Oleh: Ustadz H. Irsyad Syafar, Lc., M.Ed

e. Meluruskan Shaf dalam Shalat Berjamaah

Meluruskan dan merapatkan shaf shalat adalah Sunnah, dan hal yang sangat penting serta selalu dilakukan oleh Rasulullah SAW. Beliau senantiasa memerintahkan para sahabat untuk meluruskan shaf. Bahkan Beliau menyatakan hal itu bagian dari kesempurnaan shalat:

عن أنس أنّ النبيّ صلى الله عليه و سلم قال سوّوا صفوفكم فإنّ تسوية الصفوف من تمام الصلاة

Artinya: Dari Anas r.a. bahwa Nabi SAW bersabda : “Ratakanlah shafmu karena meratakan shaf itu termasuk dari sebagian kesempurnaan shalat”.(H.R.Bukhari dan Muslim).

Rasulullah SAW meluruskan shaf sampai lurus seperti tombak atau anak panah. Dari hadits yang diriwayatkan oleh An-Nu’man bin Basyir ra, dia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَوِّي الصَّفَّ حَتَّى يَجْعَلَهُ مِثْلَ الرُّمْحِ أَوْ الْقِدْحِ قَالَ فَرَأَى صَدْرَ رَجُلٍ نَاتِئًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوُّوا صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ

Artinya: “Rasulullah SAW biasa meluruskan shaf sehingga Beliau menjadikannya seperti tombak atau anak panah (karena sangat lurusnya-pen). Kemudian Beliau melihat dada seorang laki-laki menonjol, maka Rasulullah SAW bersabda: “Luruskanlah shaf-shaf kamu atau Allah benar-benar akan menjadikan hati kamu berselisih”. [HR. Ibnu Majah dan An-Nasai)

Dalam meluruskan shaf, imam disunnahkan berdiri menghadap jamaah sebelum memulai takbiratul ihram, untuk memastikan shaf telah lurus. Sebagaimana hadir dari Anas bin Malik, ia berkata:

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يقبل علينا بوجهه قبل أن يكبّر فيقول تراصّوا واعتدلوا

Artinya: “Nabi SAW menghadapkan mukanya kepada kita sebelum bertakbir seraya bersabda :” rapatkan dan luruskanlah shafmu”.(H.R.Bukhari Muslim)

Adapun patokan lurusnya shaf adalah dengan meluruskan tumit di tepi sajadah, bukan dengan meluruskan jari-jari kaki. Sebab tumit adalah tempat bertumpunya badan. Ada orang yang panjang telapak kakinya dan ada yang pendek telapak kakinya. Akan tetapi semuanya bertumpu di atas tumit. Apabila tumit sudah lurus, maka shaf akan lurus.

Sedangkan acuan merapatkan shaf adalah dengan saling berdekatannya (nyaris bersentuhan) antara sesama pundak dan sesama kaki orang yang bersebelahan. Karena itu, dalam shalat berjamaah, setiap makmum mesti membuka kakinya selebar pundaknya masing-masing. Yang gemuk selebar gemuknya dan yang kurus selebar kurusnya. Jika semua sudah seperti itu, maka shaf akan rapat, tidak ada celah antara orang-orang yang shalat. Rasulullah SAW bersabda dalam meluruskan dan merapatkan shaf:

أقيموا الصفوف وحاذوا بين المناكب وسدوا الخلل ولينوا بأيدي إخوانكم ، ولا تذروا فرجات للشيطان ومن وصل صفا وصله الله ومن قطع صفا قطعه الله

Artinya: “Luruskan shaf dan luruskan pundak-pundak serta tutuplah celah. Namun berlemah-lembutlah terhadap saudaramu. Dan jangan kalian biarkan ada celah untuk syetan. Barangsiapa yang menyambung shaf, Allah akan menyambungnya. Barangsiapa yang memutus shaf, Allah akan memutusnya” (HR. Abu Daud)

Dalam hadits lain Anas bin Malik menjelaskan:
كان أحدُنا يَلزَقُ مَنكِبَه بمَنكِبِ صاحبِه، وقدمَه بقدمِه
Artinya: “Setiap orang dari kami (para sahabat), merapatkan pundak kami dengan pundak sebelahnya, dan merapatkan kaki kami dengan kaki sebelahnya” (HR. Al Bukhari)

Rapatnya pundak dan kaki disini bukanlah sangat menempel apalagi sampai menyakiti kaki atau jari saudara sebelah kita.

f. Shaf yang Paling Utama Bagi Makmum

Disamping bershalat jama’ah tersebut memiliki banyak keutamaan dibanding shalat sendirian, begitu juga posisi seseorang dalam shaf ketika shalat berjama’ah pun memiliki keutamaan yang bertingkat-tingkat. Tingkatan yang disepakati oleh para ulama adalah sekaitan dengan shaf pertama, kedua dan seterusnya sampai terakhir.

Maka shaf yang terbaik bagi laki-laki adalah shaf pertama. Dan shaf terbaik bagi kaum wanita adalah shaf terakhir. Hal ini sesuai sabda Nabi SAW:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاسْتَهَمُوا

Artinya: “Seandainya manusia mengetahui keutamaan yang ada pada adzan dan shaf pertama, lalu mereka tidak akan mendapatkannya kecuali dengan mengundi, pastilah mereka akan mengundinya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain Beliau SAW juga bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصُّفُوفِ الْمُتَقَدِّمَةِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para Malaikatnya bershalawat pada orang-orang yang berada di shaf pertama” (HR. An Nasa-i)

Adapun dalil yang membedakan antara laki-laki dan wanita dalam hal ini, Nabi SAW bersabda:

خيرُ صفوفِ الرجالِ أولُها . وشرُّها آخرُها . وخيرُ صفوفِ النساءِ آخرُها . وشرُّها أولُها

Artinya: “Shaf yang terbaik bagi laki-laki adalah yang pertama, yang terburuk adalah yang terakhir. Sedangkan shaf yang terbaik bagi wanita adalah yang terakhir, yang terburuk adalah yang pertama” (HR. Muslim)

g. Memperhatikan bacaan Imam dan Kewajiban fatihah bagi makmum

Dalam shalat berjamaah, imam adalah untuk diikuti gerakannya dan disimak bacaannya. Jangan sampai makmum mendahului imam dalam gerakan dan sibuk pula dengan bacaan sendiri sementara imam membaca pula sendiri. Maka hilanglah makna berjamaah.

Di satu sisi setiap orang yang shalat, wajib membaca Al Fatihah dalam shalatnya. Sebagaimana Hadits Ubadah bin Shamit, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:

لا صلاة لمن لم يقرأ بفا تحة الكتاب
Artinya: “Tiada sah shalat orang yang tidak membaaca ummul kitab (Al Fatihah)”.(H.R.Bukhari Muslim).

Namun disisi lain, makmum juga dilarang membaca ayat-ayat lain di belakang imam, kecuali surat Al Fatihah. Sebagaimana hadits Ubadah yang lain:

صلّى رسول الله صلى الله عليه و سلم الصبح فثقلت عليه القراءة فلما انصرف قال اني أراكم تقرؤون وراء إمامكم قال قلنا يا رسول الله اي والله قال لاتفعلوا الا بأمّ القرآن

Artinya: “Rasulullah SAW shalat shubuh, lalu beliau mendengar orang-orang makmum yang nyaring bacaannya. Setelah selesai shalat beliau menegur : Aku kira kamu sama membaca di belakang imammu?. Kata ‘Ubadah : kami menjawab : “Ya, wahai Rasulullah, demi Allah benar.” Maka beliau bersabda : Janganlah kau mengerjakan yang demikian, kecuali dengan bacaan fatihah.(H.R.Ahmad, Daruqutni, Baihaqi).

