Oleh: Irsyad Syafar, Lc.,M.Ed.
Alhamdulillah masa PSBB di Sumbar masih diperpanjang sampai 7 Juni. Setidaknya ini adalah tambahan waktu untuk terus menurunkan grafik kasus positif corona di Sumbar. Sekaligus menjadi peluang bagi Pemerintah untuk menyiapkan masyarakat memasuki pola kehidupan baru pasca PSBB yang hampir selama 2 bulan ini.
Bagaimanapun sudah banyak para pakar yang menyatakan bahwa wabah ini tidak akan habis dalam waktu yang cepat dan singkat. Malah diprediksi akan sampai dua tahun ke depan. Itupun tidak akan habis 100%. Tentunya kita semua tidak akan sanggup hidup dalam suasana PSBB selama dua tahun.
Maka mau tidak mau, PSBB itu pasti akan diakhiri. Dan kita harus rela hidup “bersama” keberadaan virus tersebut. Kita terpaksa mengatur ulang cara dan pola kehidupan kita, di saat virus itu masih belum enyah dari kita.
Pola hidup “bersama” inilah yang kemudian memunculkan beberapa istilah, seperti berdamai dengan corona, berdansa dengan corona sampai kepada istilah new normal. Namun istilah-istilah yang diletupkan oleh petinggi negara ini, kadang membuat bingung masyarakat. Berbagai penafsiran dan persepsi bermunculan. Disamping kemudian candaan, plesetan dan olok-olokan juga bersileweran karena sentimennya sebagian masyarakat atas penanganan pemerintah yang belum maksimal.
Idealnya Presiden segera keluarkan semacam Kepres tentang apa itu new normal. Dan kemudian masing-masing daerah juga bisa membuat Perda new normal. Sehingga bisa menjadi panduan yang jelas, tidak minimbulkan polemik, serta berkekuatan hukum yang tetap, bahkan efektif untuk diterapkan dilapangan.
Bagaimanapun, manusia akan cepat beradaptasi dengan pola dan gaya hidup baru bila ada aturan yang kuat dan sanksi yang jelas. Mohon maaf, sebagian kita yang kurang disiplin, kalau pergi ke Singapura, bisa pula menjadi disiplin. Sebaliknya orang Singapura yang biasa disiplin, kalau pergi ke negara yang tidak disiplin, mereka juga ikutan tidak disiplin. Berarti, perilaku dapat dibentuk dengan aturan dan sanksi.
Maka setelah PSBB nanti diakhiri, kita akan mengalami 3 macam kehidupan. Yaitu kehidupan normal, tidak normal dan new normal. Normal maksudnya adalah kita bisa kembali menggeluti sebagian aktifitas sebagaimana sebelum ada covid 19. Tidak normal maksudnya adalah kita masih bisa menggeluti beberapa aktifitas tapi dengan standar yang belum normal, untuk waktu tertentu sampai wabah semakin berkurang. Sedangkan yang new normal adalah kita melakukan perilaku baru yang relatif permanen, yang sebelumnya kita tidak atau belum biasa melakukannya.
Sebagai seorang muslim, pasca PSBB ini kita harus segera bisa shalat berjamaah dan shalat Jumat ke Masjid. Hal itu adalah kebiasaan normal kita sebelum covid. Tapi, yang tidak normalnya adalah kita masih shalat pakai masker, shaf shalat kita dijarakkan ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang. Durasi shalat dan khutbahnya juga dipendekkan. Untuk sementara, yang agak demam atau batuk pilek, belum boleh dulu ke masjid. Demi kemaslahatan bersama.
Adapun yang new normalnya adalah tersedianya tempat cuci tangan dan sabun yang memadai di setiap masjid. Bahkan bila perlu, masjid dilengkapi dengan tisu, wewangian, tempat sampah dan pendukung kebersihan lainnya. Alhamdulillah, di sebagian masjid hal ini sudah normal dan tersedia.
Kita juga harus bisa normal kembali ke pasar. Aktifitas jual beli dan transportasi harus kembali normal. Sebab roda ekonomi harus berputar. Dan kebutuhan rumah tangga mesti tersedia. Ini bukan tuntutan konglomerat saja. Melainkan ini hajat kita semua. Saudara-saudara kita yang penghasilannya jualan harian, dari mana akan bisa hidup kalau pasar ditutup. Angkutan umum dan barang antar kota dan propinsi, bagaimana akan hidup kalau mereka harus stop bekerja. Negara sudah pasti tidak sanggup membiayainya.
Tapi, pasar dan transportasi yang normal tersebut tetap ada sisi tidak normalnya. Yaitu, belum boleh banyak berkerumun dan mesti mengatur jarak. Termasuk jarak duduk dan jumlah penumpang angkutan umum. Sedangkan kewajiban memakai masker dan tersedianya tempat cuci tangan di depan setiap toko, minimarket, bahkan mall, semua itu akan menjadi cara hidup kita jangka panjang.
Begitu juga aktifitas pendidikan, perkantoran, layanan publik dan aktifitas sosial kemasyarakatan lainnya. Akan ada sisi yang kembali normal, ada yang bertahan tidak normal dalam jangka waktu tertentu, dan ada yang akan menjadi kebiasaan baru kita jangka panjang.
Jadi, jangan berfikir bahwa kita akan kembali normal seperti semula semuanya. Kecuali kalau kita rela wabah ini membesar digelombang kedua, yang kita semua tidak sanggup menghadapinya. Kita juga harus sabar dan menahan diri dalam kondisi yang tidak normal. Sebab hal itu akan menekan bertambahnya penularan baru.
Kemudian kita harus mau membangun gaya hidup yang lebih baik. Yaitu hidup yang lebih taat kepada Allah SWT dan RasulNya, lebih patuh pada aturan, membiasakan hidup sehat dan bersih, mendahulukan kepentingan dan kemaslahatan bersama dari pada kemaslahatan pribadi.
Perubahan ke arah yang lebih baik harus kita mulai dari diri kita dan keluarga kita. Agar kemudian hadir masyarakat yang lebih baik. Para ulama membahasakannya gaya hidup yang lebih Islami. Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ.
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS Ar Ra’d: 11).
Wallahu A’laa wa A’lam.