Oleh : Ustadz. H. Irsyad Syafar, Lc., M.Ed

Adzan adalah sebuah ibadah dengan kalimat khusus, yang dikumandangkan bagi umat Islam untuk penanda masuknya waktu shalat sekaligus sebagai panggilan melaksanakan shalat.

1. Sejarah asal mula Adzan

Selama periode dakwah Nabi SAW di kota Makkah, belum ada syariat adzan. Karena memang kaum muslimin saat itu dalam situasi tertindas, dan mereka shalat dalam kondisi sembunyi-sembunyi, menghindari gangguan dan penindasan dari kafir Quraisy.

Ketika sudah hijrah ke Madinah, para sahabat shalat 5 waktu berjamaah bersama Rasulullah SAW. Tapi belum ada sarana atau alat penanda masuknya waktu shalat. Mereka menunggu-nunggunya dengan perkiraan saja. Bagi yang datang agak cepat berkumpul di masjid, mereka bisa shalat tepat waktu bersama Rasulullah SAW. Namun kadang ada yang agak terlambat (masbuq).

Kondisi seperti ini memang kurang nyaman bagi para sahabat. Sehingga suatu hari mereka bermusyawarah mendiskusi hal ini. Ada yang mengusulkan penggunaan lonceng sebagai panggilan shalat, meniru loncengnya kaum nashrani. Ada juga yang mengusulkan penggunaan tanduk (terompet) seperti terompetnya kaum yahudi.

Semua usulan itu tidak ada yang berkenan dalam diri Rasulullah SAW. Sebab hal itu telah menjadi identitas agama lain. Namun kebutuhan akan sarana penentu awal masuk waktu shalat semakin mendesak. Nyaris Rasulullah SAW cenderung akan memakai salah satunya, walaupun Beliau tidak suka hal tersebut.

Akan tetapi salah seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Zaid telah bermimpi diajarkan kalimat-kalimat adzan. Beliau berkata:

أَرَادَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فِى الأَذَانِ أَشْيَاءَ لَمْ يَصْنَعْ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ فَأُرِىَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ الأَذَانَ فِى الْمَنَامِ فَأَتَى النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ « أَلْقِهِ عَلَى بِلاَلٍ ».

Artinya: Abdullah bin Zaid berkata: “Nabi SAW berkeinginan untuk mencari cara dalam memberitahukan waktu shalat (azan), namun Beliau belum juga menemukannya”. Abdullah bin Zaid telah bermimpi mengenai kalimat-kalimat azan dalam tidurnya. Lalu dia mendatangi Nabi SAW untuk memberitahukan hal tersebut, kemudian Nabi SAW pun berkata “Ajarkanlah kata-kata itu kepada Bilal!”. (HR Abu Daud).

Dalam riwayat lain, Abdullah bin Zaid menceritakan, “Ketika Rasulullah SAW memerintahkan penggunaan lonceng untuk memanggil orang berkumpul untuk shalat, maka dalam tidurku, aku bermimpi ada seseorang yang mengelilingiku dengan memanggul lonceng di tangannya, lalu aku berkata kepadanya: “Wahai, hamba Allah. Apakah kamu menjual lonceng itu?” Maka ia menjawab: “Hendak engkau apakan ia?” Maka aku menjawb: “Memanggil orang untuk shalat dengannya”. Lalu orang tersebut menyatakan: “Maukah engkau, aku tunjukkan yang lebih baik dari itu?” Aku menjawab: “Ya, mau”. Maka orang tersebut mengajarkan seluruh kalimat-kalimat adzan.

Ketika terbangun dari tidurnya, Abdullah bin Zaid segera mendatangi Rasulullah SAW dan menceritakan mimpinya. Rasulullah SAW sangat senang dan menyatakan, “Itu adalah mimpi yang benar. Sampaikan kepada Bilal agar ia mengumandangkannya.”

Abdullah bin Zaid pergi menemui Bilal dan mengajarkan kalimat-kalimat adzan tersebut kepada Bilal. Ketika Bilal mengumandangkan adzan tersebut dengan suaranya yang keras dan lantang, Umar bin Khaththab mendengar hal itu di dalam rumahnya. Ia langsung keluar menyeret selendangnya dan menyatakan: “Demi Dzat yang mengutus Engkau dengan benar, wahai Rasulullah, sungguh akupun melihat apa yang ia lihat dalam mimpi”. Maka Rasulullah SAW menyatakan : “Alhamdulillah.” (HR Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Semenjak itu (tahun pertama hijriyah) adzan dijadikan sebagai pengingat masuknya waktu shalat hingga Rasulullah SAW wafat, dan sampai hari qiyamat kelak.

2. Lafadz adzan

Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmidzi, dari Abdullah bin Zaid, maka lafadz adzan adalah dengan 15 kalimat, yaitu : 4 takbir, 2 syahadat Lailaha illa Allah, 2 syahadat Rasulullah, 2 hayya ‘ala as shalat, 2 hayya ‘alal falah, 2 takbir dan 1 kalimat tauhid.

”اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ . أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ . أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ . حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ . حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ .اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ . لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ”

Inilah kalimat yang umum dipakai di seluruh negeri-negeri Islam di dunia. Walaupun ada sedikit perbedaan pendapat dalam 4 madzhab fiqh. Adapun khusus pada shalat shubuh, maka ada tambahan kalimat (tatswib) setelah Hayya ‘alal falah:

”الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ”

Tambahan kalimat ini dibaca sebanyak dua kali. Hal ini berdasarkan hadits Abu Mahdzurah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sunnah adzan.” Kemudian Beliau menyebutkannya. Hingga Beliau bersabda setelah ucapan “hayya ‘alal falah:

«فإن كان صلاة الصبح قلت : الصلاة خير من النوم الصلاة خير من النوم الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله»

Artinya: “Pada shalat subuh, engkau mengucapkan, “Ash-Shalatu khairum minan naum, ash-shalatu khairum minan naum, Allahu akbar, Allahu akbar.” (HR Abu Daud dan Ibnu Hibban).

Melakukan tatswib ini hanya disunnahkan untuk adzan shalat shubuh saja. Tidak untuk shalat 4 waktu yang lain; shalat zhuhur, ashar, magrib dan isya.

Adapun bila sebuah masjid juga melakukan adzan tengah malam menjelang shubuh, maka adzan tambahan di awal tersebut adalah adzan biasa, tidak memakai tatswib (tambahan ashshalaatu khairum minan naum). Sebab, dalam hadits jelas-jelas menyebutkan “adzan untuk shalat shubuh”. Dan yang dikatakan adzan shalat shubuh adalah adzan ketika waktu shubuh telah masuk. Bukan adzan sebelum waktu shubuh.

3. Keutamaan Adzan dan muadzin

Banyak sekali keutamaan dan kemuliaan adzan dan muadzin, antara lain adalah:

Pertama, sangat dianjurkan berlomba-lomba dalam melakukan dan menyambutnya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

قَالَ لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا.

Artinya: “Seandainya manusia mengetahui (kebaikan) apa yang terdapat pada panggilan shalat ( adzan) dan shaf pertama lalu mereka tidak dapat meraihnya melainkan dengan mengundi tentulah mereka akan mengundinya.” (HR Bukhari).

Kedua, Adzan membuat Syetan lari menjauh, karena takutnya ia dengan seruan tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى.

Artinya: “Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka syetan akan lari sambil mengeluarkan kentut, hingga ia tidak mendengar suara adzan. Apabila panggilan adzan telah selesai maka syetan akan kembali. Dan bila iqamat dikumandangkan syetan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi, lalu menyelinap masuk kepada hati seseorang seraya berkata, ‘Ingatlah ini dan itu’. Dan terus saja dia melakukan godaan ini hingga seseorang tidak menyadari berapa rakaat yang sudah dia laksanakan dalam shalatnya.” (HR Bukhari).

Ketiga, Muadzin akan diampuni dosanya sejauh jangkauan suaranya. Dan semua makhluk yang mendengarkan adzannya akan membenarkannya. Sesuai sabda Rasulullah SAW:

الْمُؤَذِّنُ يُغْفَرُ لَهُ بِمَدِّ صَوْتِهِ وَيَشْهَدُ لَهُ كُلُّ رَطْبٍ وَيَابِسٍ سمع صوته.

Artinya, “Muadzin diampuni sejauh jangkauan adzannya. Seluruh benda yang basah maupun yang kering yang mendengar adzannya akan bersaksi untuknya.” (HR Ahmad).

Keempat, Muadzin akan dimuliakan Allah SWT di akhirat kelak dengan posisi yang tinggi melebihi orang lain. Rasulullah SAW bersabda:

الْمُؤَذِّنُونَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Seorang muazin memiliki leher yang panjang di antara manusia pada hari kiamat.” (HR. Muslim).

Kelima, Muadzin diampuni dosanya oleh Allah SWT dan dimasukkan ke dalam surga. Sebagaimana sabda Nabi SAW:

يَعْجَبُ رَبُّكُمْ مِنْ رَاعِى غَنَمٍ فِى رَأْسِ شَظِيَّةٍ بِجَبَلٍ يُؤَذِّنُ بِالصَّلاَةِ وَيُصَلِّى فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا إِلَى عَبْدِى هَذَا يُؤَذِّنُ وَيُقِيمُ الصَّلاَةَ يَخَافُ مِنِّى فَقَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِى وَأَدْخَلْتُهُ الْجَنَّةَ

Artinya: “Rabb kalian begitu takjub terhadap si pengembala kambing di atas puncak gunung yang mengumandangkan azan untuk shalat dan ia menegakkan shalat. Allah pun berfirman, “Perhatikanlah hamba-Ku ini, ia beradzan dan menegakkan shalat (karena) takut kepada-Ku. Karenanya, Aku telah mengampuni dosa hamba-Ku ini dan aku masukkan ia ke dalam surga”. (HR. Abu Daud dan An Nasai).

Masih banyak lagi keutaaman adzan dan muadzin. Sampai-sampai ‘Aisyah pernah berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

الْإِمَامُ ضَامِنٌ وَالْمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنٌ، فَأَرْشَدَ اللهُ الْأَئِمّةَ وَعَفَا عَنِ المْؤَذِّنِيْنَ.

Artinya: “Imam adalah penjamin sedangkan muazin adalah orang yang diamanahi. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada para imam dan mengampuni para muazin.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya).

Hadits ini menunjukkan muadzin lebih mulia dari pada imam shalat. Muadzin mendapat amanah, sedangkan imam hanya penjamin. Amanah lebih utama dari pada jaminan. Muadzin mendapat ampunan, sedangkan imam mendapat petuntuk. Ampunan lebih utama dari petunjuk.

Sejalan juga dengan firman Allah SWT:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ.

Artinya: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS Fushshilat: 33).

Maka muadzin posisinya adalah orang yang menyeru kepada Allah Ta’alaa. Kemuliaan yang begitu banyak ini, seharusnya menjadikan setiap muslim bersemangat menjadi muadzin, dan tidak malu seperti yang menimpa kebanyakan kaum muslimin.

Wallahu A’laa wa A’lam.