Menu

Kisah dan Ibrah 4: Uzair; Hidup Kembali Setelah Mati

  Dibaca : 31 kali
Kisah dan Ibrah 4: Uzair; Hidup Kembali Setelah Mati

Oleh: Ustadz H. Irsyad Syafar, Lc. M.Ed

Mungkin masih banyak kaum muslimin yang belum betul-betul yakin bahwa Allah itu Maha Berkuasa untuk menghidupkan dan mematikan. Keyakinan yang mendalam yang tidak ada keraguan lagi. Bukan sekedar pemikiran menyimpang ala raja Namruth. Ia mengaku bisa menghidupkan dan mematikan. Ia panggil dua tawanan dari penjara, lalu salah satunya dibebaskan dari hukuman, sedangkan yang satu lagi dijatuhi hukuman mati. Lalu Namruth mengaku telah menghidupkan dan mematikan.

Bukan logika bodoh tersebut yang dimaksud menghidupkan. Melainkan, membuat makhlukNya yang sudah mati, yang sudah tulang-belulang, tak ada berdaging lagi, bahkan tulangnya sudah menjadi serpihan, kemudian tumbuh, menyatu dan hidup kembali. Ini yang dimaksudkan menghidupkan kembali.

Berikut adalah kisah nyata, bagaimana seorang anak manusia merasakan dan juga menyaksikan hidup kembali setelah mati. Dialah seorang lelaki shaleh dari bani Israil bernama ‘Uzair.

Ketika suku kafir Amalliq berhasil menguasai palestina, pasukan mereka yang dipimpin oleh Raja Bukhtanshar, membantai para ulama Yahudi dan pemuka-pemukanya serta banyak manusia lainnya. Satu kampung di palestina mereka hancurkan sehancur-hancurnya. Namun ada satu orang yang selamat yaitunya ‘Uzair.

‘Uzair berhasil masuk ke kampungnya. Namun ia mendapatinya dalam keadaan hancur dan rusak parah. Semua penduduk kampung mati terbunuh. ‘Uzair sangat bersedih dan menangisi semua yang telah mati. Termasuk para ulama yang dahulu mengajarkan taurat bagi kaum yahudi. Allah menceritakan dalam FirmanNya:

أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَىٰ قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىٰ يُحْيِي هَٰذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا…

Artinya: “Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” (QS Al Baqarah: 259).

‘Uzair menjadi ragu, bagaimana kampung yang sudah mati dan hancur ini akan bisa hidup dan bangkit kembali? Apakah Allah mampu untuk menghidupkan kembali yang sudah mati?. Padahal kampung itu sebelumnya penuh kehidupan dan gedung-gedung. Sekarang sudah hancur dan sepi manusia. Itulah pertanyaan yang bergelayut di benak ‘Uzair.

Maka ketika itu Allah menunjukkan kekuasaanNya. Allah SWT tidak sekedar mengabarkan bagaimana cara menghidupkan yang mati saja. Bahkan Allah jadikan ‘Uzair merasakan dan menyaksikan sendiri prosesnya mati dan hidup kembali itu.

فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ ۖ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۖ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۖ قَالَ بَلْ لَبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ.

Artinya: “Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari”. Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya.” (QS Al Baqarah: 259).

Allah mematikan ‘Uzair pada awal siang selama 100 tahun. Kemudin dihidupkan kembali diakhir siang setelah 100 tahun. Sehingga ‘Uzair mengira dia hanya tidur (wafat) sehari atau separonya saja. Bahkan Ibnu Katsir menyatakan bahwa ‘Uzair dihidupkan kembali secara bertahap. Pertama kali yang dihidupkan adalah matanya. Sehingga dia melihat bagaimana proses tubuhnya hidup kembali semuanya.

“Ketika ia telah hidup sempurna, maka Allah Ta’ala melalui malaikat-Nya bertanya: kam labits-ta? qaala labits-tu yauman au ba’dla yaumin (“’Berapa lama kamu tinggal di sini?’” Ia menjawab: ‘Aku telah tinggal di sini satu hari atau setengah hari.’”) Yang demikian itu disebabkan kematiannya terjadi pada permulaan siang hari, kemudian Allah Ta’ala membangkitkan orang itu setelah seratus tahun pada akhir siang. Ketika ia melihat matahari masih bersinar, ia menyangkanya sebagai matahari pada hari yang sama, sehingga ia mengatakan: au ba’dla yaumin (“Atau setengah hari.”)”. (Tafsir Ibnu Katsir).

Begitu juga keledai yang menjadi tunggangannya. Juga dimatikan oleh Allah, lalu dihidupkan kembali dihadapan ‘Uzair. As-Suddi dan ulama lainnya mengatakan: “Tulang belulang keledai itu berserakan di sekitarnya, baik di sebelah kanan maupun di sebelah kirinya. Kemudian ia pun memperhatikan tulang-tulang itu yang tampak jelas karena putihnya. Selanjutnya Allah Ta’ala mengirimkan angin untuk mengumpulkan kembali tulang belulang tersebut dari segala tempat. Setelah itu, Dia menyusun setiap tulang pada tempatnya hingga menjadi seekor keledai yang berdiri dengan tulang tanpa daging. Selanjutnya Allah Ta’ala membungkusnya dengan daging, urat, pembuluh darah, dan kulit. Kemudian Dia mengutus malaikat untuk meniupkan ruh melalui kedua lubang hidung keledainya. Lalu dengan izin Allah swt. keledai itu bersuara. Semua peristiwa itu disaksikan oleh ‘Uzair.

Disamping itu, ‘Uzair waktu itu juga membawa makanan perbekalannya. Ada anggur, buah tin dan minumannya. Tapi semua makanan dan minuman tersebut tidak ada yang basi atau rusak sama sekali. Semua dikembalikan Allah dalam keadaan segar bugar setelah 100 tahun. Allah melukiskannya dalam firmanNya:

فَانْظُرْ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۖ وَانْظُرْ إِلَىٰ حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِلنَّاسِ ۖ وَانْظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا.

Artinya: “Maka lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi beubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging”. (QS Al Baqarah: 259).

Sungguh sebuah peristiwa dan pemandangan yang sangat menakjubkan dilihat oleh ‘Uzair. Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Hanya hati yang beriman saja yang bisa menerimanya. Maka, seketika itu juga sadarlah ‘Uzair akan keMahabenaran Allah, yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan.

فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

Artinya: “Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS Al Baqarah: 259).

*Pelajaran*

1. Allah Maha berkuasa menciptakan makhluknya dari tidak ada menjadi ada. Apalagi kalau sekedar mengulangi penciptaan yang pernah ada, maka akan sangat mudah bagiNya.
2. Hari berbangkit dan selanjutnya hari pembalasan pasti ada dan akan terjadi. Kehidupan takkan berakhir dengan kematian dan kiamat. Ada kelanjutan hidup akhirat yang abadi.
3. Menghidupkan kembali yang mati, sudah pernah Allah perlihatkan kepada Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, Ashaabul kahf dan lelaki shaleh ‘Uzair.
4. Beruntunglah manusia-manusia yang Allah perlihatkan keajaiban kekuasaanNya, lalu dia bertambah imannya, bertambah pula ibadah dan amal shalehnya.
5. Merugilah orang-orang yang pernah menyaksikan keajaiban kekuasaan Allah atau mengalami peristiwa luar biasa dalam hidupnya, tapi tidak juga tersentuh hatinya, tidak juga bertambah imannya dan tidak pula bertaubat dari dosa dan kesalahannya.

Wallahu A’laa wa A’lam.

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Loading the player...

ig: @sippfm

PROGRAM

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional