Menu

Kisah dan Ibrah 8: Janji Allah Swt Terhadap Kaum Bani Israil

  Dibaca : 72 kali
Kisah dan Ibrah 8: Janji Allah Swt Terhadap Kaum Bani Israil

Oleh: Ustad Irsyad Syafar,Lc. M.Ed

Bani Israil adalah kaum yang paling sering Allah ceritakan di dalam Al Quran. Dan mereka adalah kaum yang paling sering pula mengingkari janji, merusak komitmen dan memutar-balikkan fakta. Mereka malah tak segan-segan untuk mendistorsi kitab-kitab Allah dan mengubahnya. Watak seperti ini membuat mereka mudah menjadi pengkhianat.

Allah menceritakannya berulang kali di dalam Al Quran, adalah sebagai pelajaran dan peringatan bagi Rasulullah dan para sahabat serta umat Islam sampai akhir zaman. Sebab, semua akan bertemu, bergaul dan berinteraksi dengan kaum ini. Sehingga dapat berhati-hati dan waspada. Sebelum tertipu atau terjebak dalam tipu daya dan pengkhianatan mereka.

Dalam tafsir Ibnu Katsir dinyatakan, Ibnu ‘Abbas menyebutkan dari Ibnu Ishaq dan beberapa ulama lainnya, bahwa ketika Nabi Musa as. berangkat untuk memerangi para penguasa dhalim, ia memerintahkan kaumnya agar setiap kabilah mengangkat seorang pemimpin. Tujuannya adalah untuk mengambil janji setia dari mereka semua.

Janji setia itu bukan sembarang janji. Melainkan janji timbal balik kepada Allah dengan mereka. Bila mereka berikan janji setia mereka kepada Allah dan mereka tunaikan, maka Allah juga memberikan janji balasan yang berlipat ganda.

Proses perjanjian itu menggunakan sistem perwakilan. Setiap kabilah (suku) dari bani Israil, menunjuk satu orang pemimpin mereka. Lalu pemimpin yang mereka tunjuk inilah yang berjanji setia kepada Allah melalui Nabi Musa. Sedangkan kaum yang mereka wakili, masuk dan terikat di dalam janji setia yang sama.

Waktu itu Allah mengambil janji setia dari 12 orang pemuka bani Israil yang mewakili 12 kabilah keturunan Nabi Ya’qub. Janji setia mereka adalah:

Pertama, mereka akan menunaikan shalat. Tentunya shalat yang sebenar-benarnya shalat. Tidak asal-asalan, penuh tunduk kepada Allah dan berefek kepada perilaku mereka.

Kedua, mereka akan menunaikan zakat. Tentunya juga bukan sekedar membayarkan harta sebagian. Melainkan juga sebagai pengakuan atas nikmat Allah, sebagai bentuk dari kepatuhan, dan sekaligus ungkapan kepedulian yang tulus kepada sesama.

Ketiga, mereka akan mengimani para Rasul Allah, tanpa kecuali dan tanpa membeda-bedakan mereka. Semua Rasul Allah itu datang dari Allah dan membawa Agama Allah. Dan tentunya, bila tidak mengimani salah satunya, maka sama saja dengan mengengkari keseluruhannya.

Keempat, iman mereka kepada para Rasul ini bukan sekedar pemanis bibir, bukan seremonial belaka, tetapi iman yang diiringi dengan dukungan, pembelaan, keikutsertaan memikul beban-beban, berjuang dengan para Rasul dalam berdakwah.

Keenam, mereka juga membayarkan infaq-infaq umum diluar zakat wajib. Dengan penuh pengorbanan, untuk kepentingan agama Allah.

Inilah janji setia (baiat) mereka kepada Allah. Sebaliknya, bila syarat-syarat janji ini terpenuhi dan mereka tunaikan, maka Allah juga berjanji akan membalas dan menggantinya dengan berlipat ganda:

Pertama, Allah akan selalu bersama mereka. Kebersamaan yang Agung yang mengandung makna petunjuk, perhatian, pendengaran, pertolongan, pembelaan dan bantuan lainnya, bagi mereka dimanapun mereka berada.

Kedua, Allah akan menghapuskan dosa dan kesalahan mereka. Karena mereka pasti tak akan luput dari salah dan khilaf. Namun Allah akan memaafkan semuanya selama memenuhi janji setia mereka. Sehingga mereka akan terhindar dari hukuman dan siksaan Allah.

Ketiga, Allah akan memasukkan mereka ke dalam sorga, yang dibawahnya mengalir sungai-sungai yang penuh nikmat. Ini janji yang tiada lagi janji di atas itu. Ini adalah hadiah yang tiada lagi hadiah lebih baik dari ini. Inilah cita-cita mulia seluruh hamba-hamba Allah yang mulia.

Allah berfirman menggambarkan itu semua:

وَلَقَدْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيبًا وَقَالَ اللَّهُ إِنِّي مَعَكُمْ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلَاةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنْتُمْ بِرُسُلِي وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ فَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ. (المائدة: ١٢).

Artinya: “Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka dua belas orang pemimpin dan Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku beserta kalian, sesungguhnya jika kalian mendirikan salat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kalian bantu mereka dan kalian pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosa kalian. Dan sesungguhnya kalian akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka barang siapa yang kafir di antara kalian sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS Al Maidah: 12).

Akan tetapi, dasar watak bani Israil, mereka kemudian ingkar janji kepada Allah. Seperti sikap-sikap mereka yang sudah terkenal. Mereka biasa mengkhianati Allah, mereka membunuh para Nabi, mereka merencanakan penyaliban Nabi Isa, dan mereka juga kemudian berupaya membunuh Rasulullah saw, Nabi akhir zaman.

Imam Ibnu Katsir dalam penjelasannya mengutip pernyataan Al-Hasan yang mengatakan: “Mereka tidak mengamalkan ajaran agama mereka, serta tugas yang dilimpahkan Allah kepada mereka.” Adapun ulama lain mengatakan: “Mereka tidak mengamalkan apa yang telah diperingatkan kepadanya sehingga mereka menjalani keadaan yang hina. Maka jadilah mereka tidak lagi mempunyai hati yang bersih, fitrah yang lurus, dan amal yang benar.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Allah melanjutkan keterangan sifat dan perilaku bani Israil, yang kemudian berakibat mereka menjadi terlaknat (terkutuk):

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ.

Artinya: “karena mereka melanggar janjinya. Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al Maidah: 12).

Begitulah sifat asli kaum yahudi. Suka melanggar janji. Akibatnya mereka terlaknat (terkutuk) oleh Allah dimanapun mereka berada. Dan Allah jadikan hati mereka menjadi keras membatu. Sehingga sulit untuk mendapatkan hidayah. Akibatnya mereka semakin tersesat, sehingga berani menukar-nukar ayat Allah, membolak-balikkannya, atau menukar-nukar letaknya.

Diujung ayat Allah memberikan peringatan kepada Rasulullah saw tentang kebiasaan kaum yahudi bila hidup bersama kaum Muslimin dan Mukminin. Yaitu, kebanyakan dari mereka sering berkhianat:

وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ.

Artinya: “dan kamu (Muhammad) Senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat).” (QS Al Maidah: 13).

Saat mereka lemah, mereka akan bermanis muka dan lidah kepada kaum muslimin. Sebaliknya, dibelakang mereka akan berkhianat dan melakukan konspirasi untuk menghancurkan kaum muslimin.

Sejarah hidup Rasulullah saw di Madinah membuktikan semua firman Allah tersebut. Yahudi bani Qainuqa’ berkhianat di pasar mereka dengan menyingkap aurat seorang muslimah, dan membunuh seorang muslim yang membela muslimah tersebut. Yahudi bani Qanuqa’ kemudin dikepung pasukan Rasulullah saw. Lalu diusir keluar kota madinah.

Setahun kemudian yahudi bani Nadhir berkhianat dengan melakukan upaya serius untuk membunuh Rasulullah saw. Ketika itu Rasulullah saw datang ke benteng mereka untuk meminta sedikit bantuan sesuai perjanjian piagam Madinah. Mereka menyuruh Rasulullah saw menunggu di balik dinding. Tapi diam-diam mereka menyiapkan batu besar untuk dijatuhkan dari atas dinding ke kepala Rasulullah saw. Untunglah Malaikat Jibril memberitahu Rasulullah saw sehingga bisa pergi menjauh dan selamat. Yahudi bani Nadhirpun kemudian diusir semua keluar Madinah.

Kali berikutnya yahudi bani Quraizhah. Mengkhianati Rasulullah saw ketika perang Khandaq. Saat Rasulullah saw dan para sahabat dalam suasana mencekam menghadapi kepungan pasukan koalisi kafir Quraisy, yahudi bani Quraizhah berkhianat dan menyerang pula dari belakang. Akibat, setelah perang khandaq selesai, Rasulullah saw langsung membalas menyerang yahudi bani Quraizah dan menawan mereka. Semua yang lelaki dihukum mati, sedangkan yang perempuan dan anak-anak dijadikan budak.

Pelajaran

1. Kaum yahudi bani Israil memiliki watak dan sifat tercela yang selalu muncul dan terlihat disepanjang sejarah, semenjak masa anak-anak Nabi Ya’qub sampai akhir zaman kelak.
2. Watak dan sifat tercela mereka yang paling kentara adalah mengkhianati Nabi, menukar-nukar ayat Allah dan ingkar janji.
3. Allah memberikan petunjuk dan arahan kepada Rasulullah saw dan umatnya tentang perangai dan bagaimana berinteraksi dengan kaum yahudi.
4. Sejarah membuktikan bahwa kaum yahudi tidak akan pernah kapok kecuali dengan bahasa perang.
5. Sebagian umat Islam, juga kadang berperangai seperti kaum yahudi atau meniru gaya mereka, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai mereka masuk lubang biawakpun, ada juga yang mengikutinya.

Wallahu A’laa wa A’lam.

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Loading the player...

ig: @sippfm

PROGRAM

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional