Menu

Ramadhan History 5: Rasulullah Mengisolasi Ka’ab bin Malik

  Dibaca : 413 kali
Ramadhan History 5: Rasulullah Mengisolasi Ka’ab bin Malik

Perang Tabuk menjadi penentu arah sikap bangsa Arab terhadap kaum Muslimin. Pamor pasukan Muslim kian naik pasca kekalahan telak Romawi dalam perang yang mencekam ini. Sebelumnya mereka berharap banyak pasukan Romawi yang dikenal gagah berani mampu mengakhiri dakwah Islam. Namun setelah apa yang mereka saksikan, mereka menyadari bahwa tidak ada satu kekuatan kecuali kekuatan Islam. Sisa harapan dan angan angan yang masih bersemayam di hati kaum munafik dan jahiliyah mulai sirna. Kini mereka pasrah dan kehilangan nyali untuk mencari peluang berkonspirasi. Yang mereka lakukan hanya menghiba mengharap maaf dan perlakuan baik dari kaum Muslimin, sementara Allah memerintahkan bersikap tegas kepada mereka.

Bahkan Allah memerintahkan untuk menolak sedekah mereka, menshalati jenazah mereka, memintakan ampun untuk mereka dan berdiri di atas kubur mereka. Allah juga memerintahkan untuk memusnahkan sentral makar mereka yang mengatas namakan masjid (Masjid Dhirar), menyingkap keburukan mereka. Lebih dari itu perintah Allah yang turun langsung menunjuk satu persatu hidung mereka.

Inilah peristiwa perang Tabuk, walaupun tak berlanjut pada pertumpahan darah karena pasukan Romawi telah lebih dahulu lari tunggang langgang. Namun moral mereka kian merosot dan pasukan Muslim kian dipandang dan diperhitungkan.

Kaab bin Malik adalah salah satu pemuka di kalangan sahabat Rasulullah dari kalangan Anshar. Kaab bin Malik bersama dua orang lainnya tertinggal dari barusan pasukan Muslim dalam perang Tabuk. Seperti yang diceritakan sebelumnya, perang Tabuk adalah perang yang diliputi suasana mencekam karena musuh yang dihadapi pasukan Muslim saat itu adalah tentara yang diakui kehebatannya, Romawi. Bagi pasukan Muslim ini adalah pertarungan yang sangat menentukan, karena di sisi lain kafir dan munafik yang sudah kalah dalam berbagai pertempuran menaruh harapan agar Islam berakhir di tangan tentara Romawi. Sehingga mereka menghembuskan bebagai isu untuk menggentarkan pasukan Muslim

Rasulullah memerintahkan semua orang untuk ambil nagian dalam perang ini, bahkan dikatakan bahwa tidak pernah Rasulullah yang turun langsung mengajak kaum Muslimin  berperang kecuali pada perang Tabuk ini. Maka semua orang ambil bagian dalam perang ini. Mereka bersiap-siap dan memberikan apa saja yang mereka miliki. Yang tertinggal hanya orang-orang yang lemah, udzur dan orang-orang munafik.

Adapun Kaab bin Malik dan dua orang lainnya, Murarah bin Rabi’ , dan Hilal bin Umayah tertinggal dari pasukan. Bukan karena mereka malas dan takut sehingga tidak ikut berperang. Mereka adalah orang-orang yang keimanannya benar. Pasalnya, ketika itu Kaab bin Malik tidak menyibukkan diri untuk persiapan perang. Ia merasa bisa siap kapan saja untuk berangkat, sehingga ia mengulur-ulur waktu persiapannya. Ketika Rasulullah menyuruh orang-orang bersiap dan ia tidak melakukannya. Ia menunda akan bersiap setelah itu. Begitu ia setiap hari menjelang perang

Sampai pada hari yang ditentukan pasukan Muslim yang dipimpin Rasulullah berangkat. Sementara Kaab masih menunda persiapan dan berniat akan menyusul nanti. Hingga pasukan sudah semakin jauh berjalan, ia masih belum melakukan persiapan dan akirnya tidak jadi berangkat. Ada penyesalah di hatinya, ketika melihat yang tersisa di Madinah hanya orang-orang munafik dan orang-orang lemah.

Di Tabuk, Rasulullah dan pasukan Muslim membuat barisan dan pertahanan. Mereka siap untuk bertempur menghadapi Romawi. Rasul berpidato di hadapan pasukan Muslim, membakr semangat keberanian mereka dan sebaliknya merontokkan nyali tentara Romawi. Namun Rasululah tidak melihat sosok Kaab bin Malik disana. Kaab benar-benar teringgal.

Peperangan tidak sampai berkecamuk. Pasukan Romawi mundur meninggalkan medan perang, dan kemenangan telak diraih umat Islam. Namun ini telah mengubah cara pandang bangsa Arab terhadap umat Islam. Pasukan Muslim kembali ke Madinah. Dengan demikian perang ini menghabiskan waktu lebih kurang 50 hari.  Beliau berada di Tabuk selama 20 hari. Sisanya waktu untuk perjalanan. Pasukan Muslim sampai d Madinah pada bulan Ramadhan

Ketika kaum muslim telah kembali ke Madinah, Nabi SAW memanggil orang-orang yang tidak ikut pergi perang, kaum munafik segera membuat berbagai alasan agar tidak diberikan hukuman, namun Ka’ab dan dua orang sahabat tidak memberikan alasan apapun. karena mereka jujur dan sungguh menyesali kesalahannya itu.

Akhirnya Ka’ab bin Malik dan kedua sahabat itu diberikan hukuman boikot (hajr) atau isolasi dari semua kontak sosial, hingga Nabi menerima keputusan dari Allah SWT.

Hajr atau boikot, mungkin bagi kita kelihatan sebagai hukuman yang ringan, namun sebenarnya hukuman ini memberikan efek psikologis yang sangat berat, jika penerimanya tidak kuat mental maka mereka bisa gila atau bunuh diri. sebegitu beratnya bentuk hukuman ini bahkan isolasi/boikot adalah penyiksaan yang diberikan kepada pelaku kriminal berat.

Dari ketiga orang yang dihukum itu, hanya Ka’ab yang masih berani berjalan keliling kota walaupun tidak ada seorang pun yang menegurnya, bahkan keluarga dan teman dekatnnya tidak menegurnya, hal ini menunjukkan betapa patuhnya kaum muslim pada keputusan Nabi SAW.

Hari-hari berlalu, dan datang surat untuk Ka’ab dari Kaisar Heraclius yang disampaikan oleh mata-mata, berisikan ajakan dari kaisar romawi itu kepada Ka’ab untuk membelot sambil diberikan iming-iming kedudukan dan harta, seketika itu juga Ka’ab menyobek-nyobek surat itu.

Ditengah ketidakpastian kapan berakhirnya hukumannya itu, Ka’ab tetap teguh pada keimanannya.

Setelah berlalu satu bulan, datang berita bahwa Nabi menyuruh Ka’ab dan kedua sahabat yang sedang dihukum itu untuk berjauhan dari istri-istri mereka, Ka’ab dengan patuh menyetujui hal itu.

Ketika situasi dirasakan Ka’ab semakin berat dan menekannya, pada suatu pagi selepas subuh, Ka’ab sedang berdiri di atas atap rumahnya selesai sholat, ia melihat seseorang berlari menghampirinya dan berteriak ; “Wahai Ka’ab, bergembiralah !” seketika itu Ka’ab langsung tersungkur dalam sujud syukurnya.

Saking gembirnya, Ka’ab memberikan bajunya kepada pembawa berita itu, dan ia baru sadar bahwa ia tidak memiliki baju lain, karena hampir semua hartanya sudah ia sedekahkan pada masa boikot itu.

Ka’ab dan kedua sahabat itu langsung menemui Nabi shallallahu `alaihi wasallam yang wajahnya berseri seperti bulan purnama dan beliau memberikan kabar gembira bahwa Allah telah menerima taubat mereka.

Kesimpulan dari kisah Ka’ab bin Malik ini adalah :

  1. Kejujuran Ka’ab dan kedua sahabatnya, yang tidak membuat alasan palsu seperti kaum munafik
  2. Kepatuhan semua kaum muslim atas keputusan Nabi pada Ka’ab dan dua sahabatnya itu, hingga seluruh kota Madinah memboikot ketiga orang itu
  3. Kesabaran Ka’ab dalam menerima hukuman berat itu, terutama saat datang godaan dari surat kaisar romawi
  4. Sujud syukur sebagai reaksi pertama Ka’ab ketika mengetahui hukumannya telah berakhir, bahwa sujud memang hal yang patut dilakukan oleh orang-orang yang senantiasa dekat dengan Rabb-nya
  5. Kisah Ka’ab bin Malik ini adalah salah satu dari beberapa kisah indah lainnya dari Perang Tabuk, memang pada perang ini tidak terjadi perang sebenarnya namun perang terakhir dalam masa kenabian inilah yang menjadi ajang penguat keimanan para sahabat hingga mereka patut disebut sebagai kaum terbaik yang pernah ada dalam sejarah umat manusia.

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allahlah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah: 118).

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Loading the player...

ig: @sippfm

PROGRAM

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional