Oleh: Irsyad Syafar
Menjadi seorang yang ‘alim tentu sangat baik dan mulia. Akan tetapi posisi tersebut banyak tantangan dan jebakannya. Salah satu jebakan yang berbahaya bagi orang ‘alim adalah merasa paling mulia, banyak (serba) tahu dan terhormat dibandingkan orang-orang yang awam. Perasaan ini tentunya merupakan salah satu dari tipuan-tipuan (talbis) iblis.
Seorang yang ‘alim yang lagi bersama dengan sekumpulan orang yang awam atau “sederhana” dalam ilmu dan pemahaman bisa terjatuh dalam jebakan yang berbahaya ini. Bisa saja ia akan memandang orang-orang tersebut berada di bawahnya dalam derjat dan kemuliaan. Apalagi kalau-orang-orang awam tersebut sangat minim amal shalehnya serta lumayan banyak dosa dan kesalahannya. Padahal posisi dan derjat seseorang di sisi Allah, tidak ada yang tahu. Dan akhir hidup seseorang sangat menetukan nasibnya di akhirat kelak.
Perasaan lebih mulia dan terhormat yang diiringi dengan “klaim” diri lebih banyak amal shalehnya bisa menyebabkan timbulnya sikap sombong dan ‘ujub (bangga dengan diri sendiri). Tentunya kemudian akan berakibat meremehkan (merendahkan) orang lain yang sedikit kebaikannya atau banyak dosa-dosanya. Kalau sempat pula orang-orang awam tersebut lupa menghormatinya, atau kurang menghargainya, maka akan timbul sikap emosi dan rasa marah. “Keterlaluan mereka ini, tidak menghormati saya…” pikiran seperti ini bisa terlintas di benak orang yang ‘alim.
Begitu juga orang yang hebat. Baik itu karena jabatannya yang tinggi, hartanya yang banyak, kelebihannya yang beragam atau karena posisinya di tengah masyarakat yang sangat terpandang. Ini semuanya juga bisa menjadi jebakan baginya. Bila orang lain tak menyebut namanya dalam kata sambutan, tidak mencantumkan gelarnya dalam tulisan, atau tidak menempatkannya pada “kursi” yang layak dalam suatu pertemuan, ia bisa tersinggung. Kadang bisa marah tidak karuan. Maka akibatnya ia akan menjadi sombong dan melecehkan orang lain.
Bila “penyakit” atau jebakan seperti ini telah menimpa, dikhawatirkan seorang ‘alim dan orang yang hebat bisa tergelincir. Alih-alih akan dapat banyak pahala dari kebaikannya, malah jangan-jangan amal shalehnya “dizerokan” (dinolkan) pahalanya oleh Allah Swt. Sehingga peluangnya masuk surga Allah Ta’alaa bisa menjadi terhalang alias kandas. Dalam haditsnya, Rasulullah Saw menyebutkan berbahayanya rasa sombong di dalam hati:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Artinya: “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju yang bagus dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim no. 91)
Sebaliknya orang yang awam dan orang yang biasa-biasa saja, yang terbatas sekali amal shalehnya, atau bahkan ia punya banyak dosa, bisa jadi perasaannya menjadi minder di dekat orang yang ‘alim atau orang hebat. Ia merasa tak layak berada di dekat orang ‘alim tersebut. Sebab ia merasa levelnya sangat jauh di bawah. Dan bisa jadi juga ia merasa sangat tak layak mendapat surga Allah Swt. Ia juga sangat takut dan khawatir untuk bertemu dengan Allah karena takut akan siksaNya.
Orang awam yang seperti ini, berpeluang selamat di sisi Allah. Dosa-dosanya bisa saja “dizerokan” (diampuni) oleh Allah Swt. Kata kuncinya adalah rasa rendah diri dan rasa takut terhadap siksa Allah Swt. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda tentang seorang lelaki zaman dahulu yang banyak dosanya. Beliau bersabda:
كَانَ رَجُلٌ يُسْرِفُ عَلَى نَفْسِهِ فَلَمَّا حَضَرَهُ الْمَوْتُ، قَالَ: لِبَنِيهِ إِذَا أَنَا مُتُّ فَأَحْرِقُونِي ثُمَّ اطْحَنُونِي ثُمَّ ذَرُّونِي فِي الرِّيحِ فَوَاللَّهِ لَئِنْ قَدَرَ عَلَيَّ رَبِّي لَيُعَذِّبَنِّي عَذَابًا مَا عَذَّبَهُ أَحَدًا، فَلَمَّا مَاتَ فُعِلَ بِهِ ذَلِكَ فَأَمَرَ اللَّهُ الْأَرْضَ، فَقَالَ: اجْمَعِي مَا فِيكِ مِنْهُ فَفَعَلَتْ فَإِذَا هُوَ قَائِمٌ، فَقَالَ: مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ؟، قَالَ: يَا رَبِّ خَشْيَتُكَ فَغَفَرَ لَهُ
Artinya: “Dahulu ada seseorang yang melalaikan dirinya sendiri (dengan banyak berbuat dosa). Ketika maut hampir mendekati dirinya, ia berkata (kepada anak-anaknya): “Jika nanti aku meninggal dunia maka bakarlah jasadku lalu tumbuklah menjadi debu, kemudian hamburkanlah agar tertiup angin. Demi Allah, seandainya Rabbku mampu mengumpulkan diriku kembali, niscaya Dia akan menyiksaku dengan siksaan yang tidak akan ditimpakan kepada seorangpun”. Ketika orang itu meninggal dunia, wasiatnyapun dilaksanakan. Kemudian Allah memerintahkan bumi dengan berfirman: “Kumpulkanlah apa yang ada padamu”. Maka bumi melaksanakan perintah Allah. Ketika orang tadi telah berdiri (setelah dikumpulkan), Allah berfirman: “Apa yang mendorongmu melakukan itu?” Orang itu menjawab: “Wahai Rabbku, karena aku takut kepada-Mu”. Maka Allah ta’ala pun mengampuninya.” (HR Al-Bukhary: 3481).
Orang ini telah mengakhiri hidupnya dengan sebuah ibadah yang besar nilainya disisi Allah. Yaitu rasa “khasy-yah” (takut) kepada Allah. Perasaan itu berangkat dari kekurangan dirinya. Sehingga kemudian ia memperoleh ampunan dari Allah Swt. Sungguh suatu keburuntungan bila seorang hamba di akhirat kelak mendapatkan ampunan dariNya.
Oleh karena itu, menjadi pribadi yang rendah hati, humble (sederhana), mudah akrab dengan orang lain, dan bisa berbagi sikap saling menghargai, harus menjadi perhiasan dan akhlak bagi setiap muslim. Walaupun Allah memberinya keunggulan ilmu, kelebihan harta, ketinggian jabatan dan lain sebagainya, itu tidak perlu membuatnya menjadi makhluk lain yang levelnya di atas manusia. Justru kelebihan dan keunggulan itu harus diimbangi dengan rasa takut kepada Allah Swt dan siksaNya.
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS Al Isra: 37). Manusia melangkah di atas bumi tak akan membuat bumi berlubang. Dan kesombongannya tak akan membuatnya menyamai tingginya langit.
Wallahu A’laa wa A’lam bish shawab.