Oleh : Rio Friyadi

Sepeninggal Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s., Kakbah masih tetap dihormati oleh kaum Quraisy di Makkah dan masyarakatnya masih memegang ajaran Tauhid dan taat pada syari’at yang diajarkan Nabi Ibrahim a.s., namun semuanya berubah berkat ulah seorang tokoh bernama Amru bin Amir Al Khuza’i.

Awalnya, Amru berpulang dari Kota Syam. Disana ia banyak melihat suatu kaum yang menyembah berhala. Ia pun tertarik dengan penyembahan tersebut, kemudian Amru membawa patungnya ke Makkah. Tiba di Makkah, ia meyakinkan warga Quraisy untuk menyembah berhala sebagai perantara penyembahan kepada Allah. Atas ulahnya, banyak masyarakat Makkah tergiur melakukannya dan Amru pun memiliki banyak pengikut sehingga patung-patung pun bertebaran di Kota Mekkah.

Atas penyembahan berhala tersebut, masyarakat Quraisy hidup dengan kejahiliyahan. Disetiap rumah ada patung, dijalan bahkan di Kakbah pun ada patung. Sampai datanglah dakwah kepada masyarakat Makkah dengan kehadiran Nabi Muhamad saw.

Namun yang perlu diingat, kejahiliyahan masyarakat Quraisy diartikan sebagai masyarakat yang bodoh dan terbelakang pada urusan duniawi. Sama sekali tidak, mereka bahkan menonjol dikalangan bangsa Arab. Di bidang ekonomi misalnya, mereka memiliki mata uang dirham dan dinar yang menjadi ukuran dan timbangan yang berlaku di dunia perdagangan.

Dibidang Industri mereka justru banyak memperkerjakan tenaga asing dari Romawi dan Persia untuk memproduksi olahan besi. Tak banyak masyarakat Makkah yang menjadi pandai besi. Di dunia kesehatan, mereka juga unggul dengan memiliki metode pengomatan modern kala itu seperti alhijamah, al-kay, dan sederet penobatan lainnya.

Masalah militer jangan ditanya, masyarakat Quraisy disegani kekuatannya di Jazirah Arab. Mereka sangat ahli berperang dan memiliki pasukan tentara dari berbegai suku di luar Kota Makkah. Begitupun soal politik, Mereka bisa membagi-bagikan urusan pemerintahan dengan rinci dan rapi. Bani Umayyah memimpin peperangan, Bani Hasyim melayani oran Haji, Bani Mazhum bertugas menyediakan perlengkapan perang.

Sangat jelas, suku Quraysy memiliki peradaban maju untuk urusan duniawi. Namun mereka tetap disebut sebagai jahiliyah. Ya mereka jahiliyah karena meninggalkan Allah, berpaling dari tuntunan tauhid dan lari kepada berhala. Mereka menjatuhkan diri mereka tunduk kepada sesuatu yang diproduksi oleh manusia. Mereka membuat patung, lalu mereka sembah. Tak cukup disitu, kalau mereka bosan, patung tersebut mereka ganti dengan yang baru.

Naudzubillah.

Hal penting yang menyebabkan masyarakat Quraysy terjerumus kepada kejahiliyahan adalah karena mereka menjadikan nafsu mereka sebagai illahnya. Mereka mengagunggkan sesuatu yang diciptakannya. Saat hawa nafsu tersebut menguasainya, maka saat itu setan lah yang lebih berkuasa.

Apakah masa kejahiliyahan itu hanya terjadi pada masa tersebut? Tentu saja tidak. Di masa modern ini akan lebih banyak penyembah-penyembah berhala dengan aneka rupa. Mereka menciptakan sendiri berhalanya, lalu mereka menyembahnya.

Berhala tersebut bisa berupa fisik batu atau kayu atau bisa jadi dalam bentuk pemikiran atau ide.Bisa jadi patung tersebut berupa sains dan teknologi. Ketika mengagungkan sesuatu yang mereka ciptakan, pada dasarnya itu adalah berhala yang mencerminkan kehidupan jahiliah modern.

Maka semakin maju kehidupan manusia. Dan manusiapun menciptakan banyak hal yang membantu urusan duniawi, selama itu juga akan lebih banyak berhala itu muncul ketika mereka menjadikan karya atau pemikirannya sebagai sebuah ilah. Maka mari berhati-hati tidak terjerumus pada penyembahan berhala modern. (ref)

 

*Disarikan dari Buku “Tegar di Jalan Dakwah Karya Cahyadi Takariawan”