Menu

Kisah dan Ibrah 1: Sapi Betina dan Kaum yang Nyinyir

  Dibaca : 92 kali
Kisah dan Ibrah 1: Sapi Betina dan Kaum yang Nyinyir

Oleh: Ustadz H. Irsyad Syafar, Lc. M.Ed

Dahulu kala di zaman Nabi Musa as, hiduplah seorang hartawan yang kaya raya. Kekayaannya melimpah ruah tidak terkira. Namun ia tidak punya anak keturunan yang akan mewarisi kekayaannya. Ahli waris yang ada hanyalah para kerabatnya.

Salah seorang pemuda dari kerabatnya sangat menginginkan harta yang banyak tersebut. Imam Ibnu Jarir Ath Thabary menukilkan dalam tafsirnya tiga versi riyawat tentang pemuda ini. Ada yang mengatakan dia salah seorang kerabatnya atau walinya. Ada riwayat menyebutkan pemuda tersebut adalah anak laki-laki dari saudara hartawan tersebut. Riwayat ketiga menyebutkan ia seorang pemuda miskin yang melamar anak gadis hartawan tersebut. Tapi lamarannya ditolak.

Pemuda ini tidak sabar lagi untuk segera mendapatkan harta warisannya. Sekaligus mendapat uang diyat (pengganti) kematian hartawan itu. Karenanya, diam-diam ia merancang pembunuhan hartawan tersebut. Sekira-kira yang tertuduh nantinya adalah orang lain.

Pada suatu malam ia eksekusi pembunuhan tersebut. Kemudian mayatnya ia letakkan di depan sebuah rumah di desa (kabilah) yang lain. Sehingga penduduk desa itu akan menjadi tertuduh. Paling tidak, mereka bersama harus membayar diyat karena mayatnya berada di kampung mereka.

Keesokan harinya pemuda tersebut pura-pura mencari kerabatnya yang kaya raya itu, karena sudah hilang di desanya. Sampailah ia di lokasi mayat di desa tetangga. Terjadilah keributan karena penduduk desa tersebut menjadi tertuduh. Dan si pembunuh yang berpura-pura kehilangan kerabatnya itu, menuntut pembayaran diyat (ganti) atas kematian kerabatnya.

Akhirnya keributan itu berhenti setelah ada yang mengusulkan agar melaporkan kasus ini kepada Nabi Musa. Sekaligus meminta petunjuk untuk menyingkap siapa gerangan pembunuh sebenarnya.

Maka Nabi Musa ketika itu memohon petunjuk kepada Allah. Agar diberitahu siapa sebenarnya pembunuh lelaki kaya tersebut. Ternyata Allah tidak langsung memberikan jawaban. Allah malah memberikan pelajaran berharga kepada mereka (bani Israil).

Allah memerintahkan mereka untuk menyembelih seekor sapi. Mendengar perintah yang terkesan aneh ini, watak asli bani Israil ini muncul. Yaitu watak pembangkang, tidak patuh dan percaya (tsiqah) kepada Allah. Apalagi kepada NabiNya.

Respon awal mereka langsung melecehkan Nabi Musa. Seolah-olah yang berbicara kepada mereka bukanlah seorang Nabi. “Wahai Musa, apakah engkau jadikan kami sebagai bahan olok-olokkan?” Kata mereka kepada Nabi Musa.

Karena tidak ingin berdebat panjang dengan mereka, Nabi Musa langsung menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar aku tidak menjadi orang-orang yang bodoh”.

Sebuah jawaban yang sangat tegas lagi serius dari seorang Nabi, agar kaumnya tersadar bahwa titah Nabi itu tidak main-main. Dan bahwa titah Nabi itu datang dari Allah Yang Maha Tahu lagi Bijaksana.

Seharusnya bani Israil ketika itu harus langsung sadar dan mengeksekusi perintah dari Nabi mereka, untuk menyembelih seekor sapi. Tapi karena watak pembangkang, suka ngeles dan cari-cari alasan sudah terlanjur mengakar dalam diri mereka, justru mereka berkelit kembali.

Mereka bertanya, “Tolong tanya kepada Tuhanmu, agar Dia jelaskan kepada kami tentang sapi tersebut?”. Sebuah pertanyaan yang menohok dan sangat kurang ajar. Mereka mengatakan kepada Nabi Musa “Tuhanmu”. Seolah-olah Tuhan Nabi Musa bukan tuhan mereka. Dan seolah-olah mereka belum beriman kepada Allah, Tuhannya Nabi Musa.

Akan tetapi Nabi Musa tidak mau terseret dengan penyimpangan kaumnya. Beliau memberi jawaban yang tegas dan jelas. “Sapi yang dimaksud adalah sapi yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Pertengahan antara keduanya. Maka, laksanakanlah perintah Allah kepada kalian ini”.

Jawaban ini sebenarnya sudah sangat jelas, tegas dan mudah dipahami untuk dilaksanakan. Bahkan dilengkapi dengan ungkapan “laksanakan” perintah Allah kepada kalian. Intruksi yang sangat gamblang. Mereka sudah bisa menyembelih sapi apapun yang penting pertengahan. Sehingga melepaskan kewajiban dan terbebas dari kerumitan serta keruwetan.

Akan tetapi, dasar bani Israil tetap bani Israil. Terlalu sering mereka “mbalelo” terhadap Nabi dan Rasul Allah. Mereka bertanya lagi, “Tanyakan kepada Tuhanmu, tolong jelaskan, sapi itu apa warnanya?”. Sekali lagi mereka tak menganggap Tuhan Nabi Musa sebagai tuhan mereka.

Maka, tidak dapat tidak, permintaan ini mengakibatkan jawaban yang rinci. Allah memberikan jawaban: “Sapinya adalah sapi betina yang berwarna kuning, tua warnanya, yang menyenangkan orang yang memandangnya.”

Rincian kriteria sapi ini telah membuat mereka menjadi sangat sulit dan susah. Apalagi dengan tambahan kriteria “menyenangkan” orang yang melihatnya. Tentulah sapinya sangat sehat, tidak ada cacat, tidak kurus, berisi lagi kekar dan “tongkrongannya” meyakinkan.

Sampai disini harusnya sudah langsung mereka eksekusi. Tapi lagi-lagi perangai buruk bani Israil ini menjadi-jadi. Mereka persulit diri mereka sendiri, maka Allah lebih mempersulit. Mereka cari-cari dalih untuk bertanya lagi: “Kriteria sapi itu masih belum jelas bagi kami, tolong tanyakan kepada Tuhanmu, agar Dia jelaskan seperti apa sapi tersebut?” Lalu mereka hibur diri mereka dengan harapan: “Mudah-mudahan kami mendapat petunjuk.”

Jawaban Allah berikutnya tentu akan semakin mempersulit dan menambah beban mereka. Sebab, kriterianya semakin bertambah. Allah menjelaskan: “Sapi betina tersebut adalah sapi yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak untuk mengairi ladang, sehat dan tanpa belang sama sekali.”

Setelah semua rincian yang sangat datail dan rumit ini, barulah bani Israil mengaku, “Sekarang, barulah engkau terangkan dengan benar.” Seolah-olah jawaban-jawaban sebelumnya bukanlah sebuah kebenaran.

Akibatnya, mereka sangat susah menemukan sapi betina dengan kriteria yang sangat sempurna. Dan ketika mereka temukan sapi tersebut, harganya sangatlah mahal. Sapi tersebut milik seorang anak yatim yang shaleh. Imam As Suddi menyebutkan bahwa sapi itu harus mereka beli dengan harga emas seberat 10 kali lipat berat sapi tersebut.

Itu sebagai akibat (hukuman) atas pembangkangan dan “nyinyirnya” kepada perintah Allah dan Nabinya. Akhirnya mereka bisa menyembelih sapi yang disyaratkan Allah. Kemudian Nabi Musa mengambil sebagian daging sapi tersebut, lalu memukulkannya ke jasad mayat yang terbaring.

Dengan izin Allah mayat itu hidup kembali. Ia bangkit dan berkata, “Orang itu yang membunuhku.” Ujarnya sambil menunjuk ke pemuda tadi. Kemudian ia pun kembali mati seketika.

Maka terungkaplah pelaku pembunuhan yang sebenarnya. Dan terbebaslah penduduk desa lain dari tuduhan dan denda. Kejadian ini menjadi bukti kekuasaan Allah Yang mampu menghidupkan dan mematikan, dengan cara yang Dia kehendaki. Sekaligus peristiwa itu menjadi mukjizat Nabi Musa. Allah mengabadikan kisah ini dalam QS Al Baqarah: 67-73.

*Pelajaran*

1. Allah sangat berkuasa untuk menghidupkan dan mematikan makhlukNya.
2. Allah sangat berkuasa untuk memunculkan semua yang disembunyikan oleh makhlukNya, tidak ada yang rahasia dalam ilmuNya.
3. Membangkang kepada perintah Allah dan RasulNya, tidak percaya kepada ajaranNya, hanya akan mendatangkan kehinaan dan malapetaka di dunia dan di akhirat.
4. Cinta dan tamak dengan dunia akan menjerumuskan manusia ke dosa-dosa yang tak berakhir, kecuali dengan kematian.
5. Membangkang, banyak tanya yang tidak perlu, banyak alasan, tidak sopan kepada Nabi dan Rasul, adalah watak bani Israil yang sangat tercela.

Wallahu A’laa wa A’lam.

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Loading the player...

PROGRAM

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional