Menu

Kisah dan Ibrah 5: Keluarga Pilihan Allah; Ibrahim dan Imran

  Dibaca : 132 kali
Kisah dan Ibrah 5: Keluarga Pilihan Allah; Ibrahim dan Imran

Oleh: Ustadz Irsyad Syafar, Lc. M.Ed

Ada dua keluarga yang Allah puji dan Allah muliakan dalam Al Quran. Yaitu keluarga Ibrahim dan Keluarga Imran. Kedua keluarga ini adalah keluarga orang-orang shaleh yang dekat dengan Allah dan ahli ibadah. Allah menyebut keduanya secara bersamaan dalam surat Ali Imran:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing).” (QS Ali Imran: 33).

Kemuliaan kedua keluarga ini ada banyak kesamaan dan kemiripan. Nabi Ibrahim tidak mendapat keturunan sampai usia yang sangat tua dan istrinya sudah masuk masa menopause. Baru pada usia 86 tahun Nabi Ibrahim dikaruniai Ismail dan Sarah melahirkan Ishaq saat berumur 90 tahun ketika Ibrahim sudah berumur 100 tahun. Sedang Imran juga baru mendapatkan anak yang bernama Maryam pada usia 90an tahun, dan istrinya Hannah juga sudah sangat tua lagi mandul.

Keluarga Ibrahim di muliakan Allah dengan kenabian. Ibrahim adalah Nabi dan Rasul. Lalu kedua anaknya; Ismail dan Ishaq, adalah Nabi. Lalu cucunya Ibrahim juga Nabi, yaitu Nabi Ya’qub. Sementara keluarga Imran juga dimuliakan Allah dengan dijadikannya Maryam binti Imran sebagai wanita “pilihan” Allah dan disucikan Allah. Kemudian cucunya Imran diangkat sebagai Nabi dan Rasul, yaitunya Nabi Isa.

Dalam keluarga Ibrahim ada Nabi Ulul ‘Azmi yaitu Nabi Ibrahim sendiri. Sedangkan dalam keluarga Imran juga ada Nabi Ulul ‘Azmi yaitu Nabi Isa. Allah berikan Nabi Ibrahim mukjizat ketika akan menyemblih anaknya Ismail – sesuai perintah Allah – dengan ganti seekor domba. Sehingga Ismail tetap hidup. Sedangkan Imran, Allah muliakan dengan mukjizat lahirnya Nabi Isa dari ibunya Maryam tanpa adanya seorang ayah.

Keluarga Nabi Ibrahim dikenal sebagai pembuka silsilah keturunan kenabian. Sehingga Nabi Ibrahim digelari dengan bapaknya para Nabi (Abul Anbiya’). Sedangkan keluarga Imran menjadi penutup silsilah keturunan kenabian. Karena, Nabi Isa adalah Nabi terakhir keturunan dari Bani Israil (anak-anak Nabi Ya’qub). Setelah itu, Nabi Muhammad saw, sebagai penutup sekalian Nabi, tidak berasal dari garis keturunan Bani Israil.

Berbicara tentang keluarga Imran adalah bicara tentang sebuah keluarga yang shaleh, taat, dekat dengan Allah. Imran bin Matan adalah seorang pemuka Bani Israil yang sangat terhormat lagi disegani. Imran ini bukan Imran ayahnya Nabi Musa. Para ulama tafsir, menyatakan bahwa jarak antara Imran ayahnya Maryam dengan Imran ayahnya Nabi Musa adalah sekitar 1.800 tahun.

Imran sudah tua renta. Istrinya, Hannah binti Faquza, pun juga sudah tua. Mereka sudah lama menginginkan punya keturunan. Suatu ketika Imran mendapat ilham bahwa ia akan dikaruniai seorang anak yang penuh berkah. Imran sangat bahagia mendapat berita ini. Hannah yang sudah tua, juga sangat bahagia, walaupun dia tak percaya itu akan terjadi.

Ketika Hannah sudah merasakan dirinya hamil, dia sangat bersuka cita. Doa dan harapan mereka sudah dikabulkan oleh Allah. Ia pergi ke tempat ibadah di baitul maqdis. Di dalam mihrab dia bermunajat kepada Allah dengan penuh khusyuk dan penyerahan diri. Allah berfirman:

إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya: (Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS Ali Imran: 35).

Hannah istri Imran sangat yakin bahwa anak yang dalam kandungannya adalah seorang laki-laki. Maka dia nazarkan sepenuhnya anak tersebut diserahkan kepada Allah, untuk berkhidmat menjadi pelayan di rumah Allah di Baitul Maqdis. Hari demi hari menunggu kelahiran anak yang diberkahi Allah ini, dilewati Hannah dengan penuh harapan. Namun, takdir Allah menghendaki lain. Imran wafat sebelum Hannah melahirkan. Sehingga Imran tidak melihat seperti apa anaknya yang dijanjikan Allah tersebut.

Ketika Hannah melahirkan bayinya, ternyata bayinya perempuan. Tidak laki-laki seperti yang dia harapkan dan nazarkan. Hannah pergi membawa bayinya ke Mihrab, bermunajat kepada Allah untuk memenuhi nazarnya dan mengadukan bayinya yang perempuan. Allah melukiskan dalam firmanNya:

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَىٰ ۖ وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Artinya: “Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk”. (QS Ali Imran: 36).

Hannah istri Imran menerima hadiah hamil di usia tua dengan penuh iman kepada Allah. Karenanya, dia juga serahkan bayinya dengan penuh iman dan keikhlasan kepada Allah. Walaupun yang lahir adalah seorang perempuan, sedangkan untuk berkhidmah di Baitul Maqdis harusnya seorang anak laki-laki, (dan laki-laki tidak sama dengan perempuan) namun Hannah tetap menyempurnakan nazarnya dan menyerahkan anak perempuannya, sepenuhnya kepada Allah.

Ketulusan, keikhlasan dan keimanan Hannah diterima Allah dengan sebaik-baik penerimaan. Bahkan Allah langsung yang menjamin dan menjaga pertumbuhan Maryam sejak bayi sampai besar. Allah berfirman:

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا.

Artinya: “Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya.” (QS Ali Imran: 37)

Karena Maryam terlahir dalam keadaan yatim, maka banyak pemuka Bani Israil yang berminat menjadi pengasuh Maryam. Apalagi Ayah dan Ibunya terkenal sebagai dua orang yang shaleh, taat dan dihormati. Karena begitu banyak yang ingin mengambil hak asuhannya, maka mereka melakukan pengundian. Dengan izin Allah, yang menang dan terpilih dalam undian itu adalah Nabi Zakaria. Beliau ternyata adalah paman bagi Maryam. Sebab, istri Nabi Zakariya yang bernama Isya’ (orang Kristen menyebutnya Elizabeth) adalah saudara kandung dari Hannah ibunya Maryam. Sehingga, mereka memang dalam satu keluarga besar.

Nabi Zakaria sangat menyayangi ponakannya tersebut. Maryam dibuatkan ruangan khusus di Mihrab Baitul Maqdis, sehingga bisa beribadah secara maksimal kepada Allah. Suci bersih terhindar dari berbagai pengaruh negatif di masyarkat. Selama masa pengasuhan ini, Nabi Zakaria menemukan keajaiban-keajaiban yang terjadi pada Maryam yang suci. Ketika Zakaria masuk ke kamar Maryam mengantarkan makanan, dia jumpai Maryam tengah khusyuk beribadah kepada Allah. Namun anehnya, di kamar tersebut sudah tersedia makanan yang banyak. Anehnya lagi, dikala musim dingin, makanan yang tersedia adalah korma-korma ruthab, yang biasanya hanya ada di musim panas. Sebaliknya, ketika musim panas datang, makanan yang sudah tersedia adalah buah jeruk yang biasanya hanya ada di musim dingin.

Sungguh keberkahan yang luar biasa. Nabi Zakaria sangat takjub dengan “keanehan” ini. Dia bertanya kepada Maryam, “Dari manakah datangnya makanan ini?”. Maryam menjawab, “Makanan ini semuanya dari Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki siapa saja yang dikehendakiNya, tanpa perhitungan”.

Menyadari bahwa keberkahan melingkupi Maryam, dan pastilah Malaikat Allah selalu berada di dekatnya, maka Nabi Zakari menggunakan kesempatan itu untuk juga mendapat rezeki dari Allah. Beliau sudah tua renta, dan istrinya juga sudah tua dan mandul. Sementara dia belum juga mempunyai keturunan. Maka Beliaupun berdoa kepada Allah, seperti dalam FirmanNya:

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ.

Artinya: Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS Ali Imran: 38).

Dan ternyata doa Zakaria dikabulkan segera oleh Allah. Ketika Beliau tengah berdiri dalam shalatnya di dalam mihrab, Malaikat memanggilnya dan mengabarkan bahwa dia akan mendapat anak laki-laki bernama Yahya. Betul-betul nikmat yang tiada tara. Langsung mendapat anak laki-laki dari Allah, lengkap dengan namanya (juga dari Allah) dan statusnya tidak saja anak yang shaleh, tetapi dia seorang Nabi, Panutan, jauh dari hawa nafsu dan termasuk orang yang shaleh. Allah berfirman:

فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَىٰ مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ

Artinya: Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh”. (QS Ali Imran: 39).

Nabi Zakariya agak ragu akan datangnya keturunan ini. Sebab dia dan istrinya sudah tua renta. Tapi, karena sudah kehendak Allah, semua akan terjadi. Kun fayakun. Allah mengabarkan kepada Zakariya tanda-tanda bahwa istrinya akan segera hamil. Yaitu, tiba-tiba saja selama tiga hari tiga malam, Nabi Zakariya tidak bisa bicara. Lidahnya keras dan kaku. Kepada kaumnya hanya bisa memberikan arahan dengan isyarat tangan saja, untuk berdzikir dan bertasbih pagi dan petang.

Begitulah kebesaran Allah hadir kepada lingkaran keluarga Imran. Maryam memiliki seorang sepupu yang Nabi dari pamannya yang juga seorang nabi, yang sudah sangat tua. Kemudian Allah melengkapi keMahamulian dan keMahakuasaanNya kepada keluarga Imran. Allah mengirimkan malaikatNya kepada Maryam, mengabarkan bahwa dirinya akan hamil dan mempunyai seorang anak laki-laki yang mulia.

Maryam sangat kaget dengan kabar malaikat ini. Bagaimana mungkin dia punya anak, sedangkan dia tidak punya suami, dan dia selama ini suci bersih terpelihara di dalam mihrab baitul maqdis, dan dia tidak pernah melacurkan diri. Akan tetapi Malaikat menyampaikan jawabannya langsung dari Allah SWT:

قَالَتْ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ ۖ قَالَ كَذَٰلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Artinya: “Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun”. Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia.” (QS Ali Imran: 47).

Kemudian Allah mengutus satu Malaikat datang kepada Maryam, dalam bentuk cahaya. Malaikat tersebut menunaikan perintah Allah, meniupkan ruhNya dan kalimatNya ke dalam tubuh Maryam. Kemudian malaikat tersebut menghilang. Dan Maryam mendapatkan dirinya sudah dalam keadaan hamil sementara dia masih gadis.

Allah sudah mentaqdirkan mukjizat dan kekuasaannya terjadi. Maryam manjadi wanita pilihan dari sekalian wanita di dunia. Dari perutnya lahir seorang Nabi tanpa ada suaminya. Nabi yang langsung berbicara semenjak lahir. Nabi terakhir bani Israil. Nabi belum diwafatkan Allah sampai saat ini. Melainkan di angkat ke langit. Dan nanti akan turun ke bumi sebagai salah satu tanda datangnya hari kiamat.

*Pelajaran*

1. Allah memiliki hamba-hamba yang mulia, dari kalangan Nabi dan Rasul dan orang-orang shaleh. Kemulian yang diperoleh dengan keimanan, keikhlasan, ketulusan dan ketundukan kepadaNya.
2. Bila Allah sudah berkehendak atas sesuatu, maka Dia akan berkata “jadilah” maka “jadilah” kehendakNya itu, walaupun kadang tidak masuk akal.
3. Setiap orang tua hendaklah tulus mendoakan kebaikan anak keturunannya, perlindungan Allah bagi mereka dari segala gangguan syetan, semenjak menjelang hamil, sampai lahir dan tumbuh di dunia.
4. Bunda Maryam adalah seorang manusia biasa yang dimuliakan Allah. Ia bukan Tuhan, atau istri Tuhan. Nabi Isa adalah seorang manusia biasa yang dimuliakan Allah. Dia bukan Tuhan yang disembah atau anak Tuhan. Allah tidak beranak, tidak beristri, dan tidak diperanakkan.
5. Umat Islam mengimani seluruh Nabi dan Rasul yang pernah diberi wahyu atau diutus Allah, termasuk mengimani Nabi Isa. Tapi yahudi dan nashrani, tersesat karena tidak beriman kepada Nabi dan Rasul yang terakhir.

Wallahu A’laa wa A’lam.

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Loading the player...

ig: @sippfm

PROGRAM

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional