Oleh: Ust. Irsyad Syafar, Lc., M.Ed

Jangan kita remehkan satu kebaikan. Sebab, kita tidak tahu kebaikan manakah yang menyebabkan kita masuk surga. Bisa jadi, kita hanya memberi seonggok sisa makanan untuk kucing ataupun anjing. Tapi karena ketulusan hati kita dalam melakukannya, tak ada pamrih dari amal tersebut, justru mendatangkan ridha dari Allah SWT.

Rasulullah SAW menceritakan adanya seorang pendosa yang mendapat ampunan dari Allah SWT karena ia memberi minum seekor anjing. Beliau bersabda:

أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا.

Artinya: “Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu mengelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.” (HR. Muslim).

Itu keutamaan kalau memberi minum seekor anjing. Bagaimanakah kira-kira balasan bagi orang yang memberi sebungkus nasi kepada tetangganya yang kelaparan? Atau seteguk air kepada pejalan kaki yang tengah haus?

Bisa jadi kita punya sebatang pohon yang berbuah, seperti pepaya. Lalu dimakan buahnya oleh manusia atau bahkan binatang sekalipun, seperti musang ataupun tupai. Atau kita punya sebidang sawah yang padinya tengah menguning. Lalu dimakan oleh burung-burung. Ternyata itu semua mendatangkan pahala sampai hari kiamat.

Sebagaimana Rasulullah SAW menyampaikan:

فَلَا يَغْرِسُ الْمُسْلِمُ غَرْساً، فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلَا دَابَّةٌ وَلَا طَيْرٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
وَفِي رِوَايَة لَهُ : لَا يَغْرِسُ مُسْلِمٌ غَرْساً، وَلَا يَزْرَعُ زَرْعاً، فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلَا دَابَّةٌ وَلَا شَيْءٌ إلاَّ كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً.

Artinya: “Maka tidaklah seseorang muslim itu menanam sesuatu tanaman, kemudian dari hasil tanamannya itu dimakan oleh manusia ataupun binatang, ataupun burung, kecuali semuanya itu adalah sebagai sedekah baginya sampai hari kiamat.
Dalam riwayat Muslim yang lain disebutkan: “Tidaklah seseorang muslim itu menanam sesuatu tanaman, tidak pula ia menanam sesuatu tumbuh-tumbuhan, kemudian dari hasil tanamannya itu dimakan oleh manusia, ataupun oleh binatang ataupun oleh apa saja, melainkan itu adalah sebagai sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bagaimanakah kiranya kalau kita memang menyengaja memberi makan faqir miskin atau menyantuni anak yatim, atau meringankan beban orang-orang yang lemah atau membutuhkan? Pastilah pahalanya semakin berlipat ganda.

Bahkan, hanya sekadar memasukkan rasa bahagia kepada sesama saudara kita kaum muslimin, itu sudah menjadi amalan yang paling utama. Apalagi bila berkhidmat melayani mereka. Umar bin Khattab pernah menceritakan bahwa ada yang bertanya kepada Rasulullah SAW:

أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «إِدْخَالُكَ السُّرُورَ عَلَى مُؤْمِنٍ أَشْبَعْتَ جَوْعَتَهُ، أَوْ كَسَوْتَ عُرْيَهُ، أَوْ قَضَيْتَ لَهُ حَاجَةً»، رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي “الأَوْسَطِ” وَحَسَّنَهُ الأَلبَانِيُّ.

Artinya: “Apakah amalan yang paling utama?” Rasulullah menjawab: “Engkau masukkan kebahagiaan kepada orang yang beriman. Engkau kenyangkan laparnya, atau engkau tutup auratnya, atau engkau tunaikan kebutuhannya.” (HR Thabrany).

Betapa banyaknya kebaikan-kebaikan yang bertebaran disekitar kita. Misalnya: mendorong mobil yang mogok, membantu mengangkat barang orang lain, menyingkirkan duri/ranjau di jalan umum, membela orang yang lemah, mendo’akan orang yang sakit dan lain-lain sebagainya. Semuanya tidak boleh dianggap remeh. Bisa jadi itu adalah jalan kita menuju surga.

Rasulullah SAW bersabda:

كل سُلامى من الناس صدقة , كل يوم تطلع فيه الشمس تعدل بين اثنين صدقة , وتعين الرجل في دابته فتحمله عليها أ, ترفع عليها متاعه صدقة , والكلمة الطيبة صدقة , وبكل خطوة تمشيها إلى الصلاة صدقة , وتميط الأذى عن الطريق صدقة.

Artinya: “Setiap anggota badan manusia diwajibkan bersedekah setiap harinya selama matahari masih terbit; kamu mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah; kamu menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang bawaannya ke atas kendaraannya adalah sedekah; setiap langkah kakimu menuju tempat sholat juga dihitung sedekah; dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Wallahu A’laa wa A’lam.