Menu

Kisah dan Ibrah 9: Nabi Musa dan Kaum Bani Israil

  Dibaca : 178 kali
Kisah dan Ibrah 9: Nabi Musa dan Kaum Bani Israil

Oleh: Ustad Irsyad Syafar,Lc. M.Ed

Masih bersama kisah Bani Israil. Umat yang diberi banyak karunia oleh Allah dibanding umat-umat lain semasa mereka. Namun, mereka kurang bersyukur dan sering membangkang. Berulang kali mereka menyaksikan bukti-bukti keagungan Allah, tapi iman mereka sering terjungkal.

Sehingga wajar sekali Nabi Musa berbicara dengan mereka untuk terus mengingat nikmat dan karunia Allah yang banyak kepada mereka. Sebab, Beliau telah membersamai mereka dalam banyak ujian dan pemberian Allah. Dan mereka seperti tidak berubah-ubah juga. Allah berfirman:

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا وَآتَاكُمْ مَا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ (المائدة: 20)

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atas kalian ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antara kalian, dijadikan-Nya kalian orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepada kalian apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat lain.” (QS Al Maidah: 20).

Dari bahasanya, nampak sekali Nabi Musa sangat kasihan kepada kaumnya (bani Israil) yang sudah sering bolak-balik dihadapan kebenaran. Sebab, Beliau telah merasakan dan mengalami sikap “nyinyir” kaumnya, selama dalam perjalanan iman Beliau bersama mereka.

Bani Israil telah mengetahui dan menyaksikan bagaimana mukjizat Nabi Musa mengalahkan Firaun dan para tukang sihirnya. Lalu Nabi Musa berhasil menyelamatkan mereka dari kehinaan dan ketertindasan di bawah kekuasaan Firaun. Beliau bawa mereka selamat keluar dari mesir. Lalu dengan izin Allah, mereka selamat menyeberang laut merah, setelah mereka saksikan mukjizat Nabi Musa membelah laut. Dan Firaun bersama bala tentaranya mati tenggelam.

Akan tetapi, sesampai di seberang, mereka lihat sekelompok kaum menyembah berhala. Mereka ingin pula punya tuhan seperti kaum tersebut. Mereka berkata kepada Musa, “Wahai Musa, buat pulalah bagi kami tuhan seperti tuhan-tuhan mereka.”

Tak lama setelah itu, mereka ditinggal beberapa hari oleh Nabi Musa, karena pergi menghadap Allah ke bukit Sinai. Merekapun berbuat aniaya. Mereka sembah pula tuhan baru berupa sapi yang dibuat oleh samiri dari emas. Mereka katakan pula, “Ini tuhannya Musa yang sedang pergi.” Lalu Nabi Musa menyuruh mereka tobat kembali.

Kemudian pernah pula mereka meminta untuk melihat Allah secara langsung. Akibatnya mereka disambar petir dan mati seketika. Kemudian Allah hidupkan mereka kembali agat mereka mau bersyukur.

Kemudian Nabi Musa pernah pula memberi mereka air segar yang muncul dari sebuah batu yang dipecahkan Musa dikawasan padang pasir yang luas. Dan mereka mendapat makanan khusus lagi istimewa dari Allah, berupa “manna dan salwa”. Tiba-tiba mereka rindu pula makanan mereka ketika di mesir, berupa sayur mayur, ketimun, bawang putih, kacang adas dan bawang mereka. Mereka meminta tukar manna dan salwa dengan makanan di negeri mesir. Mereka bernostalgia pula dengan kehidupan mereka di mesir yang dulu penuh dengan kehinaan dan ketertindasan.

Mereka kembali “nyinyir” ketika terjadi kasus pembunuhan di kalangan mereka. Nabi Musa memerintahkan mereka untuk menyembelih sapi betina. Tapi mereka banyak “cincong”. Akhirnya dapat sapi dengan susah payah dan harga sangat mahal.

Sangatlah tepat kiranya Nabi Musa kembali menyuruh mereka untuk mensyukuri berbagai nikmat Allah yang telah tercurah kepada mereka. Allah utus para Nabi dari kalangan mereka, semenjak Nabi Ibrahim. Allah berikan mereka kehidupan yang layak dengan mempunyai istri, anak keturunan dan tempat tinggal. Sehingga mereka layak dikatakan raja. Dan mereka diberi banyak hal yang tak diberikan kepada kaum lain dimasa mereka.

Kali ini Nabi Musa menyuruh mereka untuk masuk ke Baitul Maqdis (palestina), negeri yang dijanjikan untuk mereka. Allah SWT berfirman:

يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ (المائدة: 21)

Artinya: “Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagi kalian, dan janganlah kalian lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kalian menjadi orang-orang yang merugi.”

Pada ayat ini Allah SWT menceritakan bahwa Nabi Musa menyuruh kaumnya Bani Israil untuk berjihad dan memasuki Baitul Maqdis (tanah suci), yang dahulunya adalah milik mereka di masa kakek moyang mereka, yaitu Nabi Ya’qub as. Dimana Nabi Ya’qub dan anak-anaknya serta semua keluarganya pergi meninggalkannya, menuju ke negeri Mesir di masa Nabi Yusuf as. Mereka menetap tinggal di Mesir, dan baru keluar meninggalkannya bersama Musa as.

Tetapi mereka menjumpai di dalam kota Baitul Maqdis suatu kaum dari orang-orang yang kuat lagi gagah perkasa, yang telah merebut kota itu dan menguasainya. Rasa takut dan sifat pengecut mereka langsung muncul. Mereka berdalih mencari-cari alasan, seperti dalam firman Allah:

قَالُوا يَا مُوسَى إِنَّ فِيهَا قَوْمًا جَبَّارِينَ وَإِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا حَتَّى يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنَّا دَاخِلُونَ (المائدة: ٢٢).

Artinya: “Mereka berkata.”Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka telah keluar darinya, pasti kami akan memasukinya.” (QS Al Maidah: 22).

Ciutlah nyali mereka melihat musuh yang kuat dan bertubuh raksasa. Mereka tidak mau masuk menyerang ke dalam Baitul Maqdis, kecuali bila kaum tersebut telah keluar dari sana.

Ketika kaum Bani Israil menolak untuk taat kepada Allah dan menolak mengikuti rasul-Nya —yaitu Nabi Musa as.—, mereka digerakkan oleh dua orang lelaki yang telah mendapat nikmat yang besar dari Allah; keduanya termasuk orang-orang yang taat kepada perintah Allah dan takut terhadap siksaan-Nya. Dua orang laki-laki itu berkata sebagaimana dalam Firman Allah:

قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (المائدة: 23)

Artinya: “Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang keduanya telah diberi nikmat oleh Allah, “Serbulah mereka melalui pintu gerbang (kota) itu! Bila kalian memasukinya, niscaya kalian akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS Al Maidah: 23).

Sebuah gelora semangat yang dikobarkan oleh dua orang laki-laki beriman dari kaum Nabi Musa. Namun sayangnya, bani Israil tak bergeming. Mereka bersikukuh tidak mau masuk berjihad. Mereka malah membangkang dan menyuruh Nabi Musa pergi saja berjuang berdua dengan Tuhannya. Allah berfirman:

قَالُوا يَا مُوسَى إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ (المائدة: 24).

Artinya: “Mereka berkata, “Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya selagi mereka ada di dalamnya. Karena itu, pergilah kamu bersama Tuhanmu; dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja!” (QS Al Maidah: 24).

Suatu sikap yang tidak saja pengecut. Akan tetapi juga membangkang kepada Allah dan melecehkan NabiNya.

Melihat sikap mereka ini, kembali Nabi Musa menyerahkan urusannya kepada Allah SWT. Nabi Musa dan Nabi Harun bersujud memohon pertolongan Allah. Sebab, ia tidak punya daya menghadapi musuhnya kecuali dirinya dan saudaranya (Nabi Harun). Maka Allah SWT memberikan jawaban sekaligus menurunkan hukuman bagi bani Israil. Mereka dihukum dengan tersesat di padang pasir selama 40 tahun. Tidak tahu arah yang dituju dan tidak tahu dimana mereka berada. Allah berfirman:

قَالَ رَبِّ إِنِّي لَا أَمْلِكُ إِلَّا نَفْسِي وَأَخِي فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ. قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ أَرْبَعِينَ سَنَةً يَتِيهُونَ فِي الْأَرْضِ فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ (المائدة: ٢٥-٢٦)

Artinya: “Berkata Musa, “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu, pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.” Allah berfirman, “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib)orang-orang yang fasik itu.” (QS Al Maidah: 25-26).

Imam Ibnu Katsir menceritakan dalam tafsirnya bahwa bani Israil tersesat selama 40 tahun. Mereka tidak bisa memasuki Palestina. Dalam masa itu pula banyak bani Israil yang meninggal dunia. Dan di masa itu pula Nabi Harun wafat, lalu disusul dengan wafatnya Nabi Musa. Semua rentetan kisah ini Allah abadikan dalam surat Al Maidah: 20-26.

Pelajaran

1. Bani Israil mendapat banyak nikmat dan kasih sayang dari Allah dalam jangka waktu yang panjang, melebihi kaum-kaum yang ada waktu itu, yang telah hidup di muka bumi.
2. Nikmat dan kasih sayang dari Allah itu berupa pemberian karunia seperti: pengutusan nabi dari kalangan mereka, selamat dari penindasan Firaun, makanan dan minuman khusus dll. Juga berupa ampunan dosa setiap kali mereka melakukan kesalahan.
3. Umat yang mendapat karunia dan nikmat yang banyak dari Allah, namun kemudian tidak mensyukurinya dan tidak bertambah imannya, maka nasibnya akan berakhir hina dan sengsara.
4. Ujian akan selalu datang dari Allah menimpa hamba-hambaNya, untuk menentukan siapa yang betul-betul beriman dan patuh kepada Allah dan siapa yang hanya berpura-pura.
5. Dalam perjuangan di jalan Allah, kemenangan tidak ditentukan oleh jumlah pasukan dan persenjataan. Akan tetapi, sangat dipengaruhi oleh keimanan dan keyakinan akan pertolongan Allah.

Wallahu A’laa wa A’lam.

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Loading the player...

PROGRAM

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional