Menu

Ramadhan 15 KISAH DAN ‘IBRAH SIHIR MELAWAN MUKJIZAT

  Dibaca : 124 kali
Ramadhan 15 KISAH DAN ‘IBRAH SIHIR MELAWAN MUKJIZAT

Sipp FM-  Sudah menjadi sunnatullah bahwa manusia sering takluk dihadapan peristiwa luar biasa. Bila ada seseorang menghadirkan suatu yang diluar kebiasaan, atau di atas kemampuan rata-rata manusia, maka manusia akan mengagumi orang tersebut sampai kemudian ke tingkat mengagungkan.

Kalau sudah sampai pada tahapan mengagungkan, maka kemudian manusia bisa terseret kepada mengkultuskan bahkan mempertuhankan. Sehingga kemudian muncul kepatuhan dan ketundukan kepada si pemilik keistimewaan tersebut, secara mutlak dan membabi buta.

Itulah yang dialami oleh masyarakat mesir secara umum. Mereka ditaklukkan oleh Fir’aun dengan perantaraan sihir. Tukang-tukang sihir Fir’aun menundukkan rakyat dengan kehebatan-kehebatan mereka. Akibatnya para tukang sihir mendapat posisi terhormat di kerajaan Fir’aun.

Ketika Nabi Musa as telah mendebat Fir’aun tentang misi kerasulan yang dia bawa. Dan Fir’aun tak berdaya menghadapinya. Lalu timbul ancaman Fir’aun kepada Musa dengan menggunakan kekuasaan dan kekuatannya, maka Musa as harus meyakinkan mereka semua dengan sesuatu yang luar biasa. Apalagi orang-orang kafir penyembah tuhan selain Allah, tak mudah beriman tanpa melihat mukjizat.

Maka tak dapat dielakkan lagi, mukjizat harus berhadapan dengan sihir. Atau lebih tepatnya, sihir menantang mukjizat. Adu kuat dua hal yang diluar kebiasaan ini akan mempengaruhi opini umum dan arah pilihan mereka. Kekuatan mana yang menang, pastilah akan mendapatkan keberpihakkan yang mayoritas.

Para tukang sihir sudah menantang Nabi Musa dalam sebuah acara yang besar. Dihadiri oleh seluruh khalayak. Dan dijadikan sebagai sebuah event “nasional” ketika itu. Allah berfirman:

قَالُوا أَرْجِهْ وَأَخَاهُ وَابْعَثْ فِي الْمَدَائِنِ حَاشِرِينَ (36) يَأْتُوكَ بِكُلِّ سَحَّارٍ عَلِيمٍ (37) فَجُمِعَ السَّحَرَةُ لِمِيقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُومٍ (38).

Artinya: “Tundalah (urusan) dia dan saudaranya dan kirimkanlah ke seluruh negeri orang-orang yang akan mengumpulkan (ahli sihir), niscaya mereka akan mendatangkan semua ahli sihir yang pandai kepadamu. Lalu berkumpullah ahli-ahli sihir pada waktu yang ditetapkan di hari yang maklum.” (QS Asy Syu’ara: 36-38).

Maka berdatanganlah para tukang sihir dari seluruh penjuru Mesir. Mereka dengan berbagai keahlian sihirnya akan menaklukkan Nabi Musa dan Harun dengan mukjizatnya. Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa mereka diundang oleh Fir’aun. Dan mereka adalah orang yang paling pandai dan paling pakar dalam ilmu sihir dan paling ahli dalam membuat ilusi pandangan mata orang lain. Para ahli sihir yang dikumpulkan oleh Fir’aun jumlahnya sangat banyak; menurut suatu pendapat jumlah mereka dua belas ribu orang. Menurut pendapat yang lain lima belas ribu orang; menurut pendapat yang lainnya lagi tujuh belas ribu orang. Bahkan ada yang berpendapat lebih dari itu.

Sungguh peristiwa hari itu menjadi suatu peristiwa penting dan keramaian yang luar biasa, karena jumlah tukang sihir sangat banyak, serta kehadiran masyarakat yang semuanya diundang untuk menyaksikan acara tersebut. Allah berfirman:

وَقِيلَ لِلنَّاسِ هَلْ أَنْتُمْ مُجْتَمِعُونَ (39) لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ السَّحَرَةَ إِنْ كَانُوا هُمُ الْغَالِبِينَ (40).

Artinya: “Dan dikatakan kepada orang banyak, “Berkumpullah kamu sekalian, semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang.” (QS Asy Syu’ara: 39-40).

Masyarakat tidak menyebutkan akan mengikuti mana yang benar. Akan tetapi mereka akan mengikuti mana yang menang. Ini juga menunjukkan bahwa secara umum masyarakat sangat terpengaruh dan cendrung mengikuti agama pemimpinnya.

Sebelum pertarungan sihir melawan mukjizat ini dimulai, rupanya para tukang sihir mengajukan syarat kepada Fir’aun. Mereka meminta kompensasi dan hadiah khusus (yang banyak tentunya) dari Fir’aun kalau mereka berhasil menang menaklukkan mukjizat Musa as. Allah berfirman:

فَلَمَّا جَاءَ السَّحَرَةُ قَالُوا لِفِرْعَوْنَ أَئِنَّ لَنَا لَأَجْرًا إِنْ كُنَّا نَحْنُ الْغَالِبِينَ (41) قَالَ نَعَمْ وَإِنَّكُمْ إِذًا لَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ (42).

Artinya: “Maka tatkala ahli-ahli sihir datang, mereka bertanya kepada Fir’aun, “Apakah kami sungguh-sungguh mendapat upah yang besar jika kami adalah orang-orang yang menang?” Fir’aun menjawab, “Ya. Kalau demikian, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan menjadi orang yang didekatkan (kepadaku).” (QS Asy Syu’ara: 40-41).

Ini menunjukkan bahwa para pembela kebathilan selalu saja bekerja dengan pamrih dan mengharapkan balas jasa. Tak pernah mereka bekerja secara tulus dan ikhlas. Dan penguasa yang diktator juga terus “memelihara” mereka dengan “upah dan kompensasi”.

Ketika semua sudah siap dalam posisi masing-masing, dan Nabi Musa as juga sudah bersiap dengan tongkatnya, maka pertarungan sihir melawan mukjizat segera dimulai. Sedangkan Fir’aun duduk di tempat yang disediakan khusus untuknya, bersama para petinggi kerajaan dan tentaranya, menyaksikan pertarungan ini.

Awalnya para tukang sihir menawarkan apakah mereka yang akan menampilkan sihirnya lebih dahulu, ataukah Musa yang dahuluan. Akan tetapi Nabi Musa dengan mantap menyuruh mereka yang menampilkan sihir terlebih dahulu. Allah berfirman:

قَالَ لَهُمْ مُوسَى أَلْقُوا مَا أَنْتُمْ مُلْقُونَ (43) فَأَلْقَوْا حِبَالَهُمْ وَعِصِيَّهُمْ وَقَالُوا بِعِزَّةِ فِرْعَوْنَ إِنَّا لَنَحْنُ الْغَالِبُونَ (44).

Artinya: “Berkatalah Musa kepada mereka, “Lemparkanlah apa yang hendak kalian lemparkan.” Lalu mereka melemparkan tali temali dan tongkat-tongkat mereka dan berkata, “Demi kekuasaan Fir’aun, sesungguhnya kami benar-benar akan menang.” (QS Asy Syu’ara: 43-44).

Seluruh tukang sihir mengeluarkan segenap kemampuan dan tipuan mereka untuk mengelabui mata para penonton pertarungan itu. Tali-temali dan tongkat-tongkat mereka seperti bergerak-gerak bagaikan ular yang siap menerkam. Mereka menghadirkan sebuah sihir yang dahsyat yang membuat semua orang menjadi ketakutan.

Termasuk Nabi Musa, di awal menyaksikan sihir tersebut agak merasa takut dan cemas. Namun Allah menguatkannya dan segera memerintahkan Musa as untuk melempar tongkatnya. Begitu tongkat dilemparkan ke hadapan mereka, tongkat itu berubah menjadi ular yang lebih besar dan sebenar-benarnya ular. Bukan ular khayalan. Ular itu memakan semua ular-ular palsu yang dibuat tukang sihir.

Semua tukang sihir menyaksikan peristiwa dahsyat tersebut. Dan mereka sangat tahu bahwa ular mereka semuanya tipuan. Hanyalah tali-temali yang tak berdaya. Dan mereka saksikan juga bahwa mukjizat Nabi Musa itu sangat hakiki, bukan ilusi. Sehingga mereka serta merta beriman kepada Nabi Musa dan langsung bersujud kepada Allah. Allah berfirman:

فَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ (46) قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ (47) رَبِّ مُوسَى وَهَارُونَ (48).

Artinya: “Maka tersungkurlah ahli-ahli sihir sambil bersujud (kepada Allah). Mereka berkata, “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, (yaitu) Tuhan Musa dan Harun.” (QS Asy Syu’ara: 46-48).

Sungguh diluar dugaan dan prediksi. Banyak pihak yang meyakini bahwa tukang-tukang sihir itu pasti menang. Setidaknya itu menurut “survey” mayoritas mereka. Ternyata, para tukang sihir tidak saja kalah, tapi juga justru merekapun berbalik membela Musa as.

Padahal belum berapa saat ini mereka masih pendukung setia Fir’aun. Dan masih sangat antusias untuk mengalahkan Musa. Ini menjadi pukulan telak bagi Fir’aun. Sebuah kekalahan yang sangat menyakitkan.

Fir’aun meradang dan murka. Belum pernah ia mengalami kekalahan sebesar ini dalam sejarah kekuasaannya. Alih-alih ia mengakui kebenaran Musa as, malah ia menuduh para tukang sihir ini sudah sejak lama bersama Musa, berguru sihir kepadanya. Allah berfirman:

قَالَ آمَنتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ ۖ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلَسَوْفَ تَعْلَمُونَ ۚ لَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُم مِّنْ خِلَافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ (49).

Artinya: “Fir’aun berkata, “Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepada kalian? Sesungguhnya dia benar-benar pemimpin kalian yang mengajarkan sihir kepada kalian, maka kalian nanti pasti benar-benar akan mengetahui (akibat perbuatan kalian); sesungguhnya aku akan memotong tangan kalian dan kaki kalian dengan bersilangan dan aku akan menyalib kalian semuanya.” (QS Asy Syu’ara: 49).

Kemarahan dan murka Fir’aun sangat tampak dari ancaman hukuman yang akan ditimpakannya kepada tukang sihir. Hukuman potong tangan dan kaki secara bersilang telah menunggu mereka. Namun semua ancaman itu tidak membuat takut mereka sedikitpun. Justru keimanan mereka semakin kuat. Karena telah menyaksikan mukjizat Nabi Musa secara langsung. Mereka berkata dalam Firman Allah:

قَالُوا لَا ضَيْرَ إِنَّا إِلَى رَبِّنَا مُنْقَلِبُونَ (50) إِنَّا نَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لَنَا رَبُّنَا خَطَايَانَا أَنْ كُنَّا أَوَّلَ الْمُؤْمِنِينَ (51).

Artinya: “Mereka berkata, “Tidak ada kemudaratan (bagi kami); sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami, sesungguhnya kami amat menginginkan bahwa Tuhan kami akan mengampuni kesalahan kami, karena kami adalah orang-orang yang pertama-tama beriman.” (QS Asy Syu’ara: 50-51).

Para tukang sihir itu membayar keimanan mereka dengan harga nyawa mereka. Sebab, Fir’aun kemudian membunuh mereka semua. Tapi mereka mendapat kemuliaan dari Allah menjadi orang qibti yang pertama beriman kepada Nabi Musa as.

Pelajaran dari kisah ini:

1. Apapun peristiwa luar biasa, bagi seorang mukmin harus disikapi dengan iman. Tidak boleh menimbulkan pengkultusan kecuali hanya kepada Allah. Para ulama menyebutkan: Bila kamu lihat ada orang yang bisa berjalan di atas air atau terbang di atas udara, maka periksa dulu shalat dan ibadahnya. Kalau itu tidak berkualitas, maka itu adalah sihir.

2. Mukjizat adalah perkara luar biasa yang Allah berikan kepada Nabi dan Rasul, sebagai bukti kebenaran kenabiannya. Mukjizat bukanlah sihir. Mukjizat itu hakiki, sedangkan sihir hanyalah tipuan dan ilusi. Dan sihir berasal dari kerjasama manusia dengan jin/syetan.

3. Kualitas agama para pemimpin sangat berpengaruh kepada rakyatnya. Bila pemimpinnya dekat dengan Allah, maka rakyatnya juga akan bagus kualitas agamanya. Sebaliknya, bila pemimpinnya jauh dari agama, maka rakyatnya pun akan akan seperti pemimpinnya. Ketika Umar bin Abdul Aziz peduli dengan shalat dan ibadah, maka rakyatnya banyak berbicara tentang ibadah.

4. Bila hati sudah bergelimang dosa dan kekufuran, maka apapun ayat dan mukjizat Allah yang muncul, tidak akan ada pengaruh sama sekali. Justru pembangkangan yang terus terjadi.

5. Setiap keimanan dan loyalitas pasti punya resiko, sebagai ujian dan bukti atas iman tersebut. Ujian ini mulai dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi dengan harga nyawa.

Wallahu A’laa wa A’lam.

Oleh: Irsyad Syafar

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!


Streaming Provider by :
KLIKHOST.com

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional