Oleh: Ustadz Irsyad Syafar, Lc., M.Ed

Ketika ujian dan musibah datang menimpa, maka pikiran dan kesibukan akan banyak tersita oleh musibah tersebut. Dan itu akan sangat berpengaruh kepada amal dan ibadah orang yang tertimpa ujian dan musibah tersebut. Maka barang siapa yang disaat kondisi seperti itu terus mengingat dan memperhatikan amal ibadahnya, pahalanya akan sangat besar di sisi Allah SWT. Inilah yang disampaikan oleh Rasulullah dalam haditsnya:

ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنْ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَدَعْ الْعَوَامَّ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ. (رواه الترميذي).

Artinya: “Perintahkanlah kebaikan dan cegahlah kemungkaran hingga kamu melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, kehidupan dunia lebih diprioritaskan dan kekaguman setiap orang dengan pendapatnya, engkau harus (berpegangan) terhadap mata hatimu dan tinggalkan orang-orang awam, karena dibalik kalian akan ada suatu masa dimana kesabaran saat itu laksana memegang bara api, orang yang beramal saat itu sama seperti pahala limapuluh orang yang melakukan seperti amalan kalian.” (HR Tirmidzi dari Abu Tsa’labah ra).

Hadits ini memerintahkan berbagai jenis amal shaleh seperti amar makruf, nahi mungkar, kesabaran dan amal lainnya ketika musibah dan ujian melanda. Dan bagi yang melakukannya akan memperoleh pahala 50 orang yang beramal sama di hari-hari biasa. Begitulah keutamaan beramal ibadah di masa-masa datang ujian.

Bahkan beribadah pada saat musibah menimpa bisa memperoleh pahala seperti pahala berhijrah kepada Rasulullah Saw di Madinah. Walaupun hijrah itu telah berakhir dengan direbutnya kota Makkah, akan tetapi pahala berhijrah masih bisa berlaku sampai akhir zaman. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ma’qil bin Yasar, Rasulullah Saw bersabda:

الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ. (رواه مسلم).

Artinya: “Beribadah di waktu fitnah bagaikan hijrah kepadaku.” (HR Muslim).

Tidak kita ragukan lagi bahwa zaman kita hidup sekarang ini sangat mirip dengan kondisi yang diisyaratkan oleh kedua hadits di atas. Bahkan berbagai jenis bencana dan musibah seolah-olah sangat dekat dengan kita. Maka karena itu menambah amal shaleh adalah suatu kemestian. Sebab bala bencana tidak mungkin akan terangkat tanpa kembali (rujuk) kepada Allah dalam bentuk bertaubat kepadaNya dan dengan menambah ibadah.

Ada beberapa bentuk amal ibadah yang mesti kita prioritaskan untuk ditambah dan ditingkatkan:

a. Ibadah-ibadah wajib

Yaitu seperti shalat lima waktu, puasa, zakat, menutup aurat (memakai hijab) perempuan, menjauhi riba, zina dan berbagai kemungkaran sejenisnya. Dan yang paling wajib lagi dikerjakan pada saat musibah menimpa adalah menunaikan segala yang akan mengangkat musibah tersebut dan meringankan beban kaum muslimin. Seperti membantu korban yang terkena bencana, menolong kaum dhuafa, menenangkan orang yang trauma, dan amalan lain yang meringankan beban bencana.

Tentu sebaliknya, bila ujian datang menerpa, lalu kita semakin lalai dari ibadah-ibadah wajib, dan hak-hak orang lain (kewajiban kita) tidak ditunaikan, niscaya kondisi itu akan semakin memperburuk situasi, menjauhkan datangnya rahmat dan pertolongan dari Allah. Akibatnya tentu musibah dan ujian tidak jadi diangkat oleh Allah SWT.

b. Amalan sunat (An Nawafil)

Yaitu amalan penambah dan pelengkap bagi amalan-amalan wajib. Seperti shalat-shalat sunat, puasa sunat, dzikir, sedekah, mengajak kepada kebaikan, menghadiri majelis-majelis ilmu, mengunjung orang yang sakit dan lain-lain.

Ibadah-ibadah sunat ini akan menambah kekokohan seorang muslim dan sekaligus menjadi penyebab hadirnya cinta Allah kepadanya. Bila seorang hamba senantiasa memperbanyak ibadah sunat, niscaya Allah akan mencintainya. Dan bila Allah telah cinta kepadanya maka pintu-pintu kemudahan akan terbuka lebar. Dan Allah akan membersamainya dalam berbagai situasi. Dalam hadits Qudsi riwayat Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda, Allah berfirman:

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيْذَنَّهُ. (رواه البخاري).

Artinya: “Siapa yang memusuhi waliku maka Aku telah mengumumkan perang dengannya. Tidak ada taqarrubnya seorang hamba kepada-Ku yang lebih aku cintai kecuali dengan beribadah dengan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hambaku yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil (perkara-perkara sunnah di luar yang fardhu) maka Aku akan mencintainy. Dan jika Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepadaku niscaya akan aku berikan dan jika dia minta perlindungan dari-Ku niscaya akan Aku lindungi“. (HR Bukhari).

Dan sangat perlu diperhatikan bahwa disaat banyak fitnah dan cobaan, kita lebih banyak fokus kepada amalan dan mengurangi pembicaraan. Sebab banyak bicara akan berpotensi jatuh kepada kesalahan. Sebagaimana pernyataan Umar bin Khattab: “Barangsiapa yang banyak bicaranya, akan banyak kesalahannya. Dan Rasulullah Saw telah memberikan arahan umum dalam hadits Abu Hurairah ra:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ. (متفق عليه).

Artinya: ““Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berkata baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim).

Wallahu Waliyyut taufiq.
(Dari kitab: Adabul Bala: Abdul Hamid Al Bilaliy).