan dan iqamah. Ini merupakan pendapat jumhur ulama. Ini berdasarkan hadits shahih dari Abu Said al-Khudri, ia berkata:

إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ، فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ، أَوْ بَادِيَتِكَ، فَأَذَّنْتَ بِالصَّلاَةِ، فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ، فَإِنَّهُ لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ، وَلاَ شَيْءٌ، إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، قَالَ أَبُو سَعِيدٍ: سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم

Artinya: “Saya lihat, kamu suka menggembala kambing dan berada di tempat yang jauh dari pemukiman. Ketika kamu jauh dari pemukiman, (ketika masuk waktu shalat), lakukanlah adzan dan keraskan suara adzanmu. Karena semua jin, manusia atau apapun yang mendengar suara muadzin, akan menjadi saksi kelak di hari kiamat. Seperti itu yang aku dengar dari Nabi SAW.” (HR. Bukhari).

  • Kelima, Menambah lafadz lain di luar adzan.

Di sebagian tempat, terjadi penambahan-penambahan kalimat atau banyak kalimat ke dalam adzan. Mungkin tambahan itu di awal, atau di tengah, atau mungkin di akhir.

Misalnya adalah kalimat-kalimat tasbih dan puji-pujian sebelum waktu shubuh atau sebelum adzan shubuh. Itu semua bukanlah bagian dari adzan. Dan tidak boleh dianggap sebagai adzan. Syekh Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqh Sunnahnya menyatakan bahwa tidak ada satupun dari Ulama 4 madzhab yang menganjurkan hal tersebut.

Contoh penambahan di tengah adzan adalah menambahkan kalimat “sayyidnaa” sebelum lafadz Muhammad. Hal ini tidaklah dibenarkan. Sebab, penambahan atau pengurangan pada lafadz yang ma’tsur dalam beribadah, tidaklah dibolehkan. Adapun diluar ibadah seperti dalam pidato atau ceramah dan pembicaraan, penambahan itu dibolehkan (Ibnu Hajar Al Asqalani).

Contoh penambahan di akhir adalah, mengeraskan ucapan shalawat dan salam untuk Rasulullah SAW, seiring dengan selesainya adzan. Hal seperti ini tidaklah dianjurkan. Cukuplah muadzin membacanya sendiri secara sir atau berbisik. Agar kemudian tambahan itu tidak dianggap sebagai bagian dari adzan.

Wallahu A’laa wa A’lam.

Bersambung…