Menu

Ramadhan 3 KISAH DAN ‘IBRAH UJIAN NABI IBRAHIM AS

  Dibaca : 88 kali
Ramadhan 3 KISAH DAN ‘IBRAH UJIAN NABI IBRAHIM AS

Nabi Ibrahim as. sudah memasuki usia tua. Namun ia belum juga punya anak. Sementara istrinya Sarah, juga tidak bisa beranak alias mandul. Setiap Nabi dan orang shaleh pastilah menginginkan punya anak dan keturunan, untuk menjadi penerus dakwah dan amal shalehnya di kemudian hari.

Dalam usia yang sudah sangat tua itu, Nabi Ibrahim as. terus berharap kepada Allah untuk mendapatkan keturunan. Akhirnya sang istri menghadiahkan budaknya kepada suaminya. Budak itu bernama Hajar. Dengan izin Allah, Nabi Ibrahim as. mendapatkan keturunan dari Hajar dalam usia 86 tahun. Sebagian riwayat menyatakan umurnya ketika itu 99 tahun. Itulah dia Ismail.

Sungguh kebahagiaan yang tidak terkira dirasakan oleh Nabi Ibrahim, ketika Allah berikan ia anak dalam usia tua renta. Allah mengungkapkan kesyukuran nabi Ibrahim dalam FirmanNya:

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى وَهَبَ لِى عَلَى ٱلْكِبَرِ إِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ ۚ إِنَّ رَبِّى لَسَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa”. (QS Ibrahim: 39).

Akan tetapi kebahagian Nabi Ibrahim as. itu tidak bertahan lama. Anak yang diharap-harap lahirnya sejak bertahun-tahun itu, harus dipindahkan jauh darinya. Allah mewahyukan kepadanya untuk mengantarkan anak kesayangan dan ibunya ke negeri Makkah. Jarak yang sangat jauh dari Palestina. Apalagi saat itu sarana transportasi hanya berjalan kaki atau menunggang kuda.

Maka Nabi Ibrahim pergi mengantarkan Ismail dan ibunya Hajar ke Makkah. Sesampainya di sana, keduanya langsung ditinggalkan dengan bekal makanan dan air seadanya. Nabi Ibrahim berbalik menuju Palestina. Hajar sangatlah sedih. Ia pegang baju suaminya yang terus berjalan. “Dengan siapa engkau tinggalkan kami di lembah yang sunyi tak ada siapa-siapa ini?”, tanya Hajar berulang-ulang kepada suaminya.

Tapi Nabi Ibrahim tidak menjawab sepatah katapun. Ia terus berjalan menjauh meninggalkan keduanya. Akhirnya Hajar bertanya, “Apakah Allah yang telah memerintahkanmu melakukan ini?”. Nabi Ibrahim menjawab, “Iya”. Maka dengan spontan Hajar berucap, “Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami di sini”.

Sungguh tidak terbayangkan perasaan Nabi Ibrahim as. meninggalkan anak dan istrinya ditempat yang asing lagi sunyi tersebut. Jauh dari negerinya di Palestina. Tapi karena itu memang sudah perintah Allah, maka Nabi Ibrahim melakukannya. Setelah agak jauh meninggalkan lembah Makkah, Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah:

رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجْعَلْ أَفْـِٔدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim: 37).

Allah pun mengabulkan doa Nabi Ibrahim ini. Hajar dan Ismail mendapatkan air Zamzam. Dan kemudian orang-orang arab sekitar berdatangan ke lembah itu, meminta izin tinggal dan menetap kepada Hajar selaku pemilik air. Dan berawallah disana sebuah peradaban baru.

Disaat Ismail sudah berusia remaja, sudah bisa diajak ayahnya berusaha bersama, Nabi Ibrahim kembali mendapat ujian berat dari Allah terkait anak kesayangannya ini. Datang perintah Allah melalui mimpinya untuk menyembelih sang anak.

Sungguh ini merupakan sebuah perintah Allah yang sangat berat melaksanakannya. Bila dulu semasa bayi disuruh “membuangnya” jauh dari Palestina ke Makkah, maka itu hanyalah berpisah sementara. Masih mungkin untuk berjumpa. Sedangkan ini perintah untuk berpisah selama-lamanya. Dan tidak main-main, sang Ayah langsung yang akan mengeksekusi anak tercintanya.

Namun, karena ini memang perintah Allah, maka Nabi Ibrahim as. mematuhinya dengan penuh ketaatan. Maka dipanggilnyalah anaknya untuk persiapan eksekusi penyembelihannya. Allah berfirman menceritakannya:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102)

Artinya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS Ash Shafaat: 102)

Nabi Ibrahim as. sangat menyadari bahwa ini adalah perintah Allah. Tapi dia mencoba berkomunikasi dengan anaknya dengan bahasa tawaran dan minta pendapat. Namun, ternyata Ismail juga seorang anak yang shaleh, yang patuh kepada Allah dan kepada orang tuanya. Maka dengan mantap ia mempersilakan ayahnya untuk mengeksekusi perintah Allah.

Dikala Ibrahim dan Ismail sudah siap dan tunduk kepada perintah Allah, dan keduanya tidak terpengaruh sedikitpun dengan godaan iblis yang ingin menggagalkan eksekusi itu, maka Allah mengganti Ismail dengan seekor domba yang gemuk. Keduanya pun lolos dan lulus dalam melewati ujian Allah.

Allah berfirman:

فَلَمَّا أَسْلَما وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنادَيْناهُ أَنْ يا إِبْراهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيا إِنَّا كَذلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هذا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْناهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107).

Artinya: “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”. (QS Ash Shaffat: 103-107).

Ujian ini telah menjadikan Ibrahim dan anaknya Ismail, menjadi hamba dan keluarga yang mulia. Rangkaian pengorbanan mereka Allah jadikan sebagai ibadah mulia dalam ritual Haji dan Ibadah Qurban.

Pelajaran dari kisah ini:

1. Mematuhi perintah Allah, walaupun kadang tidak rasional dan tidak logis, atau bahkan menyulitkan dan menyusahkan, itulah puncak penghambaan seseorang kepada Allah. Sebab, kalau hanya mematuhi yang disenangi, pada hakekatnya itu bukanlah kepatuhan.

2. Semua perintah dan syariat Allah pastilah memiliki hikmah dan manfaat dibaliknya, untuk kemashlahatan seorang hamba, baik di dunia, maupun di akhirat.

3. Setiap muslim dan muslimah tidak boleh berputus asa atas rahmat dan karunia Allah. Dia Maha berkehendak untuk memberi atau menahan. Karenanya berdoa dan memohon kepadanya tidak pernah ada batasnya.

4. Hajar adalah salah satu sosok istri yang shalehah. Ia beriman dan yakin akan kekuasaan Allah dan ia patuh kepada suaminya dalam ketaatan kepada Allah. Walaupun itu beresiko kesusahan dalam hidupnya.

5. Ismail adalah sosok dari seorang anak yang shaleh. Ia beriman kepada Allah, tidak ragu akan perintahNya, dan bersabar dengan ujianNya. Ia juga berbakti kepada orang tuanya.

Wallahu A’laa wa A’lam.

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!


Streaming Provider by :
KLIKHOST.com

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional