Menu

Kisah dan Ibrah 6: Ujian Para Ksatria

  Dibaca : 68 kali
Kisah dan Ibrah 6: Ujian Para Ksatria

Oleh: Ustad Irsyad Syafar, Lc. M,Ed

Sudah menjadi kehendak Allah, bahwa yang paling berat menghadapi ujian dan cobaan dalam perjuangan adalah para Nabi dan Rasul. Baru kemudian orang-orang yang level dibawahnya. Dan diantara yang terberat dihadapi mereka adalah ketika dalam perjuangannya mengalami kekalahan dan kendala. Sebab, bila Nabi kalah dalam perjuangannya, tentu para pengikutnya akan goncang. Bahkan bisa-bisa ada yang murtad. Apalagi kalau bukan Nabi, yang tak diperkuat oleh mukjizat dan wahyu, kalau mengalami kekalahan dalam perjuangan, pasti akan mengalami “gempa” atau “tsunami” ditengah barisannya.

Rasulullah saw mengalami langsung kondisi seperti yang disebut di atas. Dalam perang uhud (secara materi) Beliau mengalami kekalahan yang cukup telak. Ada 70 orang sahabat yang gugur. Termasuk salah satunya paman Beliau yang mulia, Hamzah bin Abdul Muththalib. Yang telinganya putus dan perutnya terburai. Juga sahabat mulia lainnya semisal Mush’ab bin Umair, Amru bin Jamuh, Sa’ad bin Rabi’, Abu Sa’id Alkhudri, Abdullah bin Jubair, Hanzhalah bin Abi ‘Amir, Abdullah bin Amr bin Haraam dan lain-lain. Dan Rasulullah saw sendiri juga mengalami luka-luka dan nyaris terbunuh.

Peristiwa perang uhud ini semakin mengena di hati setelah kemudian Allah turunkan ayat-ayat yang menceritakannya. Lengkap dengan taujih (arahan) dan teguran dari Allah SWT. Agar menjadi pelajaran bagi seluruh umat Islam yang berjuang sampai akhir zaman. Allah mengajarkan sebuah rumusan dan pelajaran: Bila umat Islam mendapat kebaikan (kemenangan) pasti akan membuat susah orang-orang kafir. Sebaliknya, bila Umat Islam ditimpa kesusahan (kekalahan) maka mereka akan sangat berbahagia. Allah berfirman:

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا ۖ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Artinya: “Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS Ali Imran: 120).

Al Quran menceritakan ulang peristiwa Uhud semenjak persiapan keberangkatan Rasulullah saw dari rumahnya. Dimana telah terjadi dialog-dialog, perundingan dan perbedaan pendapat. Sebagian menginginkan perang keluar Madinah. Sebagian lagi ingin menunggu musuh di dalam madinah saja. Semua dialog dan perdebatan yang terjadi, termasuk apa motif yang tersimpan di dalam hati, termasuk pengaturan pasukan perang oleh Rasulullah saw, dan amanah khusus bagi pasukan berpanah di atas bukit kecil, semuanya dalam ilmu dan pengetahuan Allah.

وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِينَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ.

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Ali Imran: 121).

Tentulah para sahabat yang masih hidup dan selamat dari perang Uhud sangat sangat tersentuh (mungkin bergidik) mendengar ayat ini. Peristiwa perangnya semua mereka lakoni dan mereka rasakan sendiri. Namun, tambahan Allah “Maha mendengar lagi Maha mengetahui” diujung ayat itu sangat menyentuh hati. Berarti Allah ada bersama mereka ketika itu, menyaksikan, mendengar dan mengetahui semua proses yang berlangsung. Sebuah tarbiyah (pelajaran) bagi semua pejuang kebenaran, bahwa tidak ada rahasia bagiNya.

Ketika Rasulullah saw sudah putuskan berangkat perang keluar Madinah, dan pasukan sudah bergerak menuju uhud, gembong kaum munafiq, Abdullah bin Ubay bin Salul, berontak terhadap keputusan tersebut. Beliau merasa dilecehkan karena pendapatnya tak digubris oleh Rasulullah saw. Padahal beliau seorang tokoh dan pemimpin yang hebat. Sedangkan yang diakomodir adalah pendapat “anak-anak kemaren sore” yang belum mengerti perang. Allah menggambarkan kejadian tersebut dalam firmanNya:

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ نَافَقُوا ۚ وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوِ ادْفَعُوا ۖ قَالُوا لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَاتَّبَعْنَاكُمْ ۗ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ ۚ يَقُولُونَ بِأَفْوَاهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ ۗ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ.

Artinya: “Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.” (QS Ali Imran: 167).

Keangkuhan Abdullah bin Ubay ini menunjukan bahwa hatinya belum ikhlas untuk aqidah (keyakinan) yang benar. Hatinya masih dikuasai oleh hawa nafsu dan kepentingan. Karena itulah, loyalitasnya juga sangat ditentukan oleh kepentingan, mengalahkan aqidahnya. Akibatnya, dia mundur dan mengajak para loyalisnya yang mencapai sepertiga pasukan Rasulullah saw, keluar dari barisan, dan kembali ke madinah. Pasukan yang tadinya berkekuatan 1000 orang menjadi 700 orang saja.

Berkurangnya sepertiga pasukan memang bukan masalah sepele. Membuyarkan semua strategi dan skenario perang. Meruntuhkan semangat juang pasukan yang tersisa. Apalagi musuh yang akan dihadapi mencapai 3000 orang atau lebih dari 4 kali lipat.

Ada dua kelompok dalam pasukan Rasulullah saw yang sangat terpengaruh dan berguncang gara-gara mundurnya kaum munafiq bersama Abdullah bin Ubay. Kedua kelompok ini melemah dan nyaris mundur pula dari peperangan. Untunglah perlindungan dan kasih sayang Allah masih melingkupi mereka. Sehingga mereka akhirnya tetap berangkat ke medan perang bersama Rasulullah saw. Allah berfirman:

إِذْ هَمَّتْ طَائِفَتَانِ مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلَا وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ.

Artinya: “ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS Ali Imran: 122).

Umar mengomentari ayat ini setelah turunnya, “Aku mendengar Jabir bin Abdullah berkata: “Kepada kamilah ayat tersebut turun. Kamilah dua kelompok tersebut, yaitu Bani Haritsah dan Bani Salamah. Kami sebenarnya tidak senang ayat itu turun, kalau tidak karena perkataanNya: “Allah pelindung kedua kelompok tersebut”. (HR Bukhari dan Muslim).

Begitulah Allah menyingkapkan sedikit isi hati dan suasana bathin sebagian pasukan, untuk mengembalikannya ke arah yang benar. Dan untuk membangkitkan kembali semangat perjuangan. Dan untuk memastikan kepada mereka bahwa penyebab utama kemenangan adalah kekuatan “tawakkal kepada Allah”.

Setelah peperangan berkecamuk di Uhud, sebenarnya pasukan kaum muslimin mengalami kemenangan cepat. Dimana walaupun jumlah personil tidaklah imbang, namun dengan semangat perjuangan yang tinggi, sebentar saja pasukan Kafir quraisy sudah kocar-kacir dan terpukul mundur. Sehingga tanda-tanda kekalahan mereka sudah mulai nampak. Mulailah sebagian pasukan memunguti dan mengambil rampasan perang yang berserakan.

Disinilah ujian itu datang. Dan disini pulalah pangkal kekalahan tersebut. Pasukan berpanah yang sejak awal diintruksikan Rasulullah saw untuk tetap bertahan di atas bukit kecil, menjaga dan mengamankan punggung para pejuang yang sedang bertempur di bawah, tidak boleh turun ke bawah, apapun dan bagaimanapun situasinya, baik kalah ataupun menang, semua wajib bertahan dan menunggu arahan Rasulullah. Tapi sebagian besar dari mereka tidak patuh. Hampir 40an orang berhamburan turun untuk ikut mengumpulkan ghanimah (rampasan perang). Tersisa hanya sekitar 10an orang pasukan berpanah di atas bukit. Semua yang tersisa ini tewas, syahid dibantai oleh pasukan berkuda Quraisy yang menyerang berputar dari belakang. Allah menyebutkan kelompok pasukan berpanah ini dalam firmanNya:

إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا ۖ وَلَقَدْ عَفَا اللَّهُ عَنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS Ali Imran: 155).

Akhirnya, kemenangan yang sudah di depan mata menjadi buyar seketika. Barisan pasukan Rasulullah saw kocar-kacir diserang kafir quraisy dari depan dan dari belakang. Hampir saja pertempuran berakhir tragis ketika ada issu bahwa Rasulullah saw telah terbunuh. Namun hal itu tidak terjadi karena masih ada beberapa sahabat Beliau yang masih konsisten dengan perjuangan. Sehingga kekalahan besar dapat diminimalisir, dan pasukan yang tersisa dapat selamat kembali ke kota Madinah.

Namun kekalahan diujung perang Uhud masih menyisakan beberapa kemenangan berharga, antara lain:

1. Terungkapnya siapa yang munafiq dalam barisan Rasulullah saw, adalah suatu kemenangan. Kalau tidak, mereka akan terus menjadi duri dalam daging, api dalam sekam.
2. Terkokohkannya hati dan sikap beberapa orang yang goyah dari kalangan mukminin, oleh karena perlindungan Allah, itu juga merupakan kemenangan.
3. Perang Uhud memberikan pelajaran sangat berharga kepada barisan umat Islam tentang urgensi kepatuhan, kedisiplinan dan loyalitas kepada Pimpinan perjuangan. Kemenangan yang sudah di dalam genggaman bisa hilang karena tidak patuh dan tidak disiplin. Apalagi kalau belum menang. Tentu akan lebih fatal akibatnya.
4. Tidak dijajahnya kota Madinah oleh kafir quraisy juga suatu kemenangan. Mereka merasa cukup membalas dendam kekalahan perang badar dengan kemenangan perang uhud. Mereka tidak melanjutkan serangan ke jantung kota madinah.
5. Para sahabat yang terbunuh dalam perang Uhud bukan orang-orang kalah (pecundang). Justru mereka adalah para syuhada yang mulia, yang Allah berikan derjat, karunia dan kehidupan di alam kubur mereka. Bahkan, dalam bebarapa kali peristiwa banjir menimpa pekuburan syuhada Uhud, ditemukan jasad-jasad mereka masih utuh dan segar, setelah berpuluh-puluh bahkan ratusan tahun.

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ.

Artinya: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS Ali Imran: 169).

Wallahu A’laa wa A’lam.

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Loading the player...

ig: @sippfm

PROGRAM

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional