Oleh: Ustadz H. Irsyad Syafar, Lc., M.Ed

HAL-HAL YANG MUBAH DALAM SHALAT.

Beberapa hal berikut ini hukumnya adalah mubah (diperbolehkan) di dalam shalat:

a. Menangis, merintih.

Bila seseorang menangis atau merintih di dalam shalat, maka hal itu tidaklah membatalkan shalat. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menangis ketika shalat. Begitu juga Abu Bakar ra. juga menangis dalam shalatnya. Diriwayatkan pula bahwa Umar ra shalat subuh dan menangis ketika membaca surah Yusuf. Allah SWT memuji hambaNya yang bersujud dan menangis:

إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا.

Artinya: “Apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58).

b. Sedikit gerakan karena kebutuhan di dalam Shalat.

Diriwayatkan oleh Abu Qatadah Al Anshari bahwa Rasulullah SAW menggendong bayi di dalam shalatnya:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَلأَبِي الْعَاصِ بْنِ الرَّبِيعِ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا، وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا. (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah SAW melaksanakan shalat dan Beliau sedang menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah SAW, istri Abul ‘Ash bin Rabi’. Jika Beliau sujud, beliau letakkan bayi tersebut. Jika berdiri, Beliau angkat kembali.” (HR Bukari dan Muslim).

c. Membunuh hewan yang membahayakan.

Hal ini dibolehkan karena berdasarkan hadits Nabi SAW:

اقتلوا الأسودين في الصَّلاة، الحيَّة والعَقْرب»، رواه أصحاب السنن.

Artinya: “Bunuhlah dua hewan hitam dalam shalat, ular dan kala jengking.” (HR Pemilik sunan).

d. Berjalan sedikit karena ada kebutuhan tanpa merubah posisi dari arah kiblat.

Rasulullah SAW pernah melakukannya sebagaimana riwayat imam Ahmad, Abu Daud, At Tirmidzi dan An Nasa’i, dari Aisyah RA. Berjalan sedikit juga boleh dilakukan karena hendak memenuhkan shaf yang kosong di samping atau di depan kita.

Ibnu Abbas menceritakan peristiwa Rasulullah SAW maju dan mundur di saat shalat. Ketika terjadi gerhana matahari di zaman Nabi SAW Beliau shalat. Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, kami melihat Anda maju hendak mengambil sesuatu di tempat shalat Anda lalu kami lihat Anda mundur.” Beliau menjawab:

إِنِّي أُرِيتُ الْجَنَّةَ فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُودًا وَلَوْ أَخَذْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا

Artinya: “Telah diperlihatkan kepadaku surga, dan aku hendak mengambil setangkai anggur, yang bila saja aku berhasil mengambilnya, tentu kalian akan ikut memakannya, dan tetap ada sampai dunia habis.” (HR. Bukhari)

e. Menoleh dengan wajah ketika darurat atau ketika diperlukan saja.

Hal ini dibolehkan dengan syarat tidak mengubah badan dari arah kiblat. Sebagaimana dalam hadits riwayat Sahl bin Hanzhalah:

ثُوِّبَ بِالصَّلاَةِ يَعْنِي صَلاَةَ الصُّبْحِ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَهُوَ يَلْتَفِتُ إِلَى الشِّعْبِ

Artinya: “Dibacakan iqamat shalat Subuh. Lalu Rasulullah SAW shalat seraya menoleh ke arah Syi’bi.” (HR. Abu Daud)

f. Menjawab salam dengan isyarat tangan.

Rasulullah SAW melakukan hal tersebut ketika para sahabat memberi salam di saat Beliau shalat, sebagaimana hadits dari Bilal bin Rabah:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرُدُّ عَلَيْهِمْ حِينَ كَانُوا يُسَلِّمُونَ عَلَيْهِ وَهُوَ فِي الصَّلاَةِ قَالَ كَانَ يُشِيرُ بِيَدِهِ

Artinya: “Adalah Nabi SAW menjawab para sahabat yang mengucapkan salam kepada Beliau di saat beliau shalat, yaitu dengan berisyarat memakai tangannya.” (HR. Tirmidzi).

g. Membetulkan imam.

Bila imam tersalah dalam gerakan shalat, maka makmum yang dibelakang imam boleh mengingatkan dengan cara bertasbih bagi laki-laki dan menepuk tangan bagi wanita. Sebagaimana sabda Nabi SAW:

إِذَا نَابَكُمْ شَيْءٌ فِي الصَّلَاةِ فَلْيُسَبِّحِ الرِّجَالُ، وَلْيُصَفِّحِ النِّسَاءُ

Artinya: “Jika kalian mengalami sesuatu -dalam shalat- maka hendaknya bagi orang laki-laki untuk bertasbih dan bagi orang perempuan untuk bertepuk tangan. (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i)

Jika imam tersalah dalam ayat yang dibaca atau terlupa, maka makmum yang di belakang dibolehkan mengingatkan imam dengan mendiktekan ayat yang benar. Rasulullah SAW bersabda:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى صَلَاةً فَقَرَأَ فِيهَا فَلُبِسَ عَلَيْهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ لِأُبَيٍّ أَصَلَّيْتَ مَعَنَا ،قَالَ نَعَمْ، قَالَ فَمَا مَنَعَكَ.

Artinya: “Bahwa Nabi SAW mengerjakan shalat dan membaca (beberapa ayat al-Quran) dalam shalatnya, dan Beliau tersalah-salah dalam bacaannya. Seusai shalat Beliau bersabda kepada Ubay: “Apakah kamu tadi ikut shalat bersama kami?” Ubay menjawab; Ya. Beliau berkata: “Apa yang mencegahmu (untuk tidak membenarkan tentang ayat tadi)?” (HR. Abu Dawud).

HAL-HAL YANG MAKRUH KETIKA SHALAT.

Ada beberapa perkara yang makruh untuk dilakukan ketika shalat. Di antaranya adalah sebagai berikut:

a. Meninggalkan hal-hal yang sunat di dalam shalat.

b. Menoleh saat shalat dengan memalingkan leher tanpa ada keperluan mendesak.

Dari ‘Aisyah ra, ia bertanya pada Rasulullah SAW mengenai berpaling (menoleh) dalam shalat. Nabi SAW lantas menjawab:

هُوَ اخْتِلاَسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلاَةِ الْعَبْدِ

Artinya: “Itu adalah copetan yang dicopet oleh syetan dalam shalat seseorang.” (HR. Bukhari).

Adapun jika ada kebutuhan untuk menoleh seperti saat shalat khauf ketika akan datangnya musuh, maka hal itu dibolehkan.
Yang dimaksud dari bahasan di atas adalah jika menoleh dengan memalingkan wajah atau leher. Adapun jika memalingkan dada sehingga menjauh dari arah kiblat, shalatnya batal karena meninggalkan rukun menghadap kiblat. Adapun mencuri pandangan dengan mata, tidaklah mengapa dalam kondisi darurat.

c. Berkacak pinggang.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dia berkata:

نُهِيَ أَنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ مُخْتَصَرًا.

Artinya: “Dilarang shalat sambil berkacak pinggang.” (HR Bukhari dan Muslim).

d. Menguap.

Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda:

اَلتَّثَـاؤُبُ فِي الصَّلاَةِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا تَثَـاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَكْظِمْ مَا اسْتَطَاعَ.

Artinya: “Menguap dalam shalat adalah dari syaitan. Jika salah seorang dari kalian menguap, maka tahanlah sebisa mungkin.” (HR Tirmidzi)

e. Memandang ke langi-langit.

Hal ini berdasarkan hadits dari Anas bin Malik ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِى صَلاَتِهِمْ » . فَاشْتَدَّ قَوْلُهُ فِى ذَلِكَ حَتَّى قَالَ « لَيَنْتَهُنَّ عَنْ ذَلِكَ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ

Artinya: “Kenapa bisa ada kaum yang mengangkat pandangannya ke langit-langit dalam shalatnya.” Beliau keras dalam sabda beliau tersebut, hingga beliau bersabda, “Hendaklah tidak memandang seperti itu, kalau tidak, pandangannya akan disambar.” (HR. Bukhari).

f. Meludah ke arah kiblat atau ke kanan.

Jabir ra, meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ يُصَلِّي فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قِبَلَ وَجْهِهِ، فَلاَ يَبْصُقَنَّ قِبَلَ وَجْهِهِ وَلاَ عَنْ يَمِيْنِهِ. وَلِيَبْصُقْ عَنْ يَسَـارِهِ تَحْتَ رِجْلِهِ الْيُسْرَى، فَإِنْ عَجِلَتْ بِهِ بَادِرَةٌ فَلْيَقُلْ بِثَوْبِهِ هكَذَا. ثُمَّ طَوَى ثَوْبَهُ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ.

Artinya: “Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian berdiri untuk shalat, maka sesungguhnya Allah SWT berada di hadapannya. Maka janganlah ia meludah ke arah depan atau ke kanan. Hendaklah ia meludah ke sebelah kiri di bawah kaki kirinya. Dan jika terlanjur keluar, maka hendaklah ia tumpahkan ke pakaiannya.” Beliau kemudian melipat bajunya satu sama lain.” (HR Muslim dan Abu Daud)

g. Menyilangkan jari-jemari

Dari Abu Hurairah ra, dia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فِيْ بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ كَانَ فِي صَلاَةٍ حَتَّى يَرْجِعَ، فَلاَ يَقُلْ هكَذَا، وَشَبَكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ.

Artinya: “Jika salah seorang di antara kalian wudhu’ di rumahnya kemudian mendatangi masjid, maka dia berada dalam sebuah shalat hingga pulang. Janganlah ia melakukan seperti ini.” Beliau menyilangkan jari-jemarinya. (Shahih Ibnu Khuzaimah)

h. Mendahului gerakan imam.

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda:

أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ اْلإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ، أَوْ يَجْعَلَ اللهُ صُوْرَتَهُ صُوْرَةَ حِمَارٍ.

Artinya: “Tidakkah salah seorang di antara kalian takut, Allah menjadikan kepalanya seperti kepala keledai bila dia mengangkat kepalanya sebelum imam. Atau menjadikan rupanya seperti rupa keledai.” (HR Bukhari dan Muslim).

i. Melakukan shalat ketika hidangan sudah disajikan atau ketika menahan buang air besar dan kecil.
Dari ‘Aisyah ra, dia berkata, “Aku mendengar Nabi SAW bersabda:

لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ، وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ اْلأَخْبَثَانِ.

Artinya: “Tidak (sempurna) shalat ketika hidangan sudah disajikan, dan tidak (sempurna) pula shalat orang yang menahan buang air besar atau kecil.” (HR Muslim dan Abu Daud).

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN SHALAT.

Berikut ini adalah hal-hal yang dapat membatalkan shalat:

a. Shalat akan langsung batal apabila seseorang berhadats kecil seperti buang angin, buang air kecil atau buang air besar, atau hadats besar seperti keluar darah haid. Hal ini sudah diterangkan di awal dalam tema syarat sah shalat.

b. Tidak menghadap kiblat atau berpaling ke arah bukan kiblat dengan sengaja. Kecuali ketika shalat di atas kendaraan. Hal ini juga termasuk dalam pembahasan syarat sah shalat.

c. Terbukanya aurat dengan sengaja. Sebab hal ini juga bagian dari syarat sah shalat.

d. Berbicara dan berkata-kata dengan sengaja di dalam shalat. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW:

إِنَّ هَذِهِ الصَّلاَةَ لاَ يَصْلُحُ فِيهَا شَىْءٌ مِنْ كَلاَمِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ”. رواه مسلم.

Artinya: “Sungguh shalat ini tidak pantas di dalamnya terdapat sesuatu dari perkataan manusia. Perkataan yang pantas hanyalah tasbih, takbir dan bacaan Al-Qur’an.” (HR. Muslim).

e. Tertawa terbahak-bahak membatalkan shalat, berdasarkan ijmak para Ulama.

f. Makan dan minum dengan sengaja, membatalkan shalat berdasarkan ijmak para ulama.

g. Bergerak yang tidak perlu dan berulang-ulang, yang bukan bagian dari gerakan dan kesempurnaan shalat, adalah membatalkan shalat berdasarkan ijmak para ulama.

h. Meninggalkan salah satu rukun shalat dengan sengaja, maka hal itu membatalkan shalat.

Sebagaimana perbuatan shalat orang yang buruk shalatnya dihadapan Rasulullah SAW. Ia tidak melakukan tumakninah dalam shalatnya sehingga Rasulullah SAW memerintahkannya untuk mengulangi shalatnya. Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah:

أنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَرَدَّ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَلَيْهِ السَّلاَمَ فَقَالَ « ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ » فَصَلَّى ، ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ » . ثَلاَثًا . فَقَالَ وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِى . قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا.

Artinya: “Nabi SAW ketika masuk masjid, maka masuklah seseorang, lalu ia melaksanakan shalat. Setelah itu, ia datang dan memberi salam pada Nabi SAW, lalu Beliau menjawab salamnya. Beliau berkata, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Lalu ia pun shalat dan datang lalu memberi salam pada Nabi SAW. Beliau tetap berkata yang sama seperti sebelumnya, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Sampai diulangi hingga tiga kali. Orang yang buruk shalatnya tersebut berkata, “Demi yang mengutusmu membawa kebenaran, aku tidak bisa melakukan shalat lebih baik dari itu. Makanya ajarilah aku!” Rasulullah SAW lantas mengajarinya dan bersabda, “Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Alquran yang mudah bagimu. Lalu rukuklah dan sertai tumakninah ketika rukuk. Lalu bangkitlah dan beriktidallah sambil berdiri. Kemudian sujudlah sertai tumakninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thumakninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai tumakninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wallahu A’laa wa A’lam.