Sementara itu, dari hadits yang diriwayatkan oleh Anas ra. ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apakah engkau membaca dalam shalatmu di belakang imammu, padahal imam itu membaca? Janganlah kamu mengerjakannya, hendaklah seseorang membaca fatihah pada dirinya sendiri. (yaitu dengan suara yang rendah yang di dengar sendiri)”.(H.R.Ibnu Hibban).

Sebagian ulama berpendapat tidak wajib bagi makmum untuk membaca fatihah dalam shalat jahr di belakang imam. Berdasarkan firman Allah SWT :
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْءَانُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: “Dan apabila di bacakan Al-qur’an maka dengarkanlah olehmu dan diamlah kamu agar supaya kamu mendapat rahmat.” (Al A’raf : 204)

Juga berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang Beliau telah bersabda:

انما جعل الإمام ليؤتمّ به فإذا كبّر فكبّروا واذا قرأ فانصتوا
Artinya: Sesungguhnya dijadikan imam untuk diikuti apabila ia takbir maka bertakbirlah kamu dan apabila membaca diamlah kamu (memperhatikan) (H.R Ahmad)

Dari dalil-dalil di atas, maka dapat disimpulkan bahwa untuk shalat yang bacaannya sirriyah seperti shalat zhuhur, ashar, rakaat ke 3 magrib, raka’aat 3 dan 4 shalat Isya, maka semua wajib membaca Al Fatihah masing-masing di setiap rakaatnya. Adapun pada bacaan imam yang jahriyah, seperti shalat Shubuh, dua rakaat pertama Magrib dan Isya, maka makmum menyimak bacaan Al Fatihah imam, kemudian boleh membaca Al fatihah dalam dirinya atau mencukupkan kepada bacaan imam.

h. Minimal mendapatkan rakaat dan mendapatkan jamaah.

Apabila seseorang mendapatkan ruku’ bersama imam, maka ia telah mendapatkan satu raka’at. Hal ini merupakan pendapat jumhur ulama. Landasannya adalah hadits Abu Bakrah, ketika ia mendapatkan jama’ah dalam keadaan ruku’, ia melakukan ruku’ dari sebelum masuk dalam shaf. Nabi SAW diceritakan hal tersebut dan beliau berkata:

زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ

Artinya: “Semoga Allah memberikan terus semangat padamu. Namun seperti itu jangan diulangi.” (HR. Bukhari).

Lalu kapan seseorang dianggap mendapatkan shalat berjamaah? Menurut pendapat yang kuat adalah bila seseorang yang mendapatkan satu raka’at bersama jamaah. Pendapat ini berdasarkan dalil yang sangat kuat, yaitu hadits dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ

Artinya:“Siapa yang mendapatkan satu raka’at, maka ia mendapatkan shalat jama’ah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Berarti orang yang tidak mendapatkan satu raka’at maka ia dianggap telah ketingalan shalat berjamaah.

i. Masbuq dalam shalat berjamaah.

Masbuq adalah orang yang terlambat mengikuti shalat berjamaah dan tidak mendapatkan satu rukuk bersama imam. Bila seseorang terlambat dalam shalat berjamaah, maka dia harus mengikuti imam dalam semua perbuatan shalat, lalu menyempurnakan yang terlewatkan. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah SAW :

إِذَا سَمِعْتُمُ الإِقَامَةَ، فَامْشُوا إِلَى الصَّلاَةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالوَقَارِ، وَلاَ تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

Artinya: “Apabila kalian telah mendengar iqamah, maka berjalanlah menuju shalat dan hendaklah kalian berjalan dengan tenang dan santai dan jangan terburu-buru. Yang kalian dapati maka shalatlah dan yang terlewatkan maka sempurnakanlah.” (HR. Bukhari).

Bila seorang masbuq mendapatkan imam dalam keadaan sujud atau duduk diantara dua sujud, maka ia langsung takbiratul ihram dan kemudian mengikuti gerakan imam. Tidak menunggu imam naik berdiri. Bila imam duduk, ia juga duduk, dan bila imam sedang sujud ia juga sujud. Sedangkan rakaat yang dihitung adalah berdasarkan rak’aat yang ia dapatkan rukuknya bersama imam. Sebagaimana dari hadits Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:

” إِذَا جِئْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ وَ نَحْنُ سُجُوْدٌ فَاسْجُدُوْا وَ لاَ تَعُدُّوْهاَ شَيْئاً وَ مَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ “رواه أبو داود

Artinya: Apabila kamu datang untuk shalat, padahal kami sedang sujud, maka bersujudlah, dan jangan kamu hitung sesuatu (satu raka’at) dan siapa yang mendapatkan ruku’, bererti ia mendapat satu rak’at dalam sholat (nya).” (HR Abu Daud)

Apabila imam sudah menyelesaikan shalat dengan salam ke kanan dan ke kiri, maka masbuq langsung naik menambah jumlah rakaat yang tinggal. Acuan gerakan shalat bagi masbuq saat menambah kekurangannya adalah jumlah raka’at yang sudah ia selesaikan. Bukan pada gerakan imam.

Misalnya seseorang masbuq pada rakaat kedua shalat magrib, dimana ia datang ketika imam sudah sujud pada rakaat kedua. Maka ia langsung sujud mengikuti imam. Tetapi ia tidak mendapatkan rakaat kedua tersebut. Berarti ia hanya mendapatkan satu raka’at saja, yaitu raka’at ketiga. Maka ketika imam sudah selesai salam ke kiri, ia bangkit untuk masuk ke raka’at kedua. Sehingga ia akan tasyahud pertama. Lalu di rakaat ketiga melakukan tasyahud akhir. Pada contoh ini ia melakukan 4 kali tasyahud. Dua kali bersama imam dan dua kali yang ia lakukan sendiri.

Bolehkah seorang masbuq menjadi imam bagi orang lain yang datang terlambat? Hal ini diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian menyatakan tidak boleh dan tidak sah. Sebagian yang lain menyatakan boleh. Masing-masing tentu memiliki dalil dalam pendapatnya. Imam Syafi’i dan imam Hambali berpendapat hal ini boleh dan shalatnya sah. Imam Ibnu Taimiyah menguatkan pendapat kedua ini.

j. Imam yang tidak disukai oleh jamaah

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bahili ra, Nabi SAW bersabda:

ثَلَاثَةٌ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ آذَانَهُمْ : الْعَبْدُ الْآبِقُ حَتَّى يَرْجِعَ ، وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ ، وَإِمَامُ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ

Artinya: “Ada 3 orang yang shalatnya tidak bisa naik melebihi telinganya: budak yang lari dari tuannya sampai dia kembali, wanita yang menjalani waktu malamnya, sementara suaminya murka kepadanya, dan imam sebuah jamaah, sementara para jamaah membencinya.” (HR. Tirmudzi)

Berdasarkan hadits ini seseorang yang menjadi imam tetapi kurang disukai atau malah dibenci oleh kebanyakan makmumnya, bisa berakibat shalatnya tidak sampai kepada Allah SWT. Terkait masalah ini para ulama membahsanya. Adapun yang dimaksud imam yang dibenci disini adalah:

1) Imam yang banyak kekurangan agamanya, tidak memenuhi syarat menjadi imam, akan tetapi memaksakan diri menjadi imam. Sebaiknya pengurus masjid segera menggantinya.
2) Imam yang tidak baik agamanya, tapi berkuasa di masjid. Orang lain tidak berdaya menukarnya. Maka kita boleh memilih masjid yang lain.

Demikian kajian shalat berjamaah, semoga Allah SWT meredhai. Wallahu A’laa wa A’lam.