Oleh: Ustadz H. Irsyad Syafar, Lc., M.Ed– Sudah menjadi ketetapan Allah SWT bahwa kehidupan di dunia ini penuh dengan ujian (ibtila’). Kita diuji oleh Allah SWT pada diri, keluarga, harta, pekerjaan, dunia dan akhirat kita.

Oleh sebab itu, dunia ini semenjak ada sampai hari kiamat kelak takkan pernah sepi dari ujian dan cobaan. Dan semua manusia akan mengalami dan menjalaninya. Muslim, kafir, orang baik, orang jahat, tua, muda, besar, kecil, kaya, miskin, pejabat, rakyat, semuanya terkena ujian tanpa kecuali.

Karena ujian adalah sebuah kemestian, maka kita selaku orang beriman mesti menjalaninya dengan pemahaman yang benar. Agar kemudian kita menjadi “lulus” dari ujian tersebut dan mengalami kenaikan kelas di sisi Allah, ada beberapa pemahaman (fiqh) dalam menghadapi ujian (ibtila’):

Pertama, Husnuzh zhon kepada Allah.

Berbaik sangka kepada Allah SWT dalam segala situasi, adalah ibadah hati yang sangat mulia. Belum sempurna iman seorang hamba kepada Allah SWT kalau dia tidak berbaik sangka kepadaNya. Dengan berbaik sangka kepada Allah SWT, seorang hamba justru mendapatkan kebaikan dari Allah SWT. Dan persangkaan yang baik itu menggiringnya untuk beramal dan mendekatkan diri kepadaNya. Dalam hadits qudsi Allah berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً.

Artinya: “Aku tergantung persangkaan hamba kepadaKu. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diriKu. Kalau dia mengingatKu di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR bukhari Muslim).

Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, tidaklah seorang hamba dianugrahkan kebaikan melebihi dari husnuzh zhon kepada Allah. Dan demi Allah, tidaklah seorang hamba berbaik sangka kepadaNya, melainkan Dia akan memberinya apa yang disangkakan itu. Sebab, seluruh kebaikan ada di tanganNya.”

Bila dalam situasi normal kita harus berbaik sangka kepada Allah SWT, maka disaat datangnya ujian prasangka baik itu semakin kita butuhkan. Kita harus yakin bahwa dibalik ujian ini pasti ada hikmahnya. Dan pasti ada kebaikan yang Allah SWT persiapkan untuk kita.

Kita juga harus meyakini bahwa Allah SWT sama sekali tidak butuh untuk mengadzab hambaNya. Tak secuilpun kemuliaan dan kerajaanNya akan berkurang bila hamba-hambaNya serentak berbuat dosa dan maksiat. Dalam hadits Qudsi Allah SWT berfirman:

يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا.

Artinya: “Hai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan, serta seluruh jin dan manusia, semuanya berada pada tingkat kedurhakaan yang paling buruk, maka hal itu sedikitpun tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku.” (HR Muslim).

Ujian dan peringatan yang Dia turunkan adalah untuk kepentingan hamba-hambaNya, agar mereka tersadar dan kembali kepadaNya. Allah Ta’alaa berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS Al Anbiya: 35).

Kedua, Ibtila’ adalah konsekwensi iman.

Tidak ada iman tanpa ujian. Bila seseorang mengaku beriman, maka ia akan diuji. Apakah keimanan itu benar adanya atau hanya pura-pura, maka ujianlah yang akan menyingkapnya. Allah SWT tidak akan membiarkan klaim manusia apalagi pencitraan. Allah Ta’alaa berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ.

Artinya: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al Ankabut: 2-3).

Karena ujian merupakan konsekwensi iman, maka semakin meningkat keimanan seseorang, semakin berat ujiannya. Dan bila tipis keimanan seseorang maka ringan ujiannya. Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً قَالَ الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ.

Artinya: “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya? Beliau menjawab: “Para nabi, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya. Sungguh seseorang itu diuji berdasarkan agamanya, bila agamanya kuat, ujiannya pun berat, sebaliknya bila agamanya lemah, ia diuji berdasarkan agamanya.” (HR Tirmidzi).

Bila kita memahami dan menyadari konsekwensi iman, maka ketika datang ujian kita merasa siap dan tenang. Allah SWT menguji kita, berarti kita ada iman. Bahkan Rasulullah SAW mengajarkan bahwa beratnya ujian akan mendatangkan besarnya pahala. Dan datangnya ujian menjadi pertanda cinta Allah kepada hambaNya. Beliau bersabda:

إنَّ عِظم الجزاء من عظم البلاء ، وإنَّ الله عز وجل إذا أحب قوماً ابتلاهم ، فمن رضي فله الرضا ، ومن سخط فله السخط.

Artinya: “Sesungguhnya agungnya balasan dari besarnya cobaan. Dan sesungguhnya Allah SWT ketika mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Barangsiapa yang redha, maka dia mendapatkan keredhaan. Barangsiapa yang murka, maka dia mendapatkan kemurkaan.” (HR. Tirmizi dan Ibnu Majah).

Ketiga, Ibtila’ itu Penyaringan.

Dengan menurunkan ujian dan cobaan, Allah SWT sedang menyaring (tamhish) manusia. Sehingga terlihatlah mana yang sabar dan mana yang suka berkeluh kesah, mana yang jujur dan mana yang munafiq, serta terpisahlah antara yang baik dengan yang buruk. Allah Ta’alaa berfirman:

مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ.

Artinya: “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin).” (QS Ali Imran: 179).

Sudah menjadi kehendak dari hikmahnya Allah SWT bahwa setiap jiwa mesti diuji. Sehingga jelaslah yang baik dan yang layak menjadi wali dan pembelaNya. Serta jelas pula yang buruk dan yang menjadi pembangkang terhadapNya. Ujian bagi keimanan ibarat api dalam menempa emas. Semakin kuat apinya, semakin murni emas yang dihasilkan.

Allah SWT menguji kesetiaan pasukan Bani Israil terhadap Raja Thalut dengan air sungai. Siapa yang tidak meminum air sungai tersebut, merekahlah pasukan setia dan yang akan kuat berperang melawan Jalut dan pasukannya. Sedangkan yang meminum air sungai tersebut, mereka tidaklah setia dan mereka tidak punya tenaga untuk berperang. Kecuali yang hanya menceduk air sekedar dengan jari-jari tangannya.

Ternyata sedikit sekali yang setia kepada Raja Thalut. Selebihnya, mayoritas mereka meminum air sungai tersebut. Akibatnya menjelang bertempur dengan pasukan Jalut, mereka sudah tidak bertenaga lagi untuk perang. Dan mereka “disisihkan” Allah dari barisan orang-orang beriman.

Allah SWT berfirman menceritakannya:

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَنْ لَمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ ۚ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ ۚ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ ۚ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ.

Artinya: “Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku”. Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya”. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al Baqarah: 249).

Keempat, Agar selalu rindu bertemu Allah dan kampung akhirat.

Ujian senantiasa Allah SWT turunkan kepada kita agar kita rindu bertemu Allah dan rindu dengan kampung akhirat. Dunia ini tidaklah abadi. Kita hidup disini hanyalah sementara. Bila terlalu nyaman di dunia, bisa-bisa kita betah dan tidak mau pindah ke akhirat.

Itulah yang telah menimpa orang yang hatinya sudah terpaut dengan dunia. Akibatnya dia tidak mempersiapkan diri untuk “berpulang” ke kampung akhirat, dan tidak rindu bertemu dengan Allah. Mereka mendapat ancaman siksa neraka dari Allah:

إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ.
أُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami. mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS Yunus: 7-8).

Adapun orang-orang yang beriman, sangat mengharapkan pertemuan dengan Allah, dan merindukan kembali ke kampung akhirat, surga yang abadi. Kerinduan itu membuat mereka mempersiapkan diri dengan amal shaleh dan tauhid yang sempurna. Allah Ta’alaa berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا.

Artinya: “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS Al Kahfi: 110).

Kelima, Ibadah meringankan ujian.

Berbagai bentuk ibadah dan taqarrub kepada Allah SWT dapat menjadikan ujian (bala) menjadi ringan. Seperti shalat, adalah salah satu sarana untuk meminta pertolongan kepada Allah SWT. Dalam firmanNya Allah SWT memerintahkan:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Artinya: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS Al Baqarah: 45).

Disamping shalat, membaca Al Quran juga dapat meringankan ujian. Sebab Al Quran diturunkan Allah sebagai obat dan rahmat bagi orang beriman. Allah Ta’alaa berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا.

Artinya: “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS Al Isra’: 82).

Selain tilawah Al Quran, bersedekah juga menjadi sumber datangnya rahmat dan kesembuhan dari penyakit. Dalam sebuah hadits yang hasan, Rasulullah SAW bersabda:

داوو مرضاكم بالصدقة

Artinya: “Obatilah orang-orang yang sakit diantara kalian dengan bersedekah.” (HR Abu Daud, dihasankan Albany dan Shahih targhib).

Sebagian lafadz hadits yang semakna dengan hadits di atas ada yang didhaifkan oleh ulama. Akan tetapi terdapat juga hadits shahih yang menunjukkan bahwa sedekah dapat dilakukan untuk menolak potensi terjadinya bencana. Yaitu hadits tentang terjadinya gerhana, dimana Rasulullah SAW memerintahkan serangkaian ibadah untuk menyikapinya, salah satunya adalah bersedekah. Beliau bersabda:

فإذا رأيتم ذلك فادعو الله وكبروا وصلوا وتصدقوا.

Artinya: “Apabila kalian melihat gerhana, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah dan bersedekahlah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Wahab bin Munabbih seorang pemuka Tabi’in pernah berkata: “Belumlah sempurna pemahaman seorang Faqih sampai ia menganggap bahwa bala itu adalah nikmat dan kesenangan itu adalah musibah”. Alasannya adalah karena orang yang mendapat bala itu senantiasa menunggu keselamatan. Sedangkan orang yang dalam kesenangan sedang menunggu bala. Kemudian Beliau mengutip hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah:

يَوَدُّ أَهلُ العَافِيَةِ يَومَ القِيَامَةِ حِينَ يُعطَى أَهلُ البَلَاءِ الثَّوَابَ لَو أَنَّ جُلُودَهُم كَانَت قُرِّضَت فِي الدُّنْيَا بِالمَقَارِيضِ.

Artinya: “Orang-orang yang sehat pada hari kiamat, ketika melihat orang yang ditimpa ujian mendapatkan balasan pahala, berharap kalau seandainya kulit-kulit mereka dipotong-potong di dunia.” (HR Tirmidzi).

Hadaanallahu waiyyaakum ajma’in.