Tadabbur Qs. Al Fatihah, ayat: 3
الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

• Ar Rahman dan Ar Rahim merupakan dua nama Allah yang mulia, disebutkan sebanyak 57 kali dalam Al Qur’an, dan Ar Rahim sebanyak 114 kali.

• Ar Rahman, merupakan satu dari nama-nama Allah yang agung. Allah menyandingkan dengan lafzhul jalalah, Allah. Sebagaimana firman-Nya:

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ
Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) (Qs. Al Isra’: 110)

• Ibnul Qayyim menyebutkan, Ar Rahman merupakan sifat mulia yang senantiasa melekat pada Allah SWT, sementara Ar Rahiim menunjukkan keterikatan Allah dengan hamba-Nya.

Jika Ar Rahman menunjukkan kepada sifat-Nya yang mulia maka Ar Rahiim menunjukkan kepada perbuatan-Nya memberikan rahmat kepada hamba-Nya.

Sebagaimana firman-Nya:
وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (Qs. Al Ahzab: 43)

Dengan kata lain, sifat Ar Rahman berlaku umum bagi seluruh makhlukNya, untuk manusia apakah beriman atau kafir, sementara Ar Rahiim bermakna; menyampaikan rahmat-Nya kepada siapapun yang dikehendakinya.

• Allah mengulangi lafaz, الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ setelah mengungkap tentang kekuasan-Nya atas alam semesta, رَبِّ الْعَالَمِينَ , dalam Tafsir Al Wasith disebutkan bahwa pengulangan ini dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa ke-Maha Kuasaan Allah diliputi dengan rahmat dan kasih sayangnya.

Lafaz رَبِّ terkadang menggambarkan tentang kekuasaan, keperkasaan, ketegasan, dan sesuatu yang menakutkan. Sehingga Allah menggandengkan penyebutan dirinya sebagai ‘murabbi’ dengan sifatnya yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Agar hamba-Nya memahami bahwa semua kebaikan, dan ketetapan Allah SWT dilandasi oleh kasih sayang-Nya yang maha luas.

• Rahmat Allah Maha luas.

وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ ۚ قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاءُ ۖ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ

Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”. (Qs. Al A’raf: 156)

• Rahmat Allah mengalahkan kemurkaannya
Firman Allah:
وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۖ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۖ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِن بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: “Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al An’am: 54)

Sabda Rasulullah SAW:
عن أبي هريرة، رضي اللَّهُ عنه، قَالَ: قَالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: “لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الخَلْقَ، كَتَبَ في كِتَابٍ، فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ العَرْشِ: إِنَّ رَحْمتي تَغْلِبُ غَضَبِي”

Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau berkata, “Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR Bukhari no 7404 dan Muslim no 2751).

• Ternyata rahmat Allah lah yang membawa kita ke syurga, bukan amalan

عَنْ جَابِرٍ ، قَالَ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : لَا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ ، وَلَا أَنَا ، إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ

Jabir berkata, aku mendengar Nabi SAW bersabda, “Tidak seorang pun dari kalian yang dimasukkan surga oleh amalnya dan tidak juga diselamatkan dari neraka karenanya, tidak juga aku kecuali karena rahmat dari Allah.” (HR Muslim).

• Kita bisa hidup karena rahmat Allah SWT

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال رسول الله عليه الصّلاة والسّلام: إن لله مائة رحمة، واحدة بين الجن والإنس والبهائم والهوام، فبها يتعاطفون، وبها يتراحمون، وبها يتعاطف الوحوش على أولادها، وأخَّر تسعاً وتسعين رحمة يرحم بها عباده يوم القيامة

“Sesungguhnya Allah memiliki 100 rahmat. Salah satu di antaranya diturunkannya kepada kaum jin, manusia, hewan, dan tetumbuhan. Dengan rahmat itulah mereka saling berbelas kasih dan menyayangi. Dengannya pula binatang liar mengasihi anaknya. Dan Allah mengakhirkan 99 rahmat untuk Dia curahkan kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat.”
(muttafaq ‘alaih)

Agar kita mendapatkan rahmat Allah:

• Berkasih sayang dengan manusia dan makhluk Allah lainnya
Rasulullah SAW bersabda:
من لا يَرحم لا يُرحم
Siapa yang tidak menyayangi tidak akan disayangi..

Hadis ini berkaitan dengan seorang bernama ‘Aqra’ bin habas At Tamimi, ketika ia melihat Rasulullah SAW mencium cucunya Hasan bin Ali, ia berkata: Saya mempunyai sepuluh anak, dan tidak ada satupun dari mereka yang pernah saya cium.Maka Rasul mengeluarkan hadis ini.

Hari ini kita temukan betapa banyak orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Walau secara lisan mengatakan sayang, tapi secara praktik justru mengabaikan dan memberikan racun kepada anaknya. Diantaranya membiarkan anak-anaknya diasuh oleh gadget dan media sosial. Ini sesungguhnya adalah racun yang mematikan karakter dan masa depan sang anak.

  • Berbagai ibadah dan amalan sejatinya adalah agar kita bisa meraih rahmat Allah SWT, seperti:
    • Membaca dan mendengarkan Al Qur’an
    • Shalat sunnat 4 rakaat sebelum Ashar
    • I’tikaf di masjid
    • Mengunjungi orang sakit
    • Menaati Allah dan Rasul
    • Berlaku ihsan
    • dan berbagai amal salih lainnya.

Wallahu a’lam

Harun Al Rasyid, Lc